DALAM LEMAHKU…AKU KUAT

24 Mei

Haru biru perasaanku terus menggelayuti batinku. Masih terbayang, sesah dan dera yang ditimpahkan pada Junjunganku. Orang-orang itu seperti tak punya hati… Kejam…. tak ada rasa kemanusiaan. Hancur hatiku melihatNya dinista sedemikian kejinya.

Masih terekam jelas dalam benakku bagaimana cambuk dan pukulan itu menghancurkan seluruh tubuhNya dari kepala sampai ke ujung kaki. Tak ada lagi rupa yang bisa kupandang. SemarakNyapun tidak ada sehingga tak sanggup aku untuk memandang Dia. Ia begitu dihina dan dihindari, seorang yang penuh kesengsaraan, sehingga orang menutup muka terhadapNya.

Sementara aku tahu persis, seperti yang pernah Dia katakan padaku waktu itu, bahwa sesungguhnya, penyakitkulah yang ditanggungNya, kesengsaraankulah yang dipikulNya di atas sana. Dia tertikam karena pemberontakanku, Dia diremukkan karena kejahatanku, oleh bilur-bilurNya aku menjadi sembuh.

Enggan rasanya kaki ini beranjak meninggalkan tempat Dia dikuburkan. Aku ingin menjadi saksi pertama dari kebangkitanNya. Dia sudah berjanji tentang itu.

Pagi itu, tiba-tiba aku mendengar suara ramai, orang-orang berlarian ke sana kemari di depan kubur Junjunganku. “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan”, sayup aku mendengar ucapan tersebut. Haa…? Apa yang telah terjadi? Mengapa aku tak melihat? Aku yang terus menerus ada di sini kok sampai tidak tahu ada orang masuk ke kubur Junjunganku

Mataku segera tertuju pada seorang Ibu yang sedang menangis, sambil melihat ke dalam kubur dengan pandangan nanar. “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan”, aku dengar dia berucap seperti menjawab pertanyaan seseorang dari dalam kubur itu.

Dan….Oohhh …. Sosok itu… ya…. Dia…Duh Gusti…Dia itu Junjunganku. Benar!!! Aku tak salah lagi. Junjungankulah yang berdiri di belakang ibu itu. Sungguh…Dia telah bangkit seperti yang Dia janjikan. Benarlah yang dikatakan bahwa Dia harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga.

Belum puas rasanya aku menikmati bahagia karena Junjunganku telah hidup kembali…ehh…aku melihat kerumunan orang banyak dan semuanya sedang menengadah melihat ke langit. Ada apalagi ini?.

Aahh…seperti tercabik rasa hati ini. Junjunganku terangkat ke sorga meninggalkan aku. Aku tak bisa lagi melihat wajahNya karena awan yang menutupNya dari pandanganku. Sesak dadaku menahan tangis yang hampir pecah. “Tuhan..Tuhan, mengapa Engkau meninggalkan aku? Mengapa tak Kau bawa serta aku pergi bersamaMu? Aku lelah dengan segala pergumulan hidupku. Aku bosan dengan segala ketidak adilan manusia. Ingin aku segera meninggalkan dunia ini. Tak ada lagi bara semangat dalam diriku untuk melangkah lebih jauh. Berhenti…hanya itu yang ada dalam pikiranku dan yang ingin kulakukan”.

Tak kuat kaki ini menahan beban kesedihan hatiku, dan aku jatuh terduduk…lunglai, dengan air mata yang membasahi kedua pelupuk mataku. Hilang sudah seluruh peganganku bersama perginya Junjungan dan pujaan hatiku.

Sayup…aku seperti mendengar bisikan lembut, “Janganlah gelisah hatimu…Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”.

Bak gemuruh ombak yang reda perlahan… ketenangan mulai memasuki hati dan pikiranku. Seperti ada seseorang yang mengingatkan aku akan semua yang Junjunganku pernah katakan kepadaku. “Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersuka cita karena Aku pergi kepada BapaKu. Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu”. Ah…ini yang menghibur aku.

Perlahan ku angkat wajahku, ku tatap masa depanku. Ada banyak hal baru yang Tuhan sediakan bagiku…untuk kulakukan. Masih banyak!!!. Tak boleh aku berenang dan menikmati kesedihanku. Cukuplah kasih karuniaMu, Tuhan…bagiku, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaMu menjadi sempurna, dan aku akan selalu belajar untuk bermegah walapun dalam ke tak berdayaanku, supaya kuasaMu turun menaungi aku.

Lalu…aku berjalan meninggalkan masa laluku untuk menyelesaikan semua yang belum terselesaikan, sambil menunggu Junjunganku menjemput aku, nanti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: