Arsip | family RSS feed for this section

GETTING OLDER…..SIAPA TAKUT!!!

28 Agu

“Saya sudah tua, sudah ga kuat ngapa-ngapain lagi”
“Ah kalau urusan tampil-tampil begitu biar yang muda-muda lah. Malu sudah tua….kita di belakang layar saja”
“Sudah…kalian pergi jalan-jalan sana, Papa/Mama di rumah saja. Repot ga bisa jalan cepet, sudah tua”
=========================================================
Tunggu…..kata tua — berpikir sudah tua, justru membuat seseorang menjadi merasa lemah, sudah tidak kuat lagi, sakit sini sakit sana, apalagi untuk orang-orang yang sudah memasuki usia senja.

Memang….kalau mau jujur, banyak kekuatiran yang dirasakan ketika usia terus beranjak ke angka yang lebih tinggi. Banyak orang kuatir membayangkan bagaimana nanti kalau sudah tua. Walaupun kita tahu bahwa menjadi tua adalah proses alam yang tidak bisa dihindari. Bertambah tua itu pasti,…jadi mengapa harus takut? Operasi plastik?.. hanya untuk merubah casing tapi dalamnya tetap. Tua ya tetap tua.

Hal-hal yang membuat orang kuatir menjadi tua :
• Fisik yang lemah.
Fisik, pasti tidak seprima saat muda dulu, betul!!! …. tapi jangan ini membuat kita mengasihani diri sendiri. Merasa menjadi orang yang tidak berguna. Atau sebaliknya menjadi manja, minta selalu diperhatikan. Jangan jadikan keadaan fisik kita itu penghalang untuk berbuat sesuatu yang berguna, bagi diri sendiri dan bagi orang lain.
Kalau kita bisa memposisikan diri sebagai orang tua yang bijaksana, maka keberadaan kita akan sangat dibutuhkan oleh anggota keluarga yang lain.

• Takut sendirian.
Anak-anak sudah besar, sudah punya kegiatan dan kesibukan sendiri. Bahkan ada juga yang sudah berumah tangga, sibuk dengan keluarganya masing-masing. Kita tidak bisa menuntut mereka untuk terus menerus menemani kita, sementara kita sebagai mahluk sosial akan selalu membutuhkan orang lain untuk berkomunikasi.
Lalu…..? Coba masuk dalam sebuah komunitas yang seusia dengan kita, komunitas keagamaan, komunitas sosial, komunitas dengan hobby yang sama. Apa saja yang bersifat positif. Bersama mereka kita bisa saling berbagi cerita, bercanda dan saling memberi semangat.

• Takut pikun
Kondisi ini memang sangat-sangat membuat para orang lansia, tidak nyaman. Stigma pikun dan pelupa, sering menyebabkan kita kehilangan kepercayaan diri, menjadi tidak yakin dengan apa yang kita kerjakan atau katakan.

Daripada kita duduk bengong, mikir yang mboten-mboten, kenapa tidak kita gunakan waktu untuk lebih memperdalam iman dengan memperbanyak membaca Kitab Suci kita masing-masing. Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya.
Tapi bagaimana kita bisa berhikmat (bijaksana) kalau tidak pernah belajar. Bagaimana kita bisa mengerti kalau tidak pernah membaca, ya … membaca kitab suci untuk bisa mengenal lebih dalam tentang Sang Khalik.
Ayub, seorang tokoh iman pernah berkata; “Biarlah yang sudah lanjut usianya berbicara, dan yang sudah banyak jumlah tahunnya memaparkan hikmat”.

So … what should we do now to make our golden age life happy?
– Selama kita masih bisa bernafas, jadikan keberadaan kita menyenangkan dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita, orang-orang yang mengasihi kita. Hidup adalah kesempatan,– kesempatan untuk berbuat kebajikan sebanyak mungkin selagi masih bisa.
– Selama kita masih bisa berbicara, mengapa tidak kita pakai untuk bercerita betapa besar kebaikan Tuhan, – pada generasi muda dan juga sesama lansia lainnya -. Sampaikan kata-kata positif yang menguatkan iman dan menginspirasi orang lain.
– Selama kita masih bisa berpikir, yuk kita pikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji; maka Tuhan sebagai sumber damai sejahtera akan menyertai kita.

My dear sahabat, setiap kita, berapapun umurnya, masih punya kesempatan dan potensi untuk berguna. Selama kita masih bisa berbuat sesuatu, just do it. Pandangan orang yang sering berkata bahwa di usia lanjut seseorang sudah seharusnya beristirahat, tanpa kegiatan, untuk menikmati hari tua, justru akan membuat kita drop dan malas bergerak. Nah ini bisa membuat kita depresi karena “nunggu waktu”

Akhirnya kita tahu bahwa usia lanjut bukanlah rintangan bagi kita untuk terus berbuat sesuatu bagi kemuliaan-Nya. Sendiri tidak membuat kita kesepian bila hati kita dipenuhi kasih-Nya. Banyak hal baik yang bisa kita lakukan bagi-Nya dan bagi sesama.
Amin.

Iklan

INDAH RENCANAMU, TUHAN.

17 Mei

“Sebenarnya aku ini anak siapa? Bagaimana ceritanya sehingga aku bisa terlahir di dunia ini? Apakah aku anak……. — Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba menggoda hatiku. Aku hanya mengenal “sejenak” laki-laki yang mereka bilang, itu ayahku. Sementara figure Bapak serta kasih sayang layaknya seorang ayah terhadap anaknya, tak pernah aku dapat darinya. Tak ada kenangan yang terekam dalam otakku, kapan dan dimana aku pernah bermain sepeda, liburan bersama atau duduk ngobrol dengan ayahku. Tidak pernah!!”. —– curahan hati anak muda ini membuat aku tercenung. Tak tahu aku harus menanggapi apa.

“Aku benci pada laki-laki yang sudah menghancurkan hidup ibuku”, lanjutnya…”Aku dendam pada orang, yang mereka bilang, dia ayahku. Aku kesal dengan saudara-saudara (tiri)ku, karena mereka mem-bully aku waktu aku masih kecil”. Ada nada sedih bercampur marah, ketika dia menceritakan kehidupannya.

Seperti sedang menonton film sinetron, aku mendengarkan cerita tentang keluarganya. Ah…aku tidak pernah menyangka itu benar-benar real dalam kehidupan nyata. Hampir aku tak percaya, ini benar-benar terjadi. Panjang dan tak sampai hati kalau aku harus menuliskannya di sini.
Kutatap matanya dalam-dalam, sembari berpikir keras, apa yang bisa aku sampaikan to appease and to soothe his mind and heart. Boleh saya bicara? Kataku lirih, agak ragu … karena tak tahu musti ngomong dari mana.

Kita memang tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi kita juga tidak boleh terus tenggelam dalam zona masa lalu. Masa lalu adalah materi yang bisa kita pelajari, untuk kita bangkit dari kegagalan, belajar tentang sebuah proses kehidupan. Jangan pernah mencoba menyalahkan siapapun juga. Pasrah…? Tidak juga. Kita harus melanjutkan perjalanan hidup, berjuang menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin dan esok lebih bermakna dari hari ini

“Tapi mengapa Tuhan menjadikan aku seperti ini?”, tanyanya. — Sebelum Tuhan membentuk kita dalam rahim ibu kita, Dia telah mengenal kita. Sebelum kita keluar dari kandungan ibu, Dia telah menguduskan kita. Dialah yang membentuk dan menenun kita dalam kandungan ibu kita. Dia mencipta kita dengan begitu detail, karena kita sangat berharga di mataNya

Itu sebabnya, jauhkan rasa menyesal ketika kita harus lahir di tengah keluarga yang (menurut kita) “tak jelas”, lahir dari ayah atau ibu yang tak berperan sebagaimana seharusnya orang tua. Siapa orang tua kita, bangsa, suku atau Negara dimana kita dilahirkan, itu adalah otoritas Tuhan. Mereka hanya mem-fasilitasi untuk kita terlahir di dunia ini, kalau boleh saya sampaikan. Yang pasti Dia selalu mempunyai rencana dan tujuan yang indah buat kita, tiap-tiap pribadi.

Tugas dan tanggung jawab kita adalah how to lead our lives in His way, menuruti dan menjalankan semua perintahNya, menjadi berguna bagi lingkungan sekitar lewat karya-karya terbaik kita, sekecil apapun itu. Jangan mudah menyerah dan putus asa. Jangan menunggu keadaan yang berubah untuk kita, tapi kitalah yang harus berubah untuk mengubah keadaan. Positive mind will go to positive action and positive action will give you positive reward.

“Akankah aku mengalami nasib yang sama seperti para pendahuluku? Rata-rata mereka mengalami kegagalan dalam pernikahan mereka” — Oh my dear… panas mataku merasakan luapan kesedihan anak muda ini. — Tidak….tidak, sekali lagi tidak!!!. Mereka adalah mereka, hidup kita adalah milik dan tanggung jawab kita sendiri. Memang banyak orang di luar sana yang mengatakan bahwa karma orang tua akan menimpa anak-anaknya, atau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, atau…apalagi lah … yang intinya kita akan mengalami hal serupa yang dialami oleh orang tua kita.

Saya pastikan, tidak…!!! Kalau kita menjadikan Tuhan sebagai tempat perlindungan, sebagai tempat perteduhan kita, maka malapetaka tidak akan menimpa kita, dan tulah atau kutuk tidak akan mendekati kita. Tuhan kita, Yesus Kristus, sudah mematahkan semua kutuk dosa masa lalu kita lewat pengorbananNya di atas Kayu Salib. Sangat wajar kalau kita mungkin (saat ini) tidak mengerti apa tujuan dan rencana Tuhan dalam hidup kita. Kita seakan terpuruk dalam ketidak berdayaan kita. Tak ada keberanian untuk membuka lembaran hari esok. Tapi kita harus yakin, kita juga punya hak untuk bahagia.

Come on my dear, lift up your face. Jangan pernah menyerah pada keadaan. You are not walking alone. God is by your side. You will have happy life and happy family of your own. Trust me!!
Tuhan sudah membuat rancangan tersendiri untuk kita, yaitu rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan. Dia memberikan kita hari depan yang penuh harapan.

Karena rencanaNya selalu indah bagi kita. Dan doaku menyertaimu.

LAMUNAN

21 Des

Suasana hening dan syahdu sudah mulai terasa saat aku memasuki ruangan. Acara baru akan di mulai sekitar 15 menit lagi, tapi rupanya orang-orang tidak mau ambil resiko tidak mendapat tempat duduk yang nyaman, dan bangku-bangku boleh dikatakan sudah almost fully seated.

Aku berusaha mencari tempat yang berhadapan langsung dengan mimbar, dan untung masih ada 4 seat kosong di baris ke 5 dari depan untuk aku, suami dan anak-anakku. Ah….untung banget, jadi aku bisa melihat jelas semua yang ada di atas panggung, dan aku bakal bisa menikmati semua acaranya. Dari tempat aku duduk, aku juga bisa melihat ada 2 baris bangku yang masih kosong. Di pinggir lorong terpampang tulisan “VIP Guests”

Lagu pembuka sudah mulai diperdengarkan dan Worship Leader mengajak kami, jemaat, untuk menyanyi bersama. Cukup meriah tanpa mengurangi kekhusukan suasana sebuah ibadah Natal. Perhatianku tiba-tiba beralih sebentar pada rombongan yang baru memasuki ruangan. Dari busana yang dikenakan, sepatu, tas, dasi dan tatanan rambut, sampai cara mereka berjalan, sudah tidak diragukan lagi, mereka adalah tamu VIP yang ditunggu untuk duduk di bangku “VIP Guests” di depan.

Ibadah malam itu benar-benar luar biasa, puji-pujian sampai pada Firman Tuhan yang disampaikan sungguh membuat hati ini penuh dengan kedamaian Natal, membuat aku kembali me-refleksi diri tentang arti kelahiran Yesus yang sesungguhnya dalam hidupku. Saat candle light service, sempat aku meihat tamu-tamu VIP tadi memegang lilin-lilin cantik yang sudah dipersiapkan secara khusus, lebih besar – ada hiasan pita dan bunga-bunga dipegangannya. Beda dengan lilin yang jemaat pegang, lilin kecil pada umumnya dengan tatakan karton bulat atau bentuk bintang

Singkat cerita, ibadahpun selesai. Aku sangat diberkati. Bapak Pendeta dan Ibu segera sibuk menerima ucapan “Selamat Natal”, dari jemaat, khususnya (lebih dahulu) dari deret terdepan tamu VIP tadi, ya..karena mereka duduk paling dekat dengan Bapak Pendeta dan Ibu. Tiba-tiba dari kerumunan Jemaat yang berdesakan tadi, datang seorang ibu, yang dari cara berpakaian dan body gesturenya, kelihatan bahwa dia adalah orang VOP (=very ordinary person), not VIP. “Selamat Natal Pak Pendeta, terimakasih untuk berkat Firman Natal malam ini”, ucapannya terlihat sangat grogi, sepertinya dia mengumpulkan seluruh kekuatan dan keberaniannya untuk menemui Pak Pendeta di depan orang banyak tadi. “Anak saya ingin sekali bersalaman dengan Bapak”, lanjutnya rada bergetar. “Tapi maaf anak saya sakit, tidak dapat maju ke depan sini” — “Dimana anak Ibu?”, Tanya Pak Pendeta. “Ada Pak, di sudut sana, di atas kursi rodanya”

Pak Pendeta segera beranjak ingin menemui anak ibu tadi, ketika tiba-tiba salah seorang dari tamu VIP tadi menahan langkah Pak Pendeta. “Pak, kita sudah ditunggu keluarga….(menyebut sebuah nama), dia sudah menyiapkan ruang VIP di hotel….(menyebut sebuah nama hotel bintang 5). Bukankah kita ada acara X’mas dinner dengan mereka. Ini sudah terlalu telat Pak, tidak enak kalau mereka menunggu kita terlalu lama”. — Segera Ibu VIP tersebut berucap pada Ibu VOP tadi, “Ibu, maaf ya..Pak Pendeta sedang ditunggu oleh tamu lain, dia sudah harus segera berangkat sekarang. Besok saja ya Pak Pendeta menemui anak Ibu – di rumah Ibu”. “Baik Ibu…tidak apa-apa, maaf sudah mengganggu dan merepotkan, selamat malam”. Aku yang dari tadi melihat dan mengikuti percakapan mereka, dapat menangkap sorot kecewa di mata si Ibu VOP.

Keesokan harinya Pak Pendeta menerima kabar bahwa anak Ibu VOP itu telah berpulang ke rumah Bapa. Rupanya anak itu sudah di vonis sejak 4 – 5 tahun yang lalu bahwa dia tidak akan berumur panjang karena sakit yang dia derita. Tapi dalam masa-masa hidupnya yang singkat, anak ini selalu setia beribadah dan tidak sedikitpun ada nada keluhan dari bbirnya mengapa Tuhan ijinkan dia menderita penyakit tersebut. Menurut cerita sang Ibu (VOP), anaknya mendapat berkat dan kekuatan yang luar biasa lewat Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pak Pendeta, sehingga dia ingin sekali didoakan sebelum dia ‘berangkat’.

Aku tak akan melanjutkan cerita ini……jangan dibahas lebih lanjut ya…and never judge people!!!

Yang ingin aku lanjutkan adalah…Yesus lahir, termasuk semua yang Dia lakukan selama di dunia, sampai Dia mati di atas bukit Golgota..adalah untuk menyelamatkan manusia. Orang kaya butuh keselamatan, orang miskin butuh keselamatan, apapun statusnya, manusia butuh keselamatan. Di mata Tuhan, kita semua sama dan sangat berharga. Dia tidak pernah memperhitungkan untung ruginya ketika Dia melakukan karya keselamatan bagi umat manusia.

Aku teringat cerita tentang orang gila di Gerasa. Tanpa pikir panjang Tuhan sudah mentransfer roh jahat dari orang gila tersebut ke kawanan babi yang jumlahnya kira-kira 2,000 ekor. Aku mencoba menghitung berapa besar harga yang harus dibayar untuk menyelamatkan orang gila tadi? Yang mungkin saja dia juga sudah dibuang dan tidak diperhitungkan oleh keluarganya sendiri. Woa…bunyi milyaran deh!!

Tiba-tiba aku tersadar…buah pohon Natal yang terakhir sudah terpasang … Aku tinggal mencoba menyalakan lampu-lampunya untuk melihat apakah terangnya sudah menyebar rata di seluruh pohon Natalku?

Aahh….rupanya aku sudah melamun terlalu lama sambil memasang pohon Natal untuk menyambut acara Natal keluarga minggu depan. Aku tersenyum sendiri melihat hasil kerjaku. Puas… Pohon Natal itu begitu indah, cantik dan kedap kedip lampu kecilnya membuat aku bahagia.

“Selamat hari Natal”, gumamku pada diri sendiri

SULITNYA ORANG SEPUH ….!!!

11 Nov

Seorang Om tua sempat mengeluh,”Anak-anak saya semua pada sibuk, mereka sudah tidak ada waktu lagi buat saya. Bahkan untuk menelpun saja, mereka juga tidak sempat”. “Kenapa bukan Om saja yang menelpun mereka?”, jawabku mencoba supaya dia tidak selalu menyalahkan anak-anaknya. “Boleh donk, Om yang menanyakan kabar mereka”.—“Ah gak mau….ya anak-anak donk yang harus tahu diri, masak kecil dibesarkan sudah besar melupakan orang tuanya?” — waduh….capek deh!!!—si om ngambek nih

Di waktu yang berbeda, seorang teman juga penah ‘curcol’ (=curhat colongan) tentang ibunya,”Saya jadi bingung menghadapi ibu saya, tiap hari ada saja yang salah. Dari saya mengatur rumah, mendidik anak, sampai pembantu yang kerja,…. ga pernah ada benernya”- “Belum lagi kalau dia mau beli sesuatu. Beli beras harus di tempat yang dia dulu biasa beli, cari minyak angin harus ke toko langganan dia, padahal itu minyak angin biasa yang bisa di beli disemua mini market terdekat. Alasannya, harga di toko langganan dia (katanya) lebih murah. Yang jadi masalah, kita harus anter dia ke tempat langganan-langganannya tersebut yang jarak antara satu dengan yang lain bikin uurrghhhh….belum lagi macet jalanan. Ini yang tidak dia perhitungkan. Waktu, bensin dan bayar tol. Sekali lagi…..capek deh!!

Beda lagi dengan cerita teman yang lain. Mertuanya hobby masak, dan… dia selalu masak dengan porsi banyak, seperti jaman dia muda dulu (maklum dia dari keluarga besar). Yang ada masakannya tidak pernah bisa selalu habis dimakan. Parahnya, makanan yang lebih itu tidak boleh diberikan ke “mbak” di belakang. Dia masih mau, katanya. Dia simpan tuh di kulkas dan….lupa!. Giliran sudah kurang enak, dia coba olah lagi dengan tambahan bumbu ini itu, alhasil……ga ada yang mau menyentuh makanan yang sudah tidak jelas begitu. Akhirnya dia marah kemana-mana.

Sebenarnya banyak banget cerita tentang sikap orang tua (sepuh) yang “aneh-aneh”, “lucu” dan bikin ketawa (bagi yang tidak mengalami), tapi bagi yang tiap hari menghadapi orang-orang sepuh seperti di atas (dan masih banyak lagi sih)….hmmmm…maaf ya, bisa bikin kita berdosa terhadap orang tua. Mau dilawan, mereka orang tua kita, mau didiamkan kok makin menjadi-jadi, dan bikin kita “gondok” sampai tidak bisa menahan emosi. Rasanya batas kesabaran kita benar-benar diuji menghadapi situasi seperti ini

Tak jarang mereka melakukan apa yang kita larang dan mengabaikan apa yang kita minta mereka lakukan. Ini benar-benar membuat kita jengkel dengan sikap mereka yang seperti anak kecil. Kita minta mereka jalan hati-hati, kita tuntun supaya tidak jatuh….eh malah mempercepat langkahnya, seolah mau menunjukkan kalau mereka masih kuat dan tidak butuh bantuan. Kalau perlu/minta sesuatu, maunya seketika itu juga sudah harus ada, tidak sabar menunggu. Tidak bisa mengerti kalau kita masih ada hal rutin (pekerjaan) yang harus diselesaikan.

Permintaan orang tua yang macam-macam, atau sikap mereka yang semaunya sendiri ini memang bisa membuat kita stress dan frustasi. Dan..sebenarnya merekapun sama stress dan frustasinya seperti kita.

1. Tidak semua orang bisa menerima kondisi dirinya yang semakin ‘sepuh’ – getting older. Banyaknya keterbatasan fisik sering membuat mereka seperti kehilangan kepercayaan diri. Dari kita lahir sampai kita dewasa, sebelum bisa mandiri, kita selalu bergantung pada mereka, tapi sekarang keadaannya terbalik, kitalah yang merawat mereka dan mereka banyak tergantung pada kita. Kenyataan ini tentu sangat sulit buat mereka.
2. Kesuksesan dan kesibukan anak-anak membuat mereka merasa terabaikan, sehingga tak sedikit yang merasa (seolah) gagal dalam hidupnya dan tidak lagi berguma. Hal ini dapat membuat anak-anak ada dalam posisi yang salah. Seperti contoh curhatan di atas, karena sebenarnya mereka ingin diperhatikan
3. Kesehatan yang mulai menurun membuat getting older people menjadi sangat tidak nyaman. Harus mengurangi makanan ini, tidak boleh makan itu. Harus rutin makan obat. Ruang dokter atau Lab, sudah menjadi tempat yang biasa dan sangat sering di kunjungi. Aahh…kasihan juga sih sebenarnya

Lalu dengan karakter mereka yang makin hari, menurut kita, makin sulit itu, apakah kira-kira bisa dirubah? Akankah perkataan kita bisa mereka dengar dan terima?. Kita tahu ‘mindset’ orang jaman dulu adalah “Orang tua bicara anak mendengar”. Kalau umur mereka 60 tahun saja, coba bayangkan, berapa puluh tahun mereka sudah dalam zona “kebiasaan” hidup dengan cara mereka itu. Sanggupkah kita mengubah mereka. Terlebih untuk mereka yang sudah usia 80 tahun ke atas. Jadi saya hanya bisa katakan,”Put your expectation on your Zero point when you want them to change”  (Jangan berharap terlalu banyak). Peluru terakhir yang bisa saya tembakkan di sini adalah berdoa, minta Tuhan kasih kita hikmat dan kesabaran. That’s it …. Pasrah? — Mungkin!! Apapun keadaannya, kita tahu perintah Tuhan bahwa anak harus menghormati ayah dan ibunya. Dilema, pastinya.

Setiap kita juga akan memasuki masa tua. Akan ada banyak hal baru yang bakal kita hadapi di usia sepuh nanti. Rasanya wajib bagi kita untuk mempersiapkan diri sedini mungkin agar bisa menerima setiap perubahan dalam diri dan dalam hidup karena faktor usia ini. Raja Salomo pernah mengatakan bahwa menjalani hari-hari tua itu identik dengan menjalani waktu dengan tidak ada kesenangan di dalamnya. Tapi tentunya kita ingin menikmati hari tua kita dengan bahagia dan penuh suka cita, bukan?

Mengapa kita tidak belajar untuk berkompromi dengan hati kita sendiri dan berdamai dengan keadaan. Hanya sukacita Illahi yang menjadi kekuatan kaum sepuh menjalani hari-harinya, sambil juga melakukan berbagai kegiatan ringan yang masih bisa dikerjakan. Dengan demikian kita akan bebas dari banyak kekhawatiran, keadaan yang sangat ditakutkan oleh orang lanjut usia.

Jadi…selain doa kita panjatkan buat orang tua kita, persiapan diri kita sendiri menjelang masa tuapun perlu kita kerjakan dari sekarang, agar tidak merepotkan anak mantu dan cucu.

So be prepared, guys!!!

TAMBAH USIA NAMBAH OBAT???

17 Sep

“Saya sekarang sudah ngurangi karbo!”
“Wah…saya sudah ga berani bawa mobil sendiri, kayaknya motorik ini sudah ga segesit dulu”
“Ampun deh…kalau lupa bawa kaca mata, kayak orang ga punya mata!”
“Minggu lalu baru aja gua check darah, kaget…kolesterol tinggi banget!, udah deh…stop makan seafood”
“Kakiku sekarang juga mulai masalah, suka kram dan nyeri-nyeri di sendi”
“Minum aja tuh suplemen (x)…badan lebih terasa seger. Bener!!”

Saya tersenyum sendiri mendengar obrolan di atas. Sepertinya obrolan di atas sudah menjadi topik umum dalam sebuah pertemuan santai dari kelompok orang yang….sudah bisa ditebak, hayoo….usia berapa? Hehehehe…..Yaap! Usia lima puluhan….walaupun masih belum bisa dibilang kaum usiawan, lah ya…wong mereka itu juga masih tampak gagah, energetic, aktif dan masih beraktifitas di profesi dan usahanya masing-masing.

Beda lagi dengan celotehan kelompok yang ada di sebelah kanan meja saya. Dengan gadget canggih model terkini, bisa dipastikan obrolan mereka tak lari jauh dari fitur-fitur ter-update tentang perangkat ‘sakti’ yang ada di tangan mereka masing-masing. Tak terdengar sama sekali pembicaraan soal obat, penyakit atau keluhan kesehatan yang lain. Maklum mereka masih belum mencapai usia kepala 2. Masih muda-muda banget!!

Ketika menyadari usia sudah tidak bisa dibilang muda lagi, sedang menapak laju lewat kepala 5, maka berbagai upaya mulai dilakukan untuk mengurangi makanan berlemak, karbo berlebih, dan lainnya lagi…. apalagi ketika melihat hasil Lab yang mendekati atau bahkan melebihi ambang batas normal.

Dan…..tidak sedikit keluhan orang yang (merasa) tua terucapkan, seperti obrolan di atas, yang menganggap dirinya sudah makin lemah, makin banyak penyakit lah, tidak produktif lah, suka lupa, tidak berguna lagi, tidak bisa ngapa-ngapain lagi dan masih banyak lagi dan banyak lagi untuk menunjukkan bahwa usia tua adalah identik dengan kelemahan, ketidakberdayaan, keterbatasan atau apalagi yang artinya sama dengan degradasi menurun karena faktur “U” (=umur)

Memang, tidak ada seorangpun dapat lari dari kelemahan fisik karena berlanjutnya usia, dan sepertinya kita juga harus belajar untuk tidak menjadi terlalu paranoid melawan kehendak alam ini. Banyak teman yang masih aktif, walaupun mereka sudah in their Middle Age, percaya bahwa menjadi tua hanya ada dalam pikiran manusia, sementara jiwa dan kesempatan berkarya sebenarnya tidak mengenal usia. Bagi mereka usia bukanlah penghambat untuk tetap berbuat sesuatu yang berguna, bagi diri sendiri, keluarga juga orang lain. Bahkan dikatakan rambut putih adalah symbol kebijaksanaan yang menunjukkan bahwa orang tersebut telah mengantongi banyak sekali pengalaman yang berharga. Ada yang mengatakan — “Experience never gets old”

Berapapun usia seseorang, akan selalu sangat disarankan untuk tetap aktif baik secara fisik maupun mental. Ibarat otot tubuh yang terlalu lama beristirahat, tidak pernah digerakkan, maka dia akan kaku dan lemah, begitu juga dengan pikiran dan mental kita. Penyebab utama penurunan daya kerja otak manusia (alias pikun, maaf) adalah karena membiarkannya tidak bekerja sama sekali akibat tidak adanya kesibukan dan aktifitas, karena sudah pensiun. “Saya sudah capek bekerja, sekarang ingin istirahat saja, santai dan menikmati hidup” – Nah tuh…!!

Menikmati hidup di usia senja tidak dilarang pastinya dan memang harus! Tapi bukan berarti tanpa aktifitas khan? Cuma duduk-duduk diam, melihat cucu bermain, baca koran, nonton TV atau jalan-jalan pagi keliling komplek rumah….ah rasanya waktu akan lama sekali berputar, dan ini akan membuat kita merasa sangat tua walaupun belum terlalu uzur. Ujung-ujungnya? Yang timbul malah merasa sakit di sini sakit di sana, kuatir ini kuatir itu – dan obat tidak boleh ketinggalan, harus selalu ada dikantong.

• Kalau masih ada kesempatan berkarya, bekerja dan melakukan usaha, sungguh merupakan sesuatu yang patut disyukuri untuk tetap dikerjakan. Aktifitas rutin ini akan membuat fisik dan pikiran lebih bugar, pastinya
• Bertemu dan berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai kalangan, tingkat sosial dan usia, akan membuat wawasan kita terus berkembang dan tidak ketinggalan informasi. Ini bisa memperlambat Alzeimer, dan terhindar dari karakter/attitude sulit yang sering melanda kaum usiawan
• Mendekatkan diri kepada Tuhan lewat doa, ibadah serta ucapan syukur akan membuat kita lebih arif dan tenang menjalani hidup sehari-hari

Sekali lagi…jangan terlalu paranoid melihat wajah yang mulai timbul keriput sana sini, kulit yang tidak sekencang dulu, rambut putih yang sudah tak bisa dibendung lagi. Semua itu alam! Bila kondisi kesehatan semuanya masih prima, Praise God!, dan yuk kita jaga terus untuk selalu hidup sehat, tapi bila memang harus minum obat secara rutin, jalani saja secara teratur sesuai anjuran dokter, tetap dengan mengucap syukur.

Yang penting make ourselves happy with our simple way of thinking, hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, kasih dan tekun dalam beribadah, serta bisa menjadi panutan bagi generasi penerus, — nasehat sang Rasul

Tetap semangat!!!

MESRA DI USIA UZUR

27 Jul

Mataku tiba-tiba nyangkut di meja sebelah tempat aku makan berdua bersama dengan suami, di sebuah depot mie ayam tak jauh dari rumah. Di situ duduk sepasang suami istri…yang kalau aku tak salah menebak, mereka sudah berusia di atas 75 tahunan.

Wajah keriput si Tante tetap saja masih mampu menyiratkan sisa-sisa kecantikan masa mudanya, dan cara dia berpakaian juga masih rapi dan apik. Juga si Oom, masih terlihat sehat, walaupun agak sedikit ‘bongkok’ karena usia. Dia pasti orang yang berwibawa dulunya, tapi ada aura bijak yang aku bisa rasakan di raut wajahnya

Mereka asyik menikmati porsi kecil mie ayam, dengan perlahan, sesuap demi sesuap. Gerakan mereka terlihat lamban. Dengan tangan yang bergetar (karena usia) si Oom mengambil acar dan meletakkan di mangkuk si Tante. Tak lama kemudian si Tante, dengan bahasa isyarat tangannya, memberitahu si Oom kalau ada daun bawang nempel di bawah bibirnya. Sweet bangeettt…!!! Dengan cara yang sangat sederhana aku ‘membaca’ betapa mereka masih saling memperhatikan

Kusenggol suamiku, dengan gerakan kepala ku arahkan dia untuk melihat meja si Oom dan Tante, sambil berbisik..”Kita besok tua juga kayak gitu ya” – Ciiaaa…..dan …seperti biasa, dengan gaya coolnya dia tidak berkomentar dan kembali membaca incoming text di hapenya. Haha….dia memang begitu. Tapi aku tahu dan yakin, dia sependapat denganku. Yakin nih yee…!!! Buktinya sekarang kita juga lagi duduk berdua di depot mie ayam ini khan. Hehehe…..

Sambil menikmati mie di depanku, ekor mataku terus memperhatikan si Oom dan Tante tadi. Tampak asyik juga mereka ngobrol, dengan gaya orang tua dan aku ga tau apa yang diobrolin – ya pasti lah ya. Lama banget mereka menghabiskan porsi kecil itu. Aku tahu mereka pesan yang ½ porsi, terlihat dari mangkuknya. Sementara aku dan suami yang datang lebih akhir dari mereka dan pesan yang porsi normal, malah sudah selesai duluan. Tapi sengaja aku dan suami tidak beranjak dari tempat kami karena pingin lihat gimana Oom dan Tante tadi.

Nah selesai sudah mereka, sudah bayar pula. Yang menarik perhatianku saat mereka hendak keluar dari tempat duduk mereka. Kelihatannya susah banget bergeraknya. Sambil berpegangan pada meja mereka akhirnya berdiri…diam dulu sejenak (Mungkin untuk mencari posisi menghilangkan rasa nyeri di persendian) baru kemudian melangkah perlahan sambil bergandengan tangan, layaknya sepasang anak muda yang baru pacaran. Tanpa sadar saya dan suami mengikuti mereka dari belakang….sambil bergandengan juga. Hihi…..

Statement yang selalu kita dengar di upacara pernikahan – menikah itu sekali dan seumur hidup. Artinya sebuah komitmen suami istri untuk menghabiskan waktu berdua sampai akhir hayat, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Tapi banyak pula yang mengatakan dengan bertambahnya usia pernikahan, akan makin berkuranglah gairah cinta suami istri kalau tidak mau dikatakan bisa hilang, yang tinggal hanyalah perasaan 2 orang teman. Is it???

Tapi dari sikap Oom dan Tante tadi rasanya aku masih sangat yakin mereka berdua masih sangat saling mencintai, saling peduli dan saling menopang. Seperti biasa….mulai deh aku berpikir…. Apa yang membuat mereka berdua tetap saling romantis (ala usia tua) gitu?

• Usia pensiun dan anak-anak sudah besar dengan kegiatannya sendiri, sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk berdua. Bisa jalan-jalan, menikmati makan di luar, berolahraga atau melakukan kegiatan sosial – bersama, seperti masa pacaran atau bulan madu dulu
• Makin tua, logikanya, orang makin bijaksana sehingga bisa memahami kelemahan pasangannya dan menerima apa adanya. Seperti Oom dan Tante tadi, yang sama-sama butuh waktu lama untuk keluar dari tempat duduknya, lalu saling bergandengan tangan dan saling menopang
• Cinta yang terpancar lewat mata Oom dan Tante tadi mengingatkan aku pada arti Companionate Love, keterikatan cinta dengan saling menghormati, menghargai, peduli. Tidak lagi saling menuntut
• Mungkin, sekali lagi mungkin, karena aku belum sempat menginterview mereka (hehe…) kebutuhan biologis pasangan seumur mereka sudah tidak harus lagi dimaknai dengan hubungan intim, tapi dengan jalan bareng sambil bergandengan tangan atau berpelukan, sambil bertatapan mata saat ngobrol, itu sudah cukup memberikan sensasi pernyataan cinta mereka

Makin hari akupun makin tua, keriput diwajah makin bertambah, dan sepertinya fisik juga tidak sekuat dulu lagi. Aku baru meyadari ketika liburan lebaran kemarin harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sendiri selama si Mbak pulkam..eerrghh…rasanya badan ini sudah mulai tidak bisa berkompromi lagi. Gampang lelah. Mungkin karena faktir “U” ya, karena sudah terbilang tidak muda lagi. Ya ..tapi masih muda kok dibanding Oom dan Tante tadi..hahaha…ga mau ngakuin tua ya!

Menjaga kelanggengan nikah dan juga keharmonisan rumah tangga, ternyata tidak cukup hanya dengan modal cinta saja. Apalagi cinta buta gaya anak remaja. Menyadari bahwa kita bukan mahkluk sempurna, maka sangat disarankan, dengan bertambahkan usia + usia pernikahan, masing-masing suami istri bisa saling bertoleransi dan lapang dada untuk menerima kekurangan dan kelemahan pasangannya. Coba bayangkan apa yang terjadi seandainya si Oom ga sabar dengan gerakan lamban si Tante, begitu juga sebaliknya. Lah wong keduanya juga sama-sama lamban bergeraknya

Kuncinya, masing-masing pribadi mau terus belajar, sekali lagi belajar untuk mengetahui dengan jelas keadaan pasangannya, kebutuhannya, cara pandang dan kondisi fisik yang sudah berubah. Dan ini hanya bisa didapat lewat komunikasi dan keterbukaan berdasarkan cinta dan komitmen yang diucapkan pada janji nikah dulu, seperti yang dinasehatkan rasul Tuhan agar kita selalu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, karena di dalam Dia selalu ada masehat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan.

Woa keren jadinya ya kalau ada Tuhan di tengah hidup pernikahan kita, mesra teruuss walau usia melaju kencang.

KEBUTUHAN SUAMI, KEBUTUHAN ISTRI

14 Okt

“Semalem kami ribut…”, jawab seorang teman ketika saya tanya kenapa muka dia kusut dan awut-awutan begitu. Ternyata istrinya cemburu habis, menyangka dia sekarang punya simpanan wanita lain. Alasannya….??. “Aku lupa hari ulang tahun dia. Aku ga bermaksud mengabaikan dia, tapi jujur..aku benar-benar ga ingat!”, akunya. (Saya sudah kenal dia sejak masih remaja, dan saya bisa menjamin dia bukan type pria yang mudah berpaling ke lain hati).

Singkat cerita, istrinya merasa ada perubahan dalam sikap suaminya. Dia tidak lagi (dianggap) semesra seperti masa pacaran dulu. Dalam tahun-tahun pertama pernikahanpun, sang istri masih merasakan dan menikmati kemesraan juga sanjungan dari suami. Suami selalu memuji setiap masakan yang dibuat istri. Cara berdandan, berpakaian sampai gaya rambut, suami kerap memberi komentar yang membuat si istri bangga dan senang. Setiap pulang kantor atau travelling, pasti ada sesuatu yang dibawa buat istri di rumah. — Ini saya dengar dari pengakuan sang istri yang kebetulan bertemu di kesempatan yang lain.

Sekarang…..semuanya mulai berubah, sambungnya lagi. Suami sudah tak sehangat dulu. Pulang kantor, mandi, main dengan anak sebentar, duduk nonton TV sambil … sibuk dengan gadgetnya. “Seolah dia tidak memperhatikan kehadiran saya yang duduk di sebelahnya… Tak ada lagi kejutan di hari-hari istimewa kami”, keluhnya

Wow….saya musti bilang apa ya? Sebagai wanita, saya sangat mengerti dan memahami perasaan dia, perasaan seorang istri yang ingin selalu diperhatikan. Tapi di lain sisi, saya juga memaklumi sikap teman saya, sebagai seorang suami yang sudah mulai mapan.

Setelah beberapa tahun menikah, umumnya seorang pria (=suami) mulai menikmati phase nyaman dalam kehidupannya. Dia tidak perlu lagi bersusah payah mengejar wanita idamannya. Tak dibutuhkan lagi upaya-upaya atau great effort untuk meyakinkan wanita yang dia incar agar bersedia menjadi pendampingnya. Tidak lagi harus berjuang meyakinkan (calon) mertua atau bahkan bersaing dengan pria-pria lain. Wanita yang dia idamkan itu sekarang sudah ada di sampingnya. Menjadi istrinya. Dan dia sudah tenang. Kini saatnya bagi dia untuk mulai fokus pada karir dan businessnya. Bagaimana dia bisa mencukupi kebutuhan keluarga, apalagi kalau sudah ada anak dalam pernikahan mereka.

Dia menyangka istrinya juga seperti dia, sudah nyaman berada di sampingnya. Maksudnya hidup bersama dengan dia. Baginya bukan masalah besar ketika dia sibuk dengan pekerjaan tambahannya dan istrinya juga asyik dengan kegiatannya, selama mereka berduaan di sore hari selepas bekerja. Kebersamaan ini sudah merupakan kebahagiaan tersendiri bagi seorang suami. Ini karena dia sudah merasa settled banget dengan istrinya

“Aku toh ga kemana-mana lagi sehabis kerja. Langsung pulang dan berada di tengah keluarga, mana mungkin aku selingkuh”, jelas suaminya, menjawab pertanyaan saya yang mungkin terkesan rada menyelidik. Sorry Bro!!!

Mungkin para suami/pria juga perlu memahami bahwa istri/wanita membutuhkan affection (=kasih sayang/perhatian) yang konsisten. Dia butuh sedikit dipuji, dirayu, dibelai sampai komentar-komentar posisitf atas apa yang dia lakukan. Hal-hal ini kelihatannya kecil dan ‘melelahkan’ bagi pria yang sudah menyandang status suami puluhan tahun. Tapi tidak dengan istri. Sekecil apapun perhatian suami buat dia, akan membuatnya menjadi lebih bersemangat, bahagia dan merasa sangat berarti.

Sekiranya kedua pihak, baik suami maupun istri bisa memahami kebutuhan pasangannya, sudah pasti pertengkaran ‘kecil’ seperti di atas bisa dihindari. Salah paham itu terjadi karena masing-masing merasa tidak melakukan kesalahan apapun, tapi merasa tidak dimengerti dan tidak diperhatikan. “Nuntut apalagi sih…yang penting khan saya selalu ada buat keluarga. Saya bekerja juga buat istri dan anak-anak. Kurang apalagi?” —- itu salah satu komentar suami yang ‘bingung’. Kasihan juga ya!!

Romantisme dalam kehidupan nikah sangat diperlukan, pastinya. Dan aplikasinya tentu berbeda antara pasangan yang satu dengan pasangan yang lain. Terutama bagi pasutri yang sudah berumur diatas 40 – 50 tahunan. Mungkin ada diantara mereka yang sudah tidak lagi jalan di mall sambil berpelukan, candle light dinner sambil berpandangan mata dan menggenggam tangan pasangannya, memberi surprise dengan kecupan dari belakang seraya memberikan 1 buket bunga.

Woa……ngebayanginya saja kayak lagi nonton film!! Hihihi….
Makan berdua di depot Mie ayam dekat rumah, atau jalan pagi bareng, itu saja sudah cukup menjadi pemanis dalam hidup nikah yang sudah melewati beberapa decade. Walau tak dipungkiri banyak pasangan paruh baya yang masih mesra seperti saat pacaran dulu. Tergantung dari masing-masing pribadi.

Yang penting adalah saling mengerti dan saling memperhatikan. Jangan saling menunggu untuk suami atau istri duluan yang mengajak merayakan ulang tahun, wedding anniversary atau meluangkan waktu berdua (tanpa anak-anak – untuk sementara waktu). Masing-masing pihak bisa menjadi inisiator untuk saling mengingatkan. Tak perlu ada gengsi lagi khan pada suami/istri sendiri?

Dan yang terpenting, selalu sediakan waktu buat pasangan. Dengan rendah hati saling menghargai, yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri, karena dasar ikrar nikah adalah suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya.

Selamat meredam salah paham!