Arsip | lady woman RSS feed for this section

NGOBROL SAMA TUHAN

21 Sep

Tuhan, kalau boleh hari ini aku ga berdoa dulu ya

Aku sedang capek…hatiku yang capek

Aku kalut, pingin marah, pingin menjerit, pingin nangis

Tapi itu tak mungkin aku lakukan, bukan?

 

Nah …. dalam keadaan begini, mana mungkin aku bisa berdoa?

Kalau lagi gunda, aku juga ga bisa menyanyi memuji Engkau

 

Jadi aku ijin dulu ya…ga berdoa !!!

============================================

Itu cerita seorang teman, yang katanya habis ngomong ke Tuhan, minta ijin untuk tidak berdoa dulu. “Aku sedang lelah batin”, katanya lebih lanjut

Sebenarnya aku prihatin terhadap urusan batin dia, tapi jujur, aku juga jadi pingin ngakak habis. Lucu banget teman aku yang satu ini. Tapi ya ga mungkin toh aku menertawakan dia.

Dibalik penampilannya yang lembut, sebenarnya dia adalah seorang wanita yang tangguh. Dia mandiri dan pekerja keras. Dia juga pribadi yang taat beribadah dan selalu berusaha menjalankan setiap kebenaran ajaran Tuhan. Tapi kali ini dia benar-benar terlihat beda. Dia seperti sedang gamang dan mencari-cari ‘pegangan’ agar dia tetap bisa ‘berdiri’. “Aku ga mau anak-anak melihat kesedihanku. Dan aku harus perang dengan batinku sendiri supaya aku tetap ceria di depan anak-anak”, katanya perlahan sambil terisak.

Akhirnya aku pegang tangan dia, aku tatap matanya yang terlihat kosong, seakan takut menghadapi hari esok. Sebagai sahabat, aku tahu persis apa yang membuat dia begitu gunda gulana. Kubiarkan dia menangis, untuk melepaskan rasa sesak di dadanya. “Boleh aku ngomong sekarang”, ujarku setelah kulihat dia mulai reda dan tenang

Sebenarnya waktu kamu ngomong ke Tuhan, minta ijin untuk tidak berdoa, itu kamu juga sedang berdoa. Dan saat itu, Tuhan sedang dekat sekali sama kamu, mendengarkan semua kata batin kamu yang menyebabkan kamu ‘lelah’. Dia adalah Tuhan yang peduli, sekecil apapun masalah kita, tidak akan pernah lepas dari pantauanNya, bahkan setiap helai rambut di kepala kita, masuk dalam hitunganNya, karena kita sangat berharga di mataNya

Doa bukan berarti kita harus menggunakan kata-kata indah dan bahasa baku dengan ejaan yang sangat sempurna. Doa adalah komunikasi yang kita jalin bersama Tuhan, seperti kita sedang berhadapan dengan seorang sahabat yang bisa kita andalkan. Sahabat yang bisa mendengarkan semua curahan hati, memberikan ketenangan jiwa sampai jalan keluar untuk setiap masalah yang kita hadapi

  • Ketika kita lagi senang, bilang aja,”Tuhan, aku senang banget loh hari ini dapat hadiah ulang tahun yang sudah lama aku rindukan, Makasih ya Tuhan” — Ini adalah doa syukur
  • Ketika kita lagi sakit, bilang aja,”Tuhan, badanku terasa sakit semua, kayak mau flu, tapi aku musti kerja, ya sudah aku kerja dulu ya Tuhan, nanti sore aku akan tidur lebih awal” — Ini adalah doa bersemangat, bukan mengeluh
  • Ketika sedang marah, bilang aja,”Tuhan, hari ini aku kesel banget, teman kantorku sudah nyakiti hati. Keterlaluan dia. Aku pingin banget bales, tapi Tuhan ga suka khan kalau aku balas kejahatan dengan yang jahat? Ah…aku harap besok sudah bisa baikan dan aku ga dendam sama dia” — Ini doa yang jujur
  • Ketika sedang sedih, bilang aja,”Tuhan, aku kok pingin nangis ya…”. Ini juga doa loh…nangis aja, maka kamu akan merasa lega
  • Ketika sedang lelah, bilang aja, “Lord, I need a break dari rutinitas ini…” Hehe…ini pamitan ke Tuhan kalau kita butuh me time. Ga masalah, Tuhan juga beristirahat di hari ke tujuh saat penciptaan dunia dan isinya
  • Ketika sedang……banyak lagi yang lainnya ketika suasana hati kita sedang……just name it dan bawa semua rasa hati itu untuk diobrolkan sama Tuhan. Bukan dengan para gossiper ya.

Jadi Sis, jangan ragu untuk selalu ngobrol (doa) dengan Tuhan ya, apapun keadaan kita, dan dimanapun kita berada. He is a good friend indeed.

Benar kata Mazmur Daud,”Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau!. Tidak selama-lamanya dibiarkanNya orang benar itu goyah”

“Ya..aku ga akan bosan ngobrol sama Tuhan”, kata sahabatku

Segala puji hanya bagi Dia saja. Amin!!!

 

Iklan

WANITA (part 8)

20 Agu

Sejak anak bungsunya masuk TK, dia harus bangun pagi-pagi benar untuk menyiapkan sarapan juga bekal sekolah si bungsu. 2 anak sebelumnya (dulu) semua dia serahkan ke baby sitter yang mengurus, tapi anak bungsunya ini beda, dia selalu minta Mummy yang siapin, tidak mau yang lain. Dan si Mummy tidak punya alasan untuk menolak, hehehe…mungkin karena anak bungsu ya?

Sebenarnya teman saya ini bukan type wanita rumah. Dia seorang wanita karir murni. Dia membantu usaha suaminya dan sudah biasa mengatur banyak karyawan juga buruh pabrik yang tidak sedikit jumlahnya. Tapi dengan tuntutan anaknya tadi, mau tidak mau dia harus belajar. Dia mulai browsing internet cara membuat sarapan pagi dan juga bekal anak sekolah yang praktis tapi sehat. Tanpa dia sadari, lama-lama dia mulai menikmati “tugas” barunya itu dan akhirnya dia menjadi mahir mengolah berbagai makanan (masakan). Bisa karena biasa, kata orang tua dulu. Benar juga ya…!!!

Hari gini gitu loh…, khususnya bagi ibu-ibu yang secara materi boleh dibilang ada, maka sudah dipastikan mereka mempunyai beberapa asisten rumah tangga, yang membantu semua urusan rumah tangga. Kebanyakan, keluarga muda pun, pada umumnya mempunyai seorang ‘Personal Assistant’ untuk meringankan pekerjaan di rumah, karena mereka (suami istri) harus sama-sama bekerja di luar. Jadi semua sudah serba enak. Beruntung para Ibu yang tinggal di Indonesia yang masih bisa meng-hire ‘personal assistant’, sesuai kebutuhan. Bahkan ada yang sampai 4 atau 5 orang dalam 1 keluarga. Tidak seperti mereka yang tinggal di luar negeri yang harus mengerjakan segala sesuatunya sendiri.

Teman saya di atas, sebenarnya termasuk Ibu dengan banyak PA (Persoanl Assistant), di rumahnya. Bagaimana tidak? 3 anaknya masing-masing mempunyai 1 orang PA untuk mendampingi, belum lagi yang bertugas untuk bagian umum rumah serta juru masak.  Temasuk juga sopir-sopir yang standby di rumah untuk mengantar anak-anak sekolah, les serta kegiatan lainnya.

Saya harus angkat topi buat teman yang satu ini. Dia pintar, dia cekatan. Ada banyak perubahan yang saya lihat sekarang di banding waktu kita masih sama-sama di bangku kuliah. Dari awal menikah sampai anak ke 2 lahir, dia tidak pernah menyentuh hal-hal yang berbau urusan rumah. Semua dia serahkan ke para “PA” nya tadi. Tapi makin ke sini, setelah anak bungsunya “memaksa” dia, …. dia benar-benar berubah!! Dia bangun sebelum ufuk pagi menampakkan senyumnya di batas cakrawala. Dia menyediakan makanan buat anak-anak dan suaminya. Lalu dia membagi-bagikan tugas kepada para “PA”nya

“Aku sangat menikmati hidupku sekarang”, ungkapnya tidak lama ini saat kita curi waktu untuk makan siang bersama. “Aku baru merasakan, inilah peranku yang sesungguhnya buat suami dan anak-anak, tanpa harus meninggalkan tugas awalku, membantu suami di kantor. Anak-anak sekarang makin dekat ke aku”, lanjutnya. Ya..tidak dapat dipungkiri bahwa ada banyak ibu yang sudah melupakan bahwa tugas Mbak/suster/asisten Rumah tangga adalah membantu, bukan mengambil alih fungsi Nyonya Rumah.

“Ah…you really inspired me a lot Sis”, kataku sambil memeluk dia ketika kami akan berpisah. Lain kali cerita lagi ya, bagaimana caranya membagi waktu, agar tugas di rumah dan di kantor bisa berjalan seimbang, dan masih punya waktu ‘me time’ pula, kayak hari ini!!. Buktinya dia selalu tampil rapi dan segar, walaupun tidak dengan make up yang tebal

Sekali lagi thank you so much untuk sharingnya yang cuma bisa saya tulis singkat di sini. Tidak ada kata terlambat untuk kita mau belajar dan berubah untuk menjalankan tugas serta tanggung jawab kita sebagai wanita, ibu dan istri.

I can do all things with God who strengthen me.

WANITA (part 7)

4 Jun

“Aku capek, Bu!”, katanya dengan suara lirih. “Sampai hari ini suamiku belum juga bekerja, setelah terkena PHK tahun lalu. Memang, untuk hidup kami masih bisa mengandalkan gajih dari saya,tapi kebutuhan hidup tiap tahun khan terus bertambah, belum lagi anak yang sebentar lagi sudah mau sekolah”.

“Tapi dia masih mau berusaha khan?, Dia bukan pria yang malas dan cuma mau bergantung pada istri khan?”, tanyaku ingin memastikan apa pendangannya terhadap suaminya yang sedang menganggur. Aku kenal betul dengan keluarga ini.

“Ya Bu, dia sebenarnya type pekerja keras, dia sering malu dan tidak enak pada saya, karena dia belum berhasil menjadi kepala keluarga sebagaimana mustinya. Saya sampai kasihan juga ke dia Bu. Tapi ya itu tadi, kayaknya jalan masih belum terbuka buat dia”.

Wanita….ya…wanita…sering kali ada peran tak terduga yang harus kita ‘mainkan’ dalam kehidupan keluarga.

  • Ada peran seperti seorang ratu di rumah, di kelilingi banyak asisten yang menyediakan semua kebutuhannya, mau pergi tinggal panggil driver, mobil mengkilat tersedia di garasi, mau belanja tinggal gesek, pelunasan tanggung jawab suami, hehehe….hidup tanpa beban.
  • Ada peran seorang putri yang fragile (rapuh) sehingga harus dilindungi dan diatur. Segala sesuatu tergantung suami, tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Ibaratnya seperti anak sekolah, pergi harus diantar, pulang harus dijemput
  • Ada peran bak guardian angel (pelindung). Semua keamanan dan kenyamanan dalam rumah berada di bawah kontrolnya. Semua kebutuhan keluarga sudah ada dalam listnya dan berjalan beres, selama ada dia
  • Ada peran sebagai panglima perang. Setiap ada masalah dalam keluarga, dia yang menghadapi karena selalu punya idea cemerlang untuk menyelesaikannya. Tak jarang dia juga terjun langsung ke ‘lapangan’ untuk segala macam urusan, dari RT, RW, Lurah, Camat dll
  • Ada peran pembantu, hahaha….semua pekerjaan rumah cuci gosok masak dia kerjai sendiri, boleh dibilang dari pagar depan sampai tembok belakang, dari genteng bocor sampai pipa merembes, dia bisa handle.
  • Ada peran pejuang, karena dialah yang berjuang demi kelangsungan hidup keluarganya. Dia harus bekerja mencari nafkah, sekaligus membereskan urusan rumah tangga. Seperti Ibu muda di atas tadi.

Masih banyak lagi sebenarnya peran-peran yang harus bisa dimainkan oleh wanita dalam kehidupan keluarganya. Tak heran timbul istilah bahwa wanita adalah mahkluk multitasking. Jadi sebenarnya, sadar atau tidak, benar atau tidak, mau atau tidak, setiap kita -wanita- sudah dan memang selalu, harus bisa memainkan semua peran di atas, sesuai keadaan dan kebutuhan.

Sampai ada satu ‘quote’ yang mengibaratkan bahwa “wanita itu serupa dengan kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya”. Wow…so amazing!!!. Coba, apa yang tidak dimiliki oleh seorang saudagar? — semua punya. Dia tidak akan pernah kekurangan makanan di dalam kapal-kapalnya

Dear sista, itulah kita para wanita, para istri dan para ibu – ibarat saudagar kaya yang punya segala sesuatu. Ya … segala sesuatu yang bisa kita berikan buat keluarga kita. Tidak perlu harus sekolah tinggi untuk menjadi istri yang handal me-manage rumah tangganya. Tidak perlu ibu yang lulusan S3 untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya sampai menjadi ‘orang’ berhasil.

Yang dibutuhkan hanya peran kita…ya peran kita, bagaimana kita memainkan peran itu di tengah keluarga. Ketika kita bermain apik dan benar, bahagialah keluarga kita, tapi ketika kita tidak memainkan peran sesuai arahan sutradara yaitu sang Khalik itu sendiri, maka berantakanlah seluruh kisah keluarga kita.

Haa…baru aku sadar, betapa pentingnya peran kita – wanita – ciptaan Tuhan yang sangat indah, terlihat lemah, rapuh dan tak berdaya, namun Tuhan sudah menjadikan dia sosok yang hebat, lengkap dengan perasaan yang halus tapi dengan intuisi yang kuat

What a blessing to be a woman. Semangat terus ya Sis….!!!

 

WANITA (part 6)

9 Mei

Aku kenal dia sebagai wanita yang tidak bisa diam. Ada saja yang ingin dia kerjakan. Aktifitas dia banyak sekali, kalau boleh kubilang. Usaha mini market yang dia kelola, praktis menyita waktunya dari pagi sampai malam, belum lagi kegiatan sosial yang sudah terjadwal penuh, tapi…dia masih bisa membagi waktu untuk keluarga. Urusan dapur dan meja makan selalu dia tangani sendiri. Semua keperluan suami, dia handle sendiri. Eh…masih sempat juga dia berkreasi dengan kain jarum dan benang, dari menjahit baju, membuat selimut perca, lap tangan lucu, atau apa saja deh. Memang aku tahu salah satu hobi dia, menjahit.

“Kamu ga capek?”, pernah aku tanya dia. “Hehehe…!”, dia geli dengan pertanyaanku. “Aku malah bingung kalau di suruh duduk diam, ga ngapa-ngapain”. — “Ya jujur, kadang aku capek juga”, sambungnya. Ya pastilah…usia sudah di atas kepala 5 gitu loh.., tapi aku bisa sangat-sangat mengerti dia. Sebagai wanita, selama kita masih diberi kesehatan dan bisa beraktifitas, kenapa kita harus diam dan merasa ‘tua’. Yang penting kita bisa mengatur diri sendiri, kapan harus beraktifitas dan kapan harus istirahat.

Jadi ingat cerita Raja Salomo. Salah satu kriteria seorang wanita yang cakap di jaman itu, adalah ‘ia (rajin) mencari bulu domba dan rami dan senang bekerja dengan tangannya’. Maka….pikiranku langsung mencari koneksitasnya dengan ‘ga bisa diamnya’ temanku ini, yang aku suka candain dia sebagai hiperaktif di usia senja. Hahaha….

Kalau orang mencari bulu domba (jaman itu), tentu untuk membuat mantel atau baju hangat, sementara rami, yang aku tahu bisa dipintal jadi kain atau tali. Dan wanita itu senang bekerja dengan tangannya (sendiri). Hmm…..mungkin aku boleh mengatakan (sekali lagi, tulisan ini untuk kita sama-sama belajar ya Sis), sepertinya memang sudah bawaan alami seorang wanita yang dengan senang hati kalau dia bisa menyiapkan sendiri semua kebutuhan keluarganya. Dia akan sangat bahagia dan bangga kalau bisa mencurahkan seluruh perhatian dan cintanya pada suami juga anak-anaknya, memberikan kehangatan kasih (bulu domba), dan menjadi pengikat antara anggota keluarga yang satu dengan yang lain (rami yang dipintal).

Dear sisters, kita adalah tiang doa dalam keluarga, kalau bukan kita yang mendukung mereka (Suami dan anak-anak), siapa lagi?. Masih banyak cerita klise, suami dan anak-anak merasa tidak diperhatikan dan tidak menerima kehangatan dari istri/ibu, sehingga harus mencarinya di luar rumah lewat pergaulan yang salah dan ‘obat’. Jaman now istilah ‘pelakor’ (perebut laki orang) sudah masuk dalam kosa kata baru.Waduh…saking sudah menjamurnya fenomena itu.

Memang tugas seorang istri/ibu tidaklah ringan, apalagi kalau dia juga harus bekerja di luar rumah, seakan-akan dia dituntut untuk berjaga selama 24 jam penuh demi keluarganya. Sampai temanku di atas pernah berkata,”Kalau saja aku punya 36 jam sehari….”. Hmmm….mimpi kali!!! ‘Urat lelah’ sepertinya tidak ada di fisik wanita….tapi—kita bisa capek juga khan? Nah, take time for “me time”. Boleh…tidak dosa kok hehehe….

Sebenarnya kunci utamanya hanya….bersama Dia, dengan selalu bersandar dan mohon kekuatan dariNya, kita, wanita, akan dimampukan untuk menjadi wanita cakap yang selalu menyalurkan kasih sayang serta perhatian dalam keluarga kita, sehingga suasana rumah atau saat berkumpul adalah moment yang selalu ditunggu oleh suami dan anak-anak.

Tetap semangat ya Sis, meskipun mungkin ada sedikit complaint, celaan, atau sedikit rewel-rewel yang kita terima, karena memang, sekuat apapun kita berjuang to be a super Mom, still we are not perfect in any way. Percayalah…Tuhan menilik hati kita. Tuhan memperhitungkan perjuangan kita, so…keep strong and be tough ya Sis. Tapi jangan minta tambah waktu 36 jam ya…gempor kita nanti hahahaha…..

 

IBUKU…..KARTINIKU

20 Apr

Bangku kuliah tak pernah dia rasakan, hanya sebatas lulus SMP. Itupun dia sudah bangga dan bersyukur. Keadaan ekonomi keluarga membuat dia tumbuh menjadi gadis yang tegar dan berani berjuang demi ‘hidup’. Apapun dia lakukan, asal halal, dan menghasilkan uang. Naluri business-nya terbentuk secara alami.

Setelah menikah, dia mencoba untuk berdagang kecil-kecilan. Dari beras, gula kopi dan lainnya yang merupakan kebutuhan rumah tangga. Lama-lama usahanya berkembang, menjadi toko sembako, dan berkembang lagi sebagai agen arang kayu sampai minyak tanah. Dia selalu bisa melihat peluang yang bisa dikerjakan…dan umumnya berhasil – sesuai dengan kapasitasnya.

Dia bukan orang yang bisa berbasa basi, mengatur kata sesuai dengan tata bahasa yang baik. Apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, langsung dia ucapkan tanpa di ‘olah’ dulu. Tak jarang kata-katanya membuat orang lain (yang belum kenal dekat) tersinggung. Tapi sebenarnya dia memiliki hati yang baik. Jiwa sosialnya tinggi. Tak segan-segan dia menolong orang lain, baik tenaga, waktu juga dana.

Dia mendidik anak-anaknya dengan keras, sangat keras kalau boleh ku bilang. “Jangan malas belajar, sekolah yang tinggi”, ujarnya dengan nada tinggi kalau melihat anak-anaknya rada ‘santai’. — “Ibu tidak bisa meninggali warisan harta, dengan sekolah tinggi, kalian akan hidup lebih baik”, kalimat itu selalu dia ucapkan buat anak-anaknya.

Dia tidak pernah memanjakan anak-anak-nya. Dia tidak pernah mendampingi anak-anaknya belajar. Ya bagaimana, lah wong pendidikan dia sendiri juga tidak menunjang. Maaf!. Tapi dia juga tidak (sanggup secara keuangan) membawa anak-anaknya ke tempat les untuk tambahan belajar. “Kalian harus berusaha sendiri, harus bisa, karena hidup adalah berjuang”.  Ya…dia memang sudah membuktikan bahwa dia berjuang untuk membesarkan anak-anaknya, terlebih setelah suami tercinta berpulang meninggalkan dia untuk selamanya.

Tak habis pikir aku meyaksikan itu. Teori pendidikan tak pernah dia kenal, ilmu dagang tak pernah dia pelajari, ilmu management apalagi, tapi dia bisa me-manage hidup keluarganya sedemikian rupa. Dia hanya berjalan dengan hati dan intuisinya sebagai seorang wanita, sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya. Perjuangannya tak kenal kata lelah, demi kebaikan dan kebahagiaan keluarga.

Dan benar…anak-anaknya semua berhasil menyelesaikan kuliahnya sampai tingkat sarjana. Semua dengan prestasi di atas rata-rata. Sekarang….mereka ada yang menjadi pengusaha dan ada juga yang bekerja sebagai professional sesuai bidangnya masing-masing. Dan yang membuatku kagum, dia juga berhasil mengarahkan anak-anaknya hidup dengan berpegang pada iman yang kuat.

Bagiku….emansipasi wanita seperti inilah yang waktu itu diperjuangkan oleh Ibu RA Kartini. Menjadi pribadi yang tidak hanya pasrah pada nasib, duduk diam sebagai tiyang wingking dan ‘berenang manja’ dalam kelemahan fisik seorang wanita.

Terlepas dari semua itu…..menurutku emansipasi bukan hanya sebatas kita sudah bebas berkarya dan berprofesi di luar rumah. Oleh perjuangan Ibu RA Kartini, kesempatan itu sudah makin lebih mudah dan terbuka lebar sekarang. Sampai-sampai tak jarang (maaf ya!) banyak kaumku yang lupa pada tanggung jawab dan kewajibannya sebagai istri dan ibu di keluarganya sendiri, saking asyiknya meniti karir. Emansipasi bukan pula berarti kita bebas menukar posisi dalam kehidupan nikah. Istri menjadi kepala keluarga dan suami selalu tut wuri handayani — ikut maunya istri saja.

Bagiku….emansipasi adalah bagaimana kita berperan sebagai wanita yang tahu menempatkan diri dalam keluarga dan masyarakat, dan mendedikasikan hidupnya sebagai sumber kekuatan yang dapat membawa generasi muda menjadi generasi penerus bangsa yang berintegritas. Menjadi seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dalam kebenaran, menurut jalan dan ketetapan yang sudah diberikan Tuhan.

Dialah Ibuku…Dialah Kartiniku

Selamat Hari Kartini!!!

WANITA (part 5)

11 Apr

“Gara-gara odol?—Kok bisa?”, awalnya aku heran dengan cerita seorang suami yang masih tergolong muda usia.

Setelah dia selesai bicara, baru aku paham. Ternyata dia dan istrinya mempunyai kebiasaan yang berbeda. Istrinya adalah seorang yang sangat detail dan melakukan segala sesuatu sesuai runutan dan aturan, sementara dia, adalah orang yang rada “slebor”, yang penting hasil akhirnya bener. Dan ini yang sering menjadi penyebab pertengkaran antara mereka berdua

Contohnya tadi itu…..odol!!! Sang istri selalu memencet odol dari bawah sehingga bentuk tube odol tetap rapi sampai habis, sementara suami, asal pencet, bisa dari atas, bawah, tengah, gimana dia suka saja. Alhasil bentuk tube bisa pleyat pleyot tak karuan. Ini yang bikin istri sewot. Hahaha…..lucu juga ya…bertengkar gara-gara beda cara mencet odol!!!!. Ya sih….kelihatannya lucu dan sepele…buat yang tidak mengalami…tapi ini bisa menjadi sumber cekcok yang akan merembet kemana-mana, untuk saling meng-high light kesalahan pasangan dan mem-point out keunggulan diri sendiri.

“Tapi sekarang semua sudah baik-baik khan?”, tanyaku ingin tahu, karena aku melihat pandangannya masih terlihat kosong begitu. “Itulah masalahnya…saya merasa semua yang saya lakukan akhir-akhir ini selalu salah di mata dia, dan sepertinya dia sudah tidak menghargai saya lagi”, suaranya makin terdengar pelan. “Apalagi income saya sekarang tidak sebagus dia”

Aku tahu kalau karir istrinya sedang naik daun. Sang istri baru saja dipromosikan sebagai Manager keuangan dengan fasilitas yang juga bertambah, sementara dia sendiri … usaha property-nya tidak lagi se ‘booming’ dulu. Jadi dia lebih banyak di rumah dan mengerjakan all “home task” yang tidak kepegang oleh istri, yang (bisa dimengerti) semakin sibuk sekarang.

Ah…aku tidak mau men – “jugde” si istri, karena mungkin aku akan mendengar versi yang lain kalau sang istri ada di sini dan bercerita apa yang dia rasakan. Aku juga seorang istri, yang masih aktif bekerja pula. Dan dari awal aku memang ingin mempersembahkan tulisanku ini buat diriku sendiri (Khan aku juga harus memotivasi diri sendiri toh!!); dan kaumku, para wanita bekerja, para istri termasuk juga Ibu rumah tangga, yang full time house wife, untuk kita sama-sama belajar menjalani hidup sebagai seorang wanita yang dapat menjadi berkat bagi keluarga kita sendiri, juga bagi banyak orang di luar sana.

Kalau seorang istri ditanya apakah dia baik kepada suaminya? Pasti kita akan dengar jawaban,”Tentu saja, buktinya aku menikah dengan dia dan sudah mendampingi dia sekian lama”. Tapi akankah kita tetap bisa menjaga ‘hati baik’ kita ketika sikap suami membuat kita kesal atau ketika suami sedang marah tanpa alasan yang jelas?. Bagaimana pula kalau uang belanja di’kurang’i atau suami sering pulang terlambat? Atau …. yang lebih parah lagi, kita mendengar gossip yang bukan-bukan tentang suami?. — Masih mampukah kita tersenyum manis dan menaikkan doa-doa berkat bagi suami?. Masih sanggupkah kita berbuat baik kepadanya dan tidak berbuat jahat (pada suami) seumur hidup kita? (Amsal 31 : 12).

Ah…praktek tidak seindah teori. Aku punya teman, dia sering melempar kunci pagar ke suami yang baru pulang, bukan karena sedang marah pada suami loh.., tapi hanya karena sedang asyik nonton Drakor (Drama Korea hehehe…) yang lagi seru. Dia hanya enggan membuka pintu pagar buat suami. Sementara ada teman lain lagi, yang dengan nada cuek bercerita kalau week end dia baru bangun pukul 11.00 dan membiarkan suami mengurus anak serta membereskan rumah. Alasannya dia capek sudah kerja selama week days, dan ingin istrihat. Loh…suami khan juga kerja, pikirku.

Lagi-lagi,.. ah….!! Cerita romantika rumah tangga memang unik dan tidak ada habisnya untuk dibicarakan. Menurut aku sih, pada dasarnya tidak ada istri yang berniat menjahati suaminya sendiri. Tapi ada satu “kejahatan” yang sering dilakukan istri, tanpa ia sendiri sadar…yaitu ketika dia menukar kedudukan/posisi suami istri dalam nikah yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Seorang Rasul Tuhan pernah berkata agar suami mengasihi istri seperti dirinya sendiri dan istri menghormati dan tunduk kepada suami dalam segala hal, seperti kepada Tuhan.

 Sekali lagi aku harus berkata; “Ah….!” Ini bukanlah hal mudah untuk dilakukan, apalagi kalau istri mempunyai penghasilan sendiri.Apalagi kalau income dia lebih tinggi dari suami. Apalagi (3 kali ‘apalagi’ hehehe…) istri adalah type wanita mandiri. Komplit!!! Ini bisa membuat istri merasa tidak perlu bergantung pada suami, dan bahkan cenderung meremehkan keberadaan suami. Dia akan menganggap dirinya berhak untuk mengambil segala keputusan tanpa harus berunding dengan suami. Hmm…maaf ya Sis, ini ibaratnya sebagai istri, dia sudah memenggal kepalanya sendiri.

Kita sama-sama belajar ya Sis, termasuk aku…. juga berjuang, untuk kita tahu memposisikan diri sebagai istri yang memperkenan hati Tuhan. God will help!!!

 

WANITA…… part 3

29 Jan

The real life of sebuah rumah tangga terjadi ketika sepasang sejoli itu sudah masuk dalam rutinitas keluarga. Dan banyak yang ter “loh…loh…!” Ter “kok…kok…!” Ter”ooo…ooo…!” –Ternyata suamiku/istriku orangnya gini toh!!!”, ketika mereka melihat bahwa kebiasaan, karakter dan cara berpikir yang ter…..nyata beda, tidak seperti saat masih pacaran dulu.

Berdasarkan cerita teman-teman yang suka curhat tentang masalah kehidupan mereka, dapat aku tarik kesimpulan (mungkin tidak 100% mewakili keadaan yang sebenarnya ya), bahwa  salah satu atau salah dua dst…pemicu dari pertengkaran dalam pernikahan adalah mis-understanding dalam komunikasi suami istri hingga menyebabkan hilangnya kepercayaan.

Sis…di sini kita belajar tentang kita ya…wanita.

Ada beberapa alasan, mengapa suami kehilangan kepercayaan pada istrinya :

  1. Istri tidak pernah bercerita jujur dan terbuka tentang masa lalunya. Ketika di kemudian hari suami mengetahui dari orang lain, maka apapun yang dilakukan sang istri akan menimbulkan kecurigaan suami.
  2. Istri sering melakukan kegiatan di luar rumah tanpa sepengetahuan suami, tidak minta ijin atau memberitahu. Tidak sedikit suami yang akhirnya kesal ketika mendapati istri tidak ada di rumah saat dia pulang kerja.
  3. Bagi istri yang bekerja, dan sering harus travelling untuk urusan kantor, tak jarang hal itu membuat hati suami cemas, apalagi kalau istri tidak memberitahu secara gamblang schedule perjalanan dan dengan siapa dia bepergian
  4. Karir istri yang terus menanjak hingga membuat istri asyik masyuk tenggelam dalam kenikmatan bekerja di luar rumah juga membuat suami was-was, atau cemburu tak beralasan, kuatir istrinya akan membanding-bandingkan dia dengan pria sukses lainnya. Yang ini banyak terjadi loh…..
  5. Istri suka ‘lapar mata’. Mudah belanja karena lihat barang bagus (ini relative ya), mudah membeli barang hanya karena lagi ada diskon/sale, padahal belum tentu barang yang dibeli itu benar-benar dibutuhkan.
  6. Istri hobby meng-koleksi barang-barang branded demi status sosial. Segala cara akan ditempuh untuk memiliki barang-barang tersebut, entah cicilan, entah gesek kartu kredit, entah mengambil jatah uang belanja bulanan, entah merengek pada suami…apapun itu. Kalau isi dompet suami tak berseri untuk mendanai hobby koleksi di atas, ya fine-fine saja. Toh penampilan keren istri juga akan menaikkan status sosial suami juga. Hehehe….  Lah tapi kalau tiap bulan sudah ada yang wajib di alokasikan dengan perhitungan yang tepat?…nah ini yang bikin suami takut membiarkan istri mengelolah keuangan keluarga.
  7. Dan masih ada lagi….dan lagi

Hallo my sista…. jadi intinya pria sangat mendambakan untuk mempunyai istri yang totally faithful kepada dia, menghormati dia sebagai kepala keluarga serta dapat mengatur keuangan keluarga dengan baik, seberapapun berkat yang Tuhan berikan.

“Hati suaminya percaya kepadanya. Suaminya tidak akan kekurangan keuntungan” — Kata Amsal 31 : 11

Dengan demikian, kalau hati suami tenang, tidak ada yang dikuatirkan, percaya sepenuhnya pada istri, maka dia akan legowo menjalankan tugas dan pekerjaannya tanpa ada perasaan cemas atau selalu berprasangka akan kesetiaan istrinya. Diapun bisa menjalankan ibadah yang berkenan di hadapan Tuhan karena melihat kehidupan iman istrinya yang kuat. Dengan ibadah yang benar maka iman suamipun akan terus bertumbuh dan…seiring dengan pertumbuhan rohani seseorang, maka dapat dipastikan bahwa pemeliharaan Tuhan akan selalu ada. Besar atau kecil itu relatif.

“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia”.

Karena…..Suaminya tidak akan kekurangan keuntungan….Amin