Arsip | Juli, 2015

MESRA DI USIA UZUR

27 Jul

Mataku tiba-tiba nyangkut di meja sebelah tempat aku makan berdua bersama dengan suami, di sebuah depot mie ayam tak jauh dari rumah. Di situ duduk sepasang suami istri…yang kalau aku tak salah menebak, mereka sudah berusia di atas 75 tahunan.

Wajah keriput si Tante tetap saja masih mampu menyiratkan sisa-sisa kecantikan masa mudanya, dan cara dia berpakaian juga masih rapi dan apik. Juga si Oom, masih terlihat sehat, walaupun agak sedikit ‘bongkok’ karena usia. Dia pasti orang yang berwibawa dulunya, tapi ada aura bijak yang aku bisa rasakan di raut wajahnya

Mereka asyik menikmati porsi kecil mie ayam, dengan perlahan, sesuap demi sesuap. Gerakan mereka terlihat lamban. Dengan tangan yang bergetar (karena usia) si Oom mengambil acar dan meletakkan di mangkuk si Tante. Tak lama kemudian si Tante, dengan bahasa isyarat tangannya, memberitahu si Oom kalau ada daun bawang nempel di bawah bibirnya. Sweet bangeettt…!!! Dengan cara yang sangat sederhana aku ‘membaca’ betapa mereka masih saling memperhatikan

Kusenggol suamiku, dengan gerakan kepala ku arahkan dia untuk melihat meja si Oom dan Tante, sambil berbisik..”Kita besok tua juga kayak gitu ya” – Ciiaaa…..dan …seperti biasa, dengan gaya coolnya dia tidak berkomentar dan kembali membaca incoming text di hapenya. Haha….dia memang begitu. Tapi aku tahu dan yakin, dia sependapat denganku. Yakin nih yee…!!! Buktinya sekarang kita juga lagi duduk berdua di depot mie ayam ini khan. Hehehe…..

Sambil menikmati mie di depanku, ekor mataku terus memperhatikan si Oom dan Tante tadi. Tampak asyik juga mereka ngobrol, dengan gaya orang tua dan aku ga tau apa yang diobrolin – ya pasti lah ya. Lama banget mereka menghabiskan porsi kecil itu. Aku tahu mereka pesan yang ½ porsi, terlihat dari mangkuknya. Sementara aku dan suami yang datang lebih akhir dari mereka dan pesan yang porsi normal, malah sudah selesai duluan. Tapi sengaja aku dan suami tidak beranjak dari tempat kami karena pingin lihat gimana Oom dan Tante tadi.

Nah selesai sudah mereka, sudah bayar pula. Yang menarik perhatianku saat mereka hendak keluar dari tempat duduk mereka. Kelihatannya susah banget bergeraknya. Sambil berpegangan pada meja mereka akhirnya berdiri…diam dulu sejenak (Mungkin untuk mencari posisi menghilangkan rasa nyeri di persendian) baru kemudian melangkah perlahan sambil bergandengan tangan, layaknya sepasang anak muda yang baru pacaran. Tanpa sadar saya dan suami mengikuti mereka dari belakang….sambil bergandengan juga. Hihi…..

Statement yang selalu kita dengar di upacara pernikahan – menikah itu sekali dan seumur hidup. Artinya sebuah komitmen suami istri untuk menghabiskan waktu berdua sampai akhir hayat, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Tapi banyak pula yang mengatakan dengan bertambahnya usia pernikahan, akan makin berkuranglah gairah cinta suami istri kalau tidak mau dikatakan bisa hilang, yang tinggal hanyalah perasaan 2 orang teman. Is it???

Tapi dari sikap Oom dan Tante tadi rasanya aku masih sangat yakin mereka berdua masih sangat saling mencintai, saling peduli dan saling menopang. Seperti biasa….mulai deh aku berpikir…. Apa yang membuat mereka berdua tetap saling romantis (ala usia tua) gitu?

• Usia pensiun dan anak-anak sudah besar dengan kegiatannya sendiri, sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk berdua. Bisa jalan-jalan, menikmati makan di luar, berolahraga atau melakukan kegiatan sosial – bersama, seperti masa pacaran atau bulan madu dulu
• Makin tua, logikanya, orang makin bijaksana sehingga bisa memahami kelemahan pasangannya dan menerima apa adanya. Seperti Oom dan Tante tadi, yang sama-sama butuh waktu lama untuk keluar dari tempat duduknya, lalu saling bergandengan tangan dan saling menopang
• Cinta yang terpancar lewat mata Oom dan Tante tadi mengingatkan aku pada arti Companionate Love, keterikatan cinta dengan saling menghormati, menghargai, peduli. Tidak lagi saling menuntut
• Mungkin, sekali lagi mungkin, karena aku belum sempat menginterview mereka (hehe…) kebutuhan biologis pasangan seumur mereka sudah tidak harus lagi dimaknai dengan hubungan intim, tapi dengan jalan bareng sambil bergandengan tangan atau berpelukan, sambil bertatapan mata saat ngobrol, itu sudah cukup memberikan sensasi pernyataan cinta mereka

Makin hari akupun makin tua, keriput diwajah makin bertambah, dan sepertinya fisik juga tidak sekuat dulu lagi. Aku baru meyadari ketika liburan lebaran kemarin harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sendiri selama si Mbak pulkam..eerrghh…rasanya badan ini sudah mulai tidak bisa berkompromi lagi. Gampang lelah. Mungkin karena faktir “U” ya, karena sudah terbilang tidak muda lagi. Ya ..tapi masih muda kok dibanding Oom dan Tante tadi..hahaha…ga mau ngakuin tua ya!

Menjaga kelanggengan nikah dan juga keharmonisan rumah tangga, ternyata tidak cukup hanya dengan modal cinta saja. Apalagi cinta buta gaya anak remaja. Menyadari bahwa kita bukan mahkluk sempurna, maka sangat disarankan, dengan bertambahkan usia + usia pernikahan, masing-masing suami istri bisa saling bertoleransi dan lapang dada untuk menerima kekurangan dan kelemahan pasangannya. Coba bayangkan apa yang terjadi seandainya si Oom ga sabar dengan gerakan lamban si Tante, begitu juga sebaliknya. Lah wong keduanya juga sama-sama lamban bergeraknya

Kuncinya, masing-masing pribadi mau terus belajar, sekali lagi belajar untuk mengetahui dengan jelas keadaan pasangannya, kebutuhannya, cara pandang dan kondisi fisik yang sudah berubah. Dan ini hanya bisa didapat lewat komunikasi dan keterbukaan berdasarkan cinta dan komitmen yang diucapkan pada janji nikah dulu, seperti yang dinasehatkan rasul Tuhan agar kita selalu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, karena di dalam Dia selalu ada masehat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan.

Woa keren jadinya ya kalau ada Tuhan di tengah hidup pernikahan kita, mesra teruuss walau usia melaju kencang.

Iklan

AYAH SANGAT MENCINTAIMU…….

6 Jul

Memang ayah sering menegurmu keras karena kau lupa meletakkan kembali kunci mobil di tempatnya, dan kau cemberut kesal. Ayah tahu, kalau ayah sendiri juga sering lupa, apalagi dengan usia Ayah yang diatas setengah abad. Ooo…anakku, mungkin Ayah jauh lebih sering lupa di banding kamu. Ayah harus akui itu.

Kau mungkin merasa jengkel sambil menahan marah, mendengar omelan Ayah ketika kau membawa mobil agak ngebut dan tiba-tiba rem mendadak untuk menghindari mobil di depan. Apa tak kau lihat Ibumu yang kaget dan takut? Dengan omelan Ayah itu, apa kau kira Ayah pengemudi yang handal dan tidak pernah nyerempet mobil lain?. Tidak …anakku. Motorik ayah sudah jauh berkurang dan minggu lalu hampir saja Ayah ditabrak mobil dari belakang karena Ayah lupa memberi sign, dan langsung belok ke kanan. Hampir saja..!. Ayah juga heran kenapa Ayah tidak se fokus dulu lagi

Ayah ingat betul, kau langsung berdiri dan masuk ke kamarmu saat ayah mencela pembicaraanmu. Waktu itu kau bercerita bahwa kau habis makan-makan di tempat yang (menurut ukuran Ayah) cukup mewah. Maksud Ayah ingin menasehati kamu agar bisa memanage uang dengan baik, karena perjalanan masa depanmu masih panjang. Cuma mungkin kalimat Ayah kurang berkenan di hati kamu, karena memang Ayah bukan penyusun kata yang baik. Ayah tidak keberatan kau menikmati masa mudamu, anakku, Ayah hanya ingin kau belajar

Anakku, Ayah sadar bahwa Ayah belum bisa menjadi Ayah yang membanggakan buat kamu. Ayah jauh dari sempurna sebagai Ayah idaman, karena Ayah sering membuat kau jengkel, kesal dan marah. Tapi bagi Ayah, kau adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan dalam hidup Ayah, dan Ayah berhutang kepada Tuhan untuk membimbing, membesarkan dan mendidik engkau sebaik mungkin, di tengah ketidak sempurnaan sikap Ayah terhadap kamu, seperti nasehat Si Bijak “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu”. I am committed to be there whenever you need me, I will do everything for your success and happiness, and most of all is your spiritual life.

Kau sudah makin bertambah dewasa sekarang, dan Ayah sering terharu melihat kau membawa pulang makanan-makanan supaya Ayah bisa mencicipi. Kau memang anak yang baik, itu sebabnya Ayah selalu berdoa agar kau mendapatkan yang terbaik dalam hidupmu. Tapi Ayah masih belum bisa menghilangkan kekhawatiran Ayah saat kau bepergian sendiri hmm….padahal kau sudah besar ya…dan sudah bisa menjaga diri, tentunya. Tetap saja di mata Ayah kau adalah anak Ayah, dan Ayah ingin selalu menjagai kamu dengan memastikan bahwa everything is ok with you.

Mungkin kau berpikir Ayah terlalu otoriter dan kholeric, apalagi kalau kau telat bangun, Ayah terkesan sangat keras membangunkanmu. Ayah hanya ingin kau disiplin dan bisa mengatur waktu. Ibu sering mengingatkan Ayah soal ini, tapi di lain waktu juga Ibu mengatakan Ayah terlalu permisif kepadamu, karena ayah lebih sering menuruti semua permintaanmu, ketimbang menolaknya. Benar….Ada kepuasan tersendiri di hati Ayah bisa membuat kau bahagia.

Betapa bangganya Ayah, melihat kau berjalan mengikuti prosesi kesarjanaanmu bersama para wisudawan yang lain. Ah…lega rasanya. Kau tampak gagah dan tampan, anakku. I am so proud of you. Terimakasih anakku, untuk perjuangan dan usahamu. Ayah tahu this is not the end of your struggle, but this is the very first beginning for you to start your future. Kejar terus masa depanmu, anakku, selagi kesempatan itu masih ada. Ingin Ayah melihat your next success.

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita, dalam hidupmu. Ayah sungguh bersyukur pada Tuhan, karena itu, pesan Ayah, hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

Bukan Ayah mau mencari excuse dan pembenaran diri, sikap Ayah yang mungkin kau pandang keras dan tidak mau mengerti kamu, … semua Ayah lakukan karena Ayah sangat mencintai kamu, anakku.