KARIR ATAU KELUARGA (part 2)

Evolusi dalam dunia kerja sudah semakin significant. Banyak posisi dan jabatan professional dipegang oleh wanita, dari tingkat klerikal sampai tingkat manajerial dan pengambil keputusan, dominasi wanita sudah masuk dalam hal yang bisa diperhitungkan.

Bahwa wanita hanyalah seorang follower, tiyang wingking, atau second person adalah sebuah anggapan yang sudah ketinggalan jaman, terlepas dari dilema tersendiri yang harus dihadapi oleh wanita bekerja.
– Kekuatiran akan tumbuh kembang anak karena terbatasnya waktu, sehingga banyak moment-moment penting yang terlewatkan bersama dengan perubahan dalam kehidupan pertumbuhan si kecil
– Merelakan sang buah hati di bawah asuhan orang lain sepanjang hari, entah itu orang tua/keluarga, Day Care, baby sitter juga Mbak di rumah. Urusan proses belajar anakpun, terserah apa kata guru les. Tak jarang anak lebih dekat dan merasa nyaman bersama sang pengasuh dibanding dengan ibunya sendiri. Menyedihkan memang!
– Feeling guilty sang bunda membuat timbulnya perlakukan ‘spoiling the kids’ dengan cara menuruti semua keinginannya saat ada waktu bersama dengan anak. Ini tentu akan menimbulkan dampak tersendiri pula pada karakter dan mental anak
– Family quality time yang sangat terbatas. Yang terjadi (harus jujur), keluarga sering terkalahkan ketika dead line pekerjaan sudah mendesak. Sekali lagi, tidak ada super mom yang bisa 100 % memberikan porsi yang sama secara optimal, antara keluarga dan pekerjaan
– Pasrah dengan keadaan rumah yang (mungkin) tertata sesuai dengan ‘selera dan kemampuan’ si Mbak, atau malah ada yang tutup mata dan acuh saja dengan kondisi rumah yang berantakan. Toh rumah hanya sebagai tempat untuk tidur saja, bagi yang berangkat pagi dan pulang malam.
– Mereka yang tidak memiliki helper di rumah, harus berani menjadi double task Mom. Begitu menginjakkan kaki di rumah, celemek dapur harus segera diraih, untuk melapisi baju kantornya, karena masak, membersihkan rumah sampai cuci gosok adalah tugas utama yang tak mungkin di abaikan

Dengan bekerja dan berkarir, seorang wanita mempunyai kesempatan untuk :
– Mengaplikasikan disiplin ilmu yang dia perolah semasa sekolah/kuliah pada bidang yang dia inginkan atau passion yang dia miliki. “Masak sih, sudah sekolah mahal-mahal, sampai luar negeri segala, kok malah larinya ngurusi dapur!”, komentar beberapa teman (sekerja)
– Mewujudkan aktualisasi diri sebagai seorang pribadi. Banyak wanita karir yang sebenarnya bukan karena mengejar uang semata. It is not all about money. – ya walaupun tak dipungkir ada istilah “money talks”-. Baginya pekerjaan bagaikan wadah aktualisasi diri. Ada kepuasan tersendiri ketika tanggung jawab itu berhasil diselesaikan dengan baik dan bermanfaat bagi banyak orang.
– Bersosialisasi dengan berbagai macam komunitas. Dapat dipastikan, ada banyak type dan karakter manusia yang ditemui di tempat kerja, yang menantangnya untuk bisa beradaptasi menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada.
– Mengeksplor potensi-potensi baru dalam dirinya. Dengan bekerja, dia akan belajar banyak hal baru dan tak jarang bisa merupakan step up stone untuk kesuksesannya di kemudian hari
– Meningkatkan wawasan dengan mengikuti informasi-informasi ter-update. Jaman bergerak semakin cepat dan perubahan selalu terjadi setiap saat. Bertemu dengan banyak orang di luar rumah akan membuat cara pikir dan pandang seorang wanita lebih maju, tidak ketinggalan jaman
– Dan….memiliki income (sendiri) yang akan mempertajamkan kepercayaan dirinya. Kalau mau diambil sisi positifnya, dengan bekerja, wanita jadi tahu bagaimana susahnya mencari uang, sehingga tidak konsumtif dalam membelanjakan uangnya. Walaupun memang, banyak yang malah sebaliknya, “Uang-uang gua sendiri, terserah gua mau diapain. Kebutuhan keluarga adalah urusan suami untuk mencukupinya”

Dengan banyaknya kesempatan lapangan pekerjaan bagi kaum wanita, maka tidak menutup kemungkinan bahwa banyak pasangan professional dimana sang istri memiliki karir yang lebih tinggi dari suami, termasuk juga income yang lebih besar, tentunya.

Sekilas keadaan seperti ini seperti hal yang biasa saja, tapi pada kenyataannya banyak pertengkaran terjadi yang bisa mengarah pada perceraian, gara-gara gaji istri lebih besar dari suami. Istri merasa lebih berkuasa, karena dia tulang punggung keluarga (bukan tulang rusuk), suami menjadi ‘minder’, atau malah bisa berulah yang aneh-aneh untuk menutupi kelemahannya.

Urusan uang memang merupakan hal yang sensitive, tapi kenapa tidak berusaha untuk kembali pada komitmen awal saat janji nikah diucapkan dulu?. Siapapun yang bekerja, entah suami atau istri, tentu itu dilakukan untuk kepentingan dan kesejahteraan keluarga bukan?. Jadi seharusnya tidak ada kalimat yang berbunyi:”Ini uang istri, itu uang suami”. Karena suami istri adalah satu team untuk meraih kebahagiaan bersama.

Setinggi apapun karir seorang wanita/ibu, tetap perlu disadari bahwa posisi dia di kantor akan jauh berbeda dengan tanggung jawabnya di rumah. Di tempat kerja, mungkin dia seorang pucuk pimpinan dengan puluhan atau bahkan ratusan anak buah, tapi di rumah dia adalah seorang istri yang berkewajiban menghormati dan tunduk pada suami dalam segala sesuatu, serta…. merawat anak-anaknya.

Jika suami istri sama-sama menyadari peran dan tanggung jawabnya sebagai pribadi yang dicipta sesuai dengan tatanan yang Tuhan rencanakan, yaitu…. suami adalah kepala keluarga dan imam yang harus mengasihi istrinya seperti dia mengasihi dirinya sendiri, sementara istri adalah penolong serta tiang doa yang harus menghargai suaminya, maka karir tidak lagi menjadi masalah bagi seorang wanita

Selamat berkarir dan berkarya, saudariku!!!
(coming soon – part 3)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: