IBUKU…..KARTINIKU

20 Apr

Bangku kuliah tak pernah dia rasakan, hanya sebatas lulus SMP. Itupun dia sudah bangga dan bersyukur. Keadaan ekonomi keluarga membuat dia tumbuh menjadi gadis yang tegar dan berani berjuang demi ‘hidup’. Apapun dia lakukan, asal halal, dan menghasilkan uang. Naluri business-nya terbentuk secara alami.

Setelah menikah, dia mencoba untuk berdagang kecil-kecilan. Dari beras, gula kopi dan lainnya yang merupakan kebutuhan rumah tangga. Lama-lama usahanya berkembang, menjadi toko sembako, dan berkembang lagi sebagai agen arang kayu sampai minyak tanah. Dia selalu bisa melihat peluang yang bisa dikerjakan…dan umumnya berhasil – sesuai dengan kapasitasnya.

Dia bukan orang yang bisa berbasa basi, mengatur kata sesuai dengan tata bahasa yang baik. Apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, langsung dia ucapkan tanpa di ‘olah’ dulu. Tak jarang kata-katanya membuat orang lain (yang belum kenal dekat) tersinggung. Tapi sebenarnya dia memiliki hati yang baik. Jiwa sosialnya tinggi. Tak segan-segan dia menolong orang lain, baik tenaga, waktu juga dana.

Dia mendidik anak-anaknya dengan keras, sangat keras kalau boleh ku bilang. “Jangan malas belajar, sekolah yang tinggi”, ujarnya dengan nada tinggi kalau melihat anak-anaknya rada ‘santai’. — “Ibu tidak bisa meninggali warisan harta, dengan sekolah tinggi, kalian akan hidup lebih baik”, kalimat itu selalu dia ucapkan buat anak-anaknya.

Dia tidak pernah memanjakan anak-anak-nya. Dia tidak pernah mendampingi anak-anaknya belajar. Ya bagaimana, lah wong pendidikan dia sendiri juga tidak menunjang. Maaf!. Tapi dia juga tidak (sanggup secara keuangan) membawa anak-anaknya ke tempat les untuk tambahan belajar. “Kalian harus berusaha sendiri, harus bisa, karena hidup adalah berjuang”.  Ya…dia memang sudah membuktikan bahwa dia berjuang untuk membesarkan anak-anaknya, terlebih setelah suami tercinta berpulang meninggalkan dia untuk selamanya.

Tak habis pikir aku meyaksikan itu. Teori pendidikan tak pernah dia kenal, ilmu dagang tak pernah dia pelajari, ilmu management apalagi, tapi dia bisa me-manage hidup keluarganya sedemikian rupa. Dia hanya berjalan dengan hati dan intuisinya sebagai seorang wanita, sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya. Perjuangannya tak kenal kata lelah, demi kebaikan dan kebahagiaan keluarga.

Dan benar…anak-anaknya semua berhasil menyelesaikan kuliahnya sampai tingkat sarjana. Semua dengan prestasi di atas rata-rata. Sekarang….mereka ada yang menjadi pengusaha dan ada juga yang bekerja sebagai professional sesuai bidangnya masing-masing. Dan yang membuatku kagum, dia juga berhasil mengarahkan anak-anaknya hidup dengan berpegang pada iman yang kuat.

Bagiku….emansipasi wanita seperti inilah yang waktu itu diperjuangkan oleh Ibu RA Kartini. Menjadi pribadi yang tidak hanya pasrah pada nasib, duduk diam sebagai tiyang wingking dan ‘berenang manja’ dalam kelemahan fisik seorang wanita.

Terlepas dari semua itu…..menurutku emansipasi bukan hanya sebatas kita sudah bebas berkarya dan berprofesi di luar rumah. Oleh perjuangan Ibu RA Kartini, kesempatan itu sudah makin lebih mudah dan terbuka lebar sekarang. Sampai-sampai tak jarang (maaf ya!) banyak kaumku yang lupa pada tanggung jawab dan kewajibannya sebagai istri dan ibu di keluarganya sendiri, saking asyiknya meniti karir. Emansipasi bukan pula berarti kita bebas menukar posisi dalam kehidupan nikah. Istri menjadi kepala keluarga dan suami selalu tut wuri handayani — ikut maunya istri saja.

Bagiku….emansipasi adalah bagaimana kita berperan sebagai wanita yang tahu menempatkan diri dalam keluarga dan masyarakat, dan mendedikasikan hidupnya sebagai sumber kekuatan yang dapat membawa generasi muda menjadi generasi penerus bangsa yang berintegritas. Menjadi seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dalam kebenaran, menurut jalan dan ketetapan yang sudah diberikan Tuhan.

Dialah Ibuku…Dialah Kartiniku

Selamat Hari Kartini!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: