Arsip | Februari, 2016

HATI SEORANG IBU

2 Feb

Wajah itu terlihat dingin, kaku, tanpa ekspresi. Seperti tak berperasaan dia kebaskan sarang tempat anaknya biasa bermain, bersantai dan bercengkerama dengan sang bunda tercinta. Dia paksa anak yang selama ini dia buai, dia manja dan dia lindungi dengan semua daya yang dia punya, untuk keluar dari kenyamanan yang sudah selalu biasa dinikmati.

Sang anak marah, menganggap sang bunda tak lagi menyayanginya, tak peduli dan tak mau mengerti keadaan anaknya. Dia menilai sang bunda sebagai sosok yang sama sekali tidak bijaksana. Dimana itu yang namanya kasih Ibu sepanjang masa, tanya si anak dengan kesal. Seakan terjun bebas anak rajawali itu menukik ke bawah, dicekam rasa ketakutan yang tak terkatakan. “Habis sudah aku”, pikirnya.

Dari ketinggian, mata sang bunda terus menatap tajam, mengikuti setiap gerak sang anak saat belajar mengepakkan sayapnya. Tak sedetikpun dia lepaskan pandangannya melihat perkembangan demi perkembangan. Jantungnya berdegup keras menahan rasa tegang di dada. Sesungguhnya dia sendiri memang sangat sangat takut dan kuatir, melebihi apa yang dirasakan sang anak. Tiba-tiba….. dengan sigap dia kembangkan sayapnya, sambil meloncat dan menukik ke bawah dengan kecepatan penuh….. aahhh rupanya dia mendahului sang anak yang about to ground, dia songsong sang anak, dengan cengkeramnya yang kuat, dia tangkap anaknya dan dibawa kembali ke tebing tinggi tempat mereka tinggal

Keesokan harinya, kembali dia dorong anaknya untuk terjun, dan seperti hari hari sebelumnya, mata tajamnya tetap mengawal sang anak agar tak jatuh. Itu dia lakukan berulang-ulang sampai akhirnya sang anak tahu bagaimana menggunakan sayapnya untuk terbang – sendiri. Dan…. akhirnya si anak mulai menikmati terbang bebas di atas awan, lalu pergilah dia mengarungi alam, menjelajah dunia di luar sana.

Perlahan dia membalikkan badannya dan berjalan menuju tebing paling tinggi yang bisa dicapainya. Di sana dia duduk diam sambil mendongakkan wajahnya ke atas memandang langit lepas. Seolah dia mau menarik kekuatan baru dari sang Surya. Tak tampak lagi ketegaran dan garis-garis tegas di wajahnya. Aahh….dia sedih, sedih sekali.. seakan ada yang tercabik dari hatinya. Mata itu memandang ke depan – kosong, penuh dengan air mata yang merembang menutup kedua pelupuk matanya. Nanar dia berusaha mencari kalau-kalau masih bisa melihat gerak dan kepak sayap sang anak.

Kalau menuruti kata hatinya, ingin dia selalu berada dekat anak-anaknya, menjagai dan melindungi mereka dengan sayapnya sendiri. Dia ibu yang tak ingin jauh dari anak-anak-anaknya. Tapi dia tidak mau menjadi seorang ibu yang egois. Anak-anak harus mengejar masa depan mereka. Masa depan yang jauh lebih baik. Dia tahu persis, di sana anak-anaknya akan belajar tentang kehidupan, bukan hanya mengejar ilmu pengetahuan semata. Karena hidup adalah berjuang.

Berkali-kali dia memiringkan kepalanya, mengikuti arah angin, berharap ada kabar yang bisa dia dengar dari sang anak. 1 atau 2 kata berita tentang sang anak, sudah cukup membuat dia bersemangat menjalani hari-harinya

Baru kini aku mengerti, itulah hati seorang ibu. Tidak ada yang pernah bisa membaca ungkapan kasih dari hatinya, tidak ada yang bisa menyelami perasaannya ketika dia melakukan sesuatu, yang menurut dia, terbaik untuk anak-anaknya. Tidak ada yang sanggup menjangkau pikirannya, mengapa dia mampu berjuang habis-habisan demi anak-anaknya. Tak ada yang paham….karena hati seorang ibu ibarat sebuah ruang rahasia tempat dimana dasar segala ketulusan cinta bersemayam. Cinta seorang ibu memang tidak selalu harus berbentuk sesuatu yang terlihat.

Dari kejauhan aku melihat guratan gundah itu masih menggelayut di wajah sang bunda, dan lamat lamat aku mendengar dia berbisik,
“Anakku,
Jika engkau merasa sepi di seberang sana, maafkan Ibu
Percayalah…doa Ibu selalu menyertai kemanapun engkau berjalan

Jika engkau merasa berat berjalan sendiri, maafkan Ibu
Percayalah…engkau akan sanggup melewatinya
Engkau anak Ibu yang sangat kuat, Ibu tahu itu

Jika engkau merasa takut dan gelisah, maafkan Ibu
Percayalah…Tuhan penjagamu, Dia yang menyertai engkau
Gada dan tongkatNya, itulah yang menghiburmu

Anakku, bersama kita akan menyempurnakan puzzle kehidupan kita
Jaga….jangan sampai ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan itu yang hilang
Pergumulan dan ranamu di sana adalah duka Ibu
Karena engkau adalah belahan jiwa Ibu”

Lalu lanjutnya….
“Ibu menunggumu pulang bersama dengan tawa keberhasilanmu”

Ternyata hati seorang Ibu tidak setegar apa yang terlihat di wajahnya.
Dan air mata itu masih terus mengalir….

Iklan