Arsip | November, 2015

SULITNYA ORANG SEPUH ….!!!

11 Nov

Seorang Om tua sempat mengeluh,”Anak-anak saya semua pada sibuk, mereka sudah tidak ada waktu lagi buat saya. Bahkan untuk menelpun saja, mereka juga tidak sempat”. “Kenapa bukan Om saja yang menelpun mereka?”, jawabku mencoba supaya dia tidak selalu menyalahkan anak-anaknya. “Boleh donk, Om yang menanyakan kabar mereka”.—“Ah gak mau….ya anak-anak donk yang harus tahu diri, masak kecil dibesarkan sudah besar melupakan orang tuanya?” — waduh….capek deh!!!—si om ngambek nih

Di waktu yang berbeda, seorang teman juga penah ‘curcol’ (=curhat colongan) tentang ibunya,”Saya jadi bingung menghadapi ibu saya, tiap hari ada saja yang salah. Dari saya mengatur rumah, mendidik anak, sampai pembantu yang kerja,…. ga pernah ada benernya”- “Belum lagi kalau dia mau beli sesuatu. Beli beras harus di tempat yang dia dulu biasa beli, cari minyak angin harus ke toko langganan dia, padahal itu minyak angin biasa yang bisa di beli disemua mini market terdekat. Alasannya, harga di toko langganan dia (katanya) lebih murah. Yang jadi masalah, kita harus anter dia ke tempat langganan-langganannya tersebut yang jarak antara satu dengan yang lain bikin uurrghhhh….belum lagi macet jalanan. Ini yang tidak dia perhitungkan. Waktu, bensin dan bayar tol. Sekali lagi…..capek deh!!

Beda lagi dengan cerita teman yang lain. Mertuanya hobby masak, dan… dia selalu masak dengan porsi banyak, seperti jaman dia muda dulu (maklum dia dari keluarga besar). Yang ada masakannya tidak pernah bisa selalu habis dimakan. Parahnya, makanan yang lebih itu tidak boleh diberikan ke “mbak” di belakang. Dia masih mau, katanya. Dia simpan tuh di kulkas dan….lupa!. Giliran sudah kurang enak, dia coba olah lagi dengan tambahan bumbu ini itu, alhasil……ga ada yang mau menyentuh makanan yang sudah tidak jelas begitu. Akhirnya dia marah kemana-mana.

Sebenarnya banyak banget cerita tentang sikap orang tua (sepuh) yang “aneh-aneh”, “lucu” dan bikin ketawa (bagi yang tidak mengalami), tapi bagi yang tiap hari menghadapi orang-orang sepuh seperti di atas (dan masih banyak lagi sih)….hmmmm…maaf ya, bisa bikin kita berdosa terhadap orang tua. Mau dilawan, mereka orang tua kita, mau didiamkan kok makin menjadi-jadi, dan bikin kita “gondok” sampai tidak bisa menahan emosi. Rasanya batas kesabaran kita benar-benar diuji menghadapi situasi seperti ini

Tak jarang mereka melakukan apa yang kita larang dan mengabaikan apa yang kita minta mereka lakukan. Ini benar-benar membuat kita jengkel dengan sikap mereka yang seperti anak kecil. Kita minta mereka jalan hati-hati, kita tuntun supaya tidak jatuh….eh malah mempercepat langkahnya, seolah mau menunjukkan kalau mereka masih kuat dan tidak butuh bantuan. Kalau perlu/minta sesuatu, maunya seketika itu juga sudah harus ada, tidak sabar menunggu. Tidak bisa mengerti kalau kita masih ada hal rutin (pekerjaan) yang harus diselesaikan.

Permintaan orang tua yang macam-macam, atau sikap mereka yang semaunya sendiri ini memang bisa membuat kita stress dan frustasi. Dan..sebenarnya merekapun sama stress dan frustasinya seperti kita.

1. Tidak semua orang bisa menerima kondisi dirinya yang semakin ‘sepuh’ – getting older. Banyaknya keterbatasan fisik sering membuat mereka seperti kehilangan kepercayaan diri. Dari kita lahir sampai kita dewasa, sebelum bisa mandiri, kita selalu bergantung pada mereka, tapi sekarang keadaannya terbalik, kitalah yang merawat mereka dan mereka banyak tergantung pada kita. Kenyataan ini tentu sangat sulit buat mereka.
2. Kesuksesan dan kesibukan anak-anak membuat mereka merasa terabaikan, sehingga tak sedikit yang merasa (seolah) gagal dalam hidupnya dan tidak lagi berguma. Hal ini dapat membuat anak-anak ada dalam posisi yang salah. Seperti contoh curhatan di atas, karena sebenarnya mereka ingin diperhatikan
3. Kesehatan yang mulai menurun membuat getting older people menjadi sangat tidak nyaman. Harus mengurangi makanan ini, tidak boleh makan itu. Harus rutin makan obat. Ruang dokter atau Lab, sudah menjadi tempat yang biasa dan sangat sering di kunjungi. Aahh…kasihan juga sih sebenarnya

Lalu dengan karakter mereka yang makin hari, menurut kita, makin sulit itu, apakah kira-kira bisa dirubah? Akankah perkataan kita bisa mereka dengar dan terima?. Kita tahu ‘mindset’ orang jaman dulu adalah “Orang tua bicara anak mendengar”. Kalau umur mereka 60 tahun saja, coba bayangkan, berapa puluh tahun mereka sudah dalam zona “kebiasaan” hidup dengan cara mereka itu. Sanggupkah kita mengubah mereka. Terlebih untuk mereka yang sudah usia 80 tahun ke atas. Jadi saya hanya bisa katakan,”Put your expectation on your Zero point when you want them to change”  (Jangan berharap terlalu banyak). Peluru terakhir yang bisa saya tembakkan di sini adalah berdoa, minta Tuhan kasih kita hikmat dan kesabaran. That’s it …. Pasrah? — Mungkin!! Apapun keadaannya, kita tahu perintah Tuhan bahwa anak harus menghormati ayah dan ibunya. Dilema, pastinya.

Setiap kita juga akan memasuki masa tua. Akan ada banyak hal baru yang bakal kita hadapi di usia sepuh nanti. Rasanya wajib bagi kita untuk mempersiapkan diri sedini mungkin agar bisa menerima setiap perubahan dalam diri dan dalam hidup karena faktor usia ini. Raja Salomo pernah mengatakan bahwa menjalani hari-hari tua itu identik dengan menjalani waktu dengan tidak ada kesenangan di dalamnya. Tapi tentunya kita ingin menikmati hari tua kita dengan bahagia dan penuh suka cita, bukan?

Mengapa kita tidak belajar untuk berkompromi dengan hati kita sendiri dan berdamai dengan keadaan. Hanya sukacita Illahi yang menjadi kekuatan kaum sepuh menjalani hari-harinya, sambil juga melakukan berbagai kegiatan ringan yang masih bisa dikerjakan. Dengan demikian kita akan bebas dari banyak kekhawatiran, keadaan yang sangat ditakutkan oleh orang lanjut usia.

Jadi…selain doa kita panjatkan buat orang tua kita, persiapan diri kita sendiri menjelang masa tuapun perlu kita kerjakan dari sekarang, agar tidak merepotkan anak mantu dan cucu.

So be prepared, guys!!!

Iklan