Arsip | Agustus, 2014

CINTA DALAM MASAKAN ISTRI

6 Agu

 “Aku seneng deh, ternyata suamiku suka banget sama nasi goreng buatanku, padahal kau tahu khan kalau aku paling ga bisa dan ga suka masak!”
 “Ah..aku sih sudah ga perhatiin lagi, suamiku suka atau ga dengan masakanku, yang jelas tiap hari aku masak dan dia makan”
 “Ya…aku kemarin juga terpaksa, abis si mbak pulkam dan tempat makan banyak yang libur lebaran. Eh….kata suamiku nasgorku enak. Hahahaha…..”
Hm…..kehidupan suami istri memang selalu complex dan tidak pernah habis untuk dibicarakan
Ada suami yang cuma sekali sekali dimasakin sama istri, hanya sederhana seperti nasi goreng (di atas) misalnya – itupun dengan pakai bumbu instant pula, sudah senangnya luar biasa dan memberikan great compliment (pujian) atas hasil karya sang istri. Tapi tak sedikit juga suami yang mungkin saking biasanya makan masakan istri, boro-boro pujian, mengatakan “masakan kamu enak, sayang!” – itupun hampir tak pernah terucapkan. Dan benar kata teman diatas, yang jelas dia makan, dan selalu nambah. Berarti…….apa donk? – Menurut saya, itu adalah pujian yang tak terucapkan

Saya punya teman lain yang sudah menikah sekitar 16 tahun lebih (kalau saya tidak salah hitung, hehehe), si suami hobby makan, itu terlihat jelas dari postur tubuhnya, apalagi kalau kita sedang ngobrolin soal makanan, semangat banget dia.

Suaminya bilang, keluarganya makan di luar paling cuma seminggu sekali, pas week end, untuk coba tempat-tempat makan baru. Kalau ada menu yang enak, dia tahu persis, istrinya akan coba buat sendiri di rumah, dan, ya…walaupun tidak 100% sama, tapi lumayanlah mirip dan bisa dimakan, kata dia. Secara tidak langsung dia bangga dengan istrinya (bilangnya ga di depan si istri loh) yang memang suka masak, jadi dia ga pernah komplen soal masakan istrinya dan dia enjoy saja dengan setiap menu yang disajikan. “Lebih sehat dan nikmat makan masakan istri”, tambahnya. Duh ileehh…! Betapa senangnya sang istri kalau dia dengar ini.

Soal masak memasak, sepertinya memang tidak bisa lepas dari tanggung jawab yang harus dilakukan oleh seorang wanita (pada umumnya, maksud saya), terlepas dari suka atau tidak, bisa masak atau tidak, adalah sudah merupakan naluri seorang ibu/istri untuk menyediakan makanan yang menyehatkan buat keluarganya. Selalu ada cinta yang menyertai setiap menu yang disajikan.

Seorang ibu menasehati anak laki-lakinya yang baru menikah, “jangan pernah membandingkan masakan istrimu dengan masakan ibu, apalagi menghinanya karena kurang enak”. Di sini, saya hanya ingin menggelitik hati para suami (maaf ya!), untuk bisa sedikit menghargai usaha dan perjuangan sang istri yang ingin memberikan yang terbaik soal urusan ‘meja makan’ ini. Bayangkan, betapa sedih hatinya ketika dia sudah masak sehari penuh, tahu-tahu sang suami minta dibikinkan telur ceplok dan makan dengan kecap manis saja. Mubasir sudah semua menu yang tersedia di atas meja. Ini pernah dialami sahabat saya sendiri dan sejak saat itu dia tidak mau lagi belajar masak. “Sakit hati”, katanya.

Percaya deh, tidak ada ibu yang sengaja masak makanan yang tidak enak, terlalu hambar, terlalu asin, terlalu manis, atau mungkin terlalu pedas, ketika dia tahu suami dan anak-anaknya tidak suka pedas. Dia pasti akan selalu menyiapkan makanan yang menjadi kesukaan keluarganya. Pernahkah kita berpikir tentang ketulusan hati seorang ibu? Dia hampir tidak pernah mengeluh atau jera karena tangannya tergores pisau, melepuh kena minyak atau penggorengan panas. Semua itu seakan sirna ketika dia melihat suami dan anak-anaknya menyantap masakannya dengan lahap, walaupun tanpa ada ucapan terimakasih, setelah itu. Melihat mereka makan dengan nikmat saja sudah merupakan kebanggaan tersendiri bagi seorang istri/ibu
Saya harus bersyukur karena suamiku selalu menikmati makan di rumah, apapun lauknya. Kadang masakanku kurang asin atau dagingnya masih alot, dia cuma bilang,”Ini akan lebih enak kalau dagingnya lebih empuk” — hm….makin semangat aku jadinya untuk mencoba lagi, untuk lebih baik. (I thank him always for his continuous support- He is really my good soulmate)

Ada yang mengatakan,”Seorang wanita tidak membutuhkan pujian atas kecerdasannya (loh padahal wanita paling senang di puji khan?- red), tapi wanita akan merasa bangga ketika suaminya menghargai setiap usaha yang dia lakukan untuk membuat suami dan anak-anaknya bahagia”
Seorang Rasul Tuhan menganjurkan agar para wanita mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya…. Raja Sulaimanpun berkata bahwa perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.

Dan …. Saya pikir benar juga kata pepatah kuno,“Cinta suami datangnya dari perut (masakan)”. Itu sebabnya, bagi para Ibu, jangan pernah patah arang untuk terus belajar dan mencoba yang terbaik buat keluarga yang sudah Tuhan percayakan pada kita. Ada atau tidak adanya pujian, Tuhan tetap melihat setiap usaha yang kita lakukan dan ….. satu kali nanti kita akan memetik buahnya. —- Percaya deh!

Iklan