Arsip | Februari, 2018

WANITA …… (part 4)

19 Feb

“Ibu sih enak, punya suami yang baik dan sabar. Jadi tidak ada masalah buat Ibu untuk menghormati dia”, kata seorang ibu muda yang sedang curhat tentang suaminya.
Aku hanya bisa diam sambil menatap matanya dalam-dalam. Kubiarkan dia bercerita, menumpahkan uneg-uneg hatinya, agar dia lega. Kasihan dia, karena she has nobody to talk to.

“Suami saya itu..”,lanjutnya….”galaknya ga ketulungan, kata-katanya juga sering kasar, semua keinginannya harus dituruti dan didahulukan. Lalai sedikit…, ah sudah Bu…ga enak ngomongnya. Kalau ikutin emosi, saya sudah pingin pergi saja dari rumah. Tapi kasihan anak-anak, masih kecil-kecil”. Matanya mulai memerah dan suaranya juga tersendat-sendat. “Ssstt…inget ya…cerai bukanlah cara untuk lepas dari masalah”, kataku perlahan.

Aku terdiam lagi…bukan untuk membiarkan dia melanjutkan ceritanya, tapi aku speechless, tidak tahu harus berkomentar apa. Kebayang banget apa yang dia rasakan. Sebenarnya cerita serupa di atas, sudah sering aku dengar dari beberapa teman yang lain.

Dan…sekali lagi aku harus jujur, aku tidak punya clue khusus untuk memberi mereka jalan keluar. Ah…ini yang sering membuatku merasa sangat bersalah dan sedih. Mereka datang meminta nasehat dan aku hanya bisa jadi pendengar. “Saya melawan, bisa pecah perang di rumah, tapi kalau saya lemah di depan dia, malah di injak-injak”, kata seorang teman lain, di kesempatan yang lain.

Setelah dia (Ibu muda tadi) agak ‘reda’, entah dapat ide dari mana, tiba-tiba aku nyeletuk, bagaimana kalau kita mencoba berkompromi dengan diri sendiri, berkompromi dengan hati dan pikiran kita dulu. Susah!!! Ya..pasti, itu aku tahu.

Coba ambil waktu sedikit lebih banyak untuk berdiam diri. Kalau aku bilang ambil waktu untuk berdoa, rasanya kok klasik dan standard banget. Semua juga tahu kalau lagi sedang ada masalah kita harus berdoa. Yang aku maksud di sini memang berdoa , ya…tetap berdoa, tapi.. bukan doa dengan emosi tinggi, yang minta Tuhan buka jalan, minta Tuhan menyadarkan suami, minta Tuhan membebaskan kita dari beban batin dan lain lainnya, yang semuanya intinya minta Tuhan mengabulkan apa yang kita mau.

Tapi kita mau coba untuk mulai belajar menguasai diri dan menjadi tenang, supaya kita dapat berdoa dengan hati penuh kasih, karena kasih menutup banyak sekali dosa, kata salah satu Rasul Tuhan. Instead of memohon Tuhan mengubah karakter dan sifat kasar suami, kenapa tidak mencoba mulai dari diri kita sendiri.

Aku jadi ingat kalimat “Telur sama ayam lebih dulu yang mana?”. Apakah kita mau baik pada suami kalau suami sudah lebih dulu baik pada kita? Atau … kalau kita lebih dulu baik pada suami, apakah kira-kira dia akan jadi baik pada kita?.

Aku jadi ingat lagi statement suamiku, saat kami ikut retreat pasutri, yang dia sampaikan pada salah seorang moderator,”… dari dulu sampai sekarang dia selalu menuruti kemauan saya dan selalu menganggap saya sebagai kepala keluarga, dalam situasi apapun. Hal ini membuat saya, tidak akan memperlakukan yang tidak baik, seperti marah dll, tapi saya juga akan menghormati dan memperlakukan dia sebagai pendamping untuk selamanya…”.— Aku tidak mengada-ada, tapi itu yang aku alami. Bukan untuk kesombongan, karena tidak ada yang bisa buat aku sombongkan. Masih banyak pergumulan yang harus kuperjuangkan dalam pernikahan kami. Dan aku masih harus terus belajar…..

I just want to tell you the truth, kalau kita, para wanita, mau selalu berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri lebih dahulu, maka ‘atmosphere’ damai itu juga akan bisa dirasakan oleh seluruh keluarga.

Jadi…jangan pernah berhenti berharap ya Sis…karena Tuhan memberkati orang yang mengandalkan Tuhan dan yang menaruh harapannya pada Tuhan, dan ketika dalam kesesakan kita berseru kepada Tuhan, maka Tuhan akan menjawab dengan memberi kelegaan.

Yuk…kita mulai dulu untuk menenangkan diri supaya kita dapat berdoa dengan hati penuh kasih. Selanjutnya let God do His very best kindness for us. Amen

Iklan