Arsip | Uncategorized RSS feed for this section

WANITA …… (part 4)

19 Feb

“Ibu sih enak, punya suami yang baik dan sabar. Jadi tidak ada masalah buat Ibu untuk menghormati dia”, kata seorang ibu muda yang sedang curhat tentang suaminya.
Aku hanya bisa diam sambil menatap matanya dalam-dalam. Kubiarkan dia bercerita, menumpahkan uneg-uneg hatinya, agar dia lega. Kasihan dia, karena she has nobody to talk to.

“Suami saya itu..”,lanjutnya….”galaknya ga ketulungan, kata-katanya juga sering kasar, semua keinginannya harus dituruti dan didahulukan. Lalai sedikit…, ah sudah Bu…ga enak ngomongnya. Kalau ikutin emosi, saya sudah pingin pergi saja dari rumah. Tapi kasihan anak-anak, masih kecil-kecil”. Matanya mulai memerah dan suaranya juga tersendat-sendat. “Ssstt…inget ya…cerai bukanlah cara untuk lepas dari masalah”, kataku perlahan.

Aku terdiam lagi…bukan untuk membiarkan dia melanjutkan ceritanya, tapi aku speechless, tidak tahu harus berkomentar apa. Kebayang banget apa yang dia rasakan. Sebenarnya cerita serupa di atas, sudah sering aku dengar dari beberapa teman yang lain.

Dan…sekali lagi aku harus jujur, aku tidak punya clue khusus untuk memberi mereka jalan keluar. Ah…ini yang sering membuatku merasa sangat bersalah dan sedih. Mereka datang meminta nasehat dan aku hanya bisa jadi pendengar. “Saya melawan, bisa pecah perang di rumah, tapi kalau saya lemah di depan dia, malah di injak-injak”, kata seorang teman lain, di kesempatan yang lain.

Setelah dia (Ibu muda tadi) agak ‘reda’, entah dapat ide dari mana, tiba-tiba aku nyeletuk, bagaimana kalau kita mencoba berkompromi dengan diri sendiri, berkompromi dengan hati dan pikiran kita dulu. Susah!!! Ya..pasti, itu aku tahu.

Coba ambil waktu sedikit lebih banyak untuk berdiam diri. Kalau aku bilang ambil waktu untuk berdoa, rasanya kok klasik dan standard banget. Semua juga tahu kalau lagi sedang ada masalah kita harus berdoa. Yang aku maksud di sini memang berdoa , ya…tetap berdoa, tapi.. bukan doa dengan emosi tinggi, yang minta Tuhan buka jalan, minta Tuhan menyadarkan suami, minta Tuhan membebaskan kita dari beban batin dan lain lainnya, yang semuanya intinya minta Tuhan mengabulkan apa yang kita mau.

Tapi kita mau coba untuk mulai belajar menguasai diri dan menjadi tenang, supaya kita dapat berdoa dengan hati penuh kasih, karena kasih menutup banyak sekali dosa, kata salah satu Rasul Tuhan. Instead of memohon Tuhan mengubah karakter dan sifat kasar suami, kenapa tidak mencoba mulai dari diri kita sendiri.

Aku jadi ingat kalimat “Telur sama ayam lebih dulu yang mana?”. Apakah kita mau baik pada suami kalau suami sudah lebih dulu baik pada kita? Atau … kalau kita lebih dulu baik pada suami, apakah kira-kira dia akan jadi baik pada kita?.

Aku jadi ingat lagi statement suamiku, saat kami ikut retreat pasutri, yang dia sampaikan pada salah seorang moderator,”… dari dulu sampai sekarang dia selalu menuruti kemauan saya dan selalu menganggap saya sebagai kepala keluarga, dalam situasi apapun. Hal ini membuat saya, tidak akan memperlakukan yang tidak baik, seperti marah dll, tapi saya juga akan menghormati dan memperlakukan dia sebagai pendamping untuk selamanya…”.— Aku tidak mengada-ada, tapi itu yang aku alami. Bukan untuk kesombongan, karena tidak ada yang bisa buat aku sombongkan. Masih banyak pergumulan yang harus kuperjuangkan dalam pernikahan kami. Dan aku masih harus terus belajar…..

I just want to tell you the truth, kalau kita, para wanita, mau selalu berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri lebih dahulu, maka ‘atmosphere’ damai itu juga akan bisa dirasakan oleh seluruh keluarga.

Jadi…jangan pernah berhenti berharap ya Sis…karena Tuhan memberkati orang yang mengandalkan Tuhan dan yang menaruh harapannya pada Tuhan, dan ketika dalam kesesakan kita berseru kepada Tuhan, maka Tuhan akan menjawab dengan memberi kelegaan.

Yuk…kita mulai dulu untuk menenangkan diri supaya kita dapat berdoa dengan hati penuh kasih. Selanjutnya let God do His very best kindness for us. Amen

Iklan

UGLY DUCKLING finds BEAUTIFUL SWAN

3 Mei

“I’m so ugly” – “Kenapa sih aku ga sekeren dia?  – “Aku kok gak bisa apa-apa ya?” – “I’m useless”

====

Tersiksa sekali hidup ini bila kita selalu merasa bagaikan “ugly duckling” yang punya penampilan berbeda dari saudara-saudara dan teman-teman lainnya. Merasa diri jelek, bodoh, tidak hebat dan lain sebagainya. Terlebih lagi kalau lingkungan kita selalu mengeskpos kekurangan dan kelemahan kita. Kurang ini kurang itu, lemah di sini tak berguna di sana.

Lebih parah lagi if we have such low self esteem, kemudian menarik diri dari pergaulan karena beranggapan bahwa orang lain tidak suka berteman dengan kita. Feeling invisible, unimportant and downright unworthy of anyone’s attention.

Sepertinya kita akan bahagia bila menjadi orang cantik dengan gracious flowing hair, crystal shinny eyes, slender arms and legs and a body that is completely disability free. Perfect like a goddess that everybody admires her beauty. Akan lengkap lagi bahagia itu kalau kita juga disebut talented. “Wow.. great!!”

Guys, look at yourself. Is it true that your life is so miserable, no hope and no future? Pikiran itu akan memadamkan semangat kita. Bukannya berusaha bangkit, kita malah akan sering tenggelam untuk mengasihani diri sendiri. Bagaikan si “itik buruk rupa”.

Kalau melihat kisah perjalanan si“ugly duckling”, kita akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa persoalan sebenarnya adalah karena dia tidak mengenali dirinya sendiri. Dia bukan seekor itik tetapi lingkungan sudah mendoktrin mindset-nya bahwa dia adalah seekor itik yang harus lead his life as other ordinary ducklings. Akibatnya dia tidak pernah berkembang.

Hingga suatu hari ketika si“ugly dukling” sedang duduk merenungi nasibnya di pinggir danau, dia melihat ada “ducklings” lain yang juga berbeda dengan itik-itik yang biasa dia lihat sehari-hari. Yang membuat dia takjub, “ducklings” tersebut malah lebih serupa dengan dirinya. Tapi mengapa mereka bahagia, menari-nari tanpa beban di tengah danau dan mampu membuat danau itu tampak indah dan cantik karena keberadaannya.

My dear friends, Tuhan tidak pernah salah menciptakan kita. Dengan tanganNya sendiri Dia telah menenun setiap jaringan dan sel tubuh kita sejak kita masih ada dalam kandungan sang Bunda, untuk sebuah rencana indah. Tapi tetap pilihan itu ada di tangan kita.

Mungkin kita memang tidak setampan si A dan tidak sepopular si B, tapi let us try to point out hal-hal positif yang ada dalam diri kita. Dengan mensyukuri apa yang sudah Tuhan karuniakan pada kita, a beautiful swan will soon be dancing dalam danau kehidupan kita.

Jangan biarkan citra sejati diri kita terkungkung karena keadaan lingkungan, karena kita ingin menjadi seperti kata orang. Mulai temukan diri kita sendiri dengan mengeksplor dan mengembangkan semua potensi yang sebenarnya Tuhan sudah siapkan dari sebelum kita dilahirkan. Be yourself!!. Knowing without a doubt that imperfection (if any) will make us perfectly unique.

The world will see the shinning impact in you.

Hello world!

16 Jul

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!