Arsip | April, 2018

IBUKU…..KARTINIKU

20 Apr

Bangku kuliah tak pernah dia rasakan, hanya sebatas lulus SMP. Itupun dia sudah bangga dan bersyukur. Keadaan ekonomi keluarga membuat dia tumbuh menjadi gadis yang tegar dan berani berjuang demi ‘hidup’. Apapun dia lakukan, asal halal, dan menghasilkan uang. Naluri business-nya terbentuk secara alami.

Setelah menikah, dia mencoba untuk berdagang kecil-kecilan. Dari beras, gula kopi dan lainnya yang merupakan kebutuhan rumah tangga. Lama-lama usahanya berkembang, menjadi toko sembako, dan berkembang lagi sebagai agen arang kayu sampai minyak tanah. Dia selalu bisa melihat peluang yang bisa dikerjakan…dan umumnya berhasil – sesuai dengan kapasitasnya.

Dia bukan orang yang bisa berbasa basi, mengatur kata sesuai dengan tata bahasa yang baik. Apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, langsung dia ucapkan tanpa di ‘olah’ dulu. Tak jarang kata-katanya membuat orang lain (yang belum kenal dekat) tersinggung. Tapi sebenarnya dia memiliki hati yang baik. Jiwa sosialnya tinggi. Tak segan-segan dia menolong orang lain, baik tenaga, waktu juga dana.

Dia mendidik anak-anaknya dengan keras, sangat keras kalau boleh ku bilang. “Jangan malas belajar, sekolah yang tinggi”, ujarnya dengan nada tinggi kalau melihat anak-anaknya rada ‘santai’. — “Ibu tidak bisa meninggali warisan harta, dengan sekolah tinggi, kalian akan hidup lebih baik”, kalimat itu selalu dia ucapkan buat anak-anaknya.

Dia tidak pernah memanjakan anak-anak-nya. Dia tidak pernah mendampingi anak-anaknya belajar. Ya bagaimana, lah wong pendidikan dia sendiri juga tidak menunjang. Maaf!. Tapi dia juga tidak (sanggup secara keuangan) membawa anak-anaknya ke tempat les untuk tambahan belajar. “Kalian harus berusaha sendiri, harus bisa, karena hidup adalah berjuang”.  Ya…dia memang sudah membuktikan bahwa dia berjuang untuk membesarkan anak-anaknya, terlebih setelah suami tercinta berpulang meninggalkan dia untuk selamanya.

Tak habis pikir aku meyaksikan itu. Teori pendidikan tak pernah dia kenal, ilmu dagang tak pernah dia pelajari, ilmu management apalagi, tapi dia bisa me-manage hidup keluarganya sedemikian rupa. Dia hanya berjalan dengan hati dan intuisinya sebagai seorang wanita, sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya. Perjuangannya tak kenal kata lelah, demi kebaikan dan kebahagiaan keluarga.

Dan benar…anak-anaknya semua berhasil menyelesaikan kuliahnya sampai tingkat sarjana. Semua dengan prestasi di atas rata-rata. Sekarang….mereka ada yang menjadi pengusaha dan ada juga yang bekerja sebagai professional sesuai bidangnya masing-masing. Dan yang membuatku kagum, dia juga berhasil mengarahkan anak-anaknya hidup dengan berpegang pada iman yang kuat.

Bagiku….emansipasi wanita seperti inilah yang waktu itu diperjuangkan oleh Ibu RA Kartini. Menjadi pribadi yang tidak hanya pasrah pada nasib, duduk diam sebagai tiyang wingking dan ‘berenang manja’ dalam kelemahan fisik seorang wanita.

Terlepas dari semua itu…..menurutku emansipasi bukan hanya sebatas kita sudah bebas berkarya dan berprofesi di luar rumah. Oleh perjuangan Ibu RA Kartini, kesempatan itu sudah makin lebih mudah dan terbuka lebar sekarang. Sampai-sampai tak jarang (maaf ya!) banyak kaumku yang lupa pada tanggung jawab dan kewajibannya sebagai istri dan ibu di keluarganya sendiri, saking asyiknya meniti karir. Emansipasi bukan pula berarti kita bebas menukar posisi dalam kehidupan nikah. Istri menjadi kepala keluarga dan suami selalu tut wuri handayani — ikut maunya istri saja.

Bagiku….emansipasi adalah bagaimana kita berperan sebagai wanita yang tahu menempatkan diri dalam keluarga dan masyarakat, dan mendedikasikan hidupnya sebagai sumber kekuatan yang dapat membawa generasi muda menjadi generasi penerus bangsa yang berintegritas. Menjadi seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dalam kebenaran, menurut jalan dan ketetapan yang sudah diberikan Tuhan.

Dialah Ibuku…Dialah Kartiniku

Selamat Hari Kartini!!!

Iklan

WANITA (part 5)

11 Apr

“Gara-gara odol?—Kok bisa?”, awalnya aku heran dengan cerita seorang suami yang masih tergolong muda usia.

Setelah dia selesai bicara, baru aku paham. Ternyata dia dan istrinya mempunyai kebiasaan yang berbeda. Istrinya adalah seorang yang sangat detail dan melakukan segala sesuatu sesuai runutan dan aturan, sementara dia, adalah orang yang rada “slebor”, yang penting hasil akhirnya bener. Dan ini yang sering menjadi penyebab pertengkaran antara mereka berdua

Contohnya tadi itu…..odol!!! Sang istri selalu memencet odol dari bawah sehingga bentuk tube odol tetap rapi sampai habis, sementara suami, asal pencet, bisa dari atas, bawah, tengah, gimana dia suka saja. Alhasil bentuk tube bisa pleyat pleyot tak karuan. Ini yang bikin istri sewot. Hahaha…..lucu juga ya…bertengkar gara-gara beda cara mencet odol!!!!. Ya sih….kelihatannya lucu dan sepele…buat yang tidak mengalami…tapi ini bisa menjadi sumber cekcok yang akan merembet kemana-mana, untuk saling meng-high light kesalahan pasangan dan mem-point out keunggulan diri sendiri.

“Tapi sekarang semua sudah baik-baik khan?”, tanyaku ingin tahu, karena aku melihat pandangannya masih terlihat kosong begitu. “Itulah masalahnya…saya merasa semua yang saya lakukan akhir-akhir ini selalu salah di mata dia, dan sepertinya dia sudah tidak menghargai saya lagi”, suaranya makin terdengar pelan. “Apalagi income saya sekarang tidak sebagus dia”

Aku tahu kalau karir istrinya sedang naik daun. Sang istri baru saja dipromosikan sebagai Manager keuangan dengan fasilitas yang juga bertambah, sementara dia sendiri … usaha property-nya tidak lagi se ‘booming’ dulu. Jadi dia lebih banyak di rumah dan mengerjakan all “home task” yang tidak kepegang oleh istri, yang (bisa dimengerti) semakin sibuk sekarang.

Ah…aku tidak mau men – “jugde” si istri, karena mungkin aku akan mendengar versi yang lain kalau sang istri ada di sini dan bercerita apa yang dia rasakan. Aku juga seorang istri, yang masih aktif bekerja pula. Dan dari awal aku memang ingin mempersembahkan tulisanku ini buat diriku sendiri (Khan aku juga harus memotivasi diri sendiri toh!!); dan kaumku, para wanita bekerja, para istri termasuk juga Ibu rumah tangga, yang full time house wife, untuk kita sama-sama belajar menjalani hidup sebagai seorang wanita yang dapat menjadi berkat bagi keluarga kita sendiri, juga bagi banyak orang di luar sana.

Kalau seorang istri ditanya apakah dia baik kepada suaminya? Pasti kita akan dengar jawaban,”Tentu saja, buktinya aku menikah dengan dia dan sudah mendampingi dia sekian lama”. Tapi akankah kita tetap bisa menjaga ‘hati baik’ kita ketika sikap suami membuat kita kesal atau ketika suami sedang marah tanpa alasan yang jelas?. Bagaimana pula kalau uang belanja di’kurang’i atau suami sering pulang terlambat? Atau …. yang lebih parah lagi, kita mendengar gossip yang bukan-bukan tentang suami?. — Masih mampukah kita tersenyum manis dan menaikkan doa-doa berkat bagi suami?. Masih sanggupkah kita berbuat baik kepadanya dan tidak berbuat jahat (pada suami) seumur hidup kita? (Amsal 31 : 12).

Ah…praktek tidak seindah teori. Aku punya teman, dia sering melempar kunci pagar ke suami yang baru pulang, bukan karena sedang marah pada suami loh.., tapi hanya karena sedang asyik nonton Drakor (Drama Korea hehehe…) yang lagi seru. Dia hanya enggan membuka pintu pagar buat suami. Sementara ada teman lain lagi, yang dengan nada cuek bercerita kalau week end dia baru bangun pukul 11.00 dan membiarkan suami mengurus anak serta membereskan rumah. Alasannya dia capek sudah kerja selama week days, dan ingin istrihat. Loh…suami khan juga kerja, pikirku.

Lagi-lagi,.. ah….!! Cerita romantika rumah tangga memang unik dan tidak ada habisnya untuk dibicarakan. Menurut aku sih, pada dasarnya tidak ada istri yang berniat menjahati suaminya sendiri. Tapi ada satu “kejahatan” yang sering dilakukan istri, tanpa ia sendiri sadar…yaitu ketika dia menukar kedudukan/posisi suami istri dalam nikah yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Seorang Rasul Tuhan pernah berkata agar suami mengasihi istri seperti dirinya sendiri dan istri menghormati dan tunduk kepada suami dalam segala hal, seperti kepada Tuhan.

 Sekali lagi aku harus berkata; “Ah….!” Ini bukanlah hal mudah untuk dilakukan, apalagi kalau istri mempunyai penghasilan sendiri.Apalagi kalau income dia lebih tinggi dari suami. Apalagi (3 kali ‘apalagi’ hehehe…) istri adalah type wanita mandiri. Komplit!!! Ini bisa membuat istri merasa tidak perlu bergantung pada suami, dan bahkan cenderung meremehkan keberadaan suami. Dia akan menganggap dirinya berhak untuk mengambil segala keputusan tanpa harus berunding dengan suami. Hmm…maaf ya Sis, ini ibaratnya sebagai istri, dia sudah memenggal kepalanya sendiri.

Kita sama-sama belajar ya Sis, termasuk aku…. juga berjuang, untuk kita tahu memposisikan diri sebagai istri yang memperkenan hati Tuhan. God will help!!!