Arsip | April, 2013

TEGAR

27 Apr

Ketika melihat persoalan hidup yang tak kunjung selesai. Ketika tantangan demi tantangan selalu datang menghadang. Ketika semua orang selalu mencari dan menemukan kesalahan. Habis sudah tenaga untuk bertahan. Tak kuasa lagi kaki ini untuk melangkah. Lelah hati ini untuk selalu berbantah. Serasa keluh lidah ini untuk berkata. Dan asapun seakan terlalu jauh untuk kugapai.

Berkaca pada cara hidup burung rajawali, menyadarkanku bahwa realita hidup harus dihadapi, bukan untuk dihindari. Rajawali memang di lahirkan di tengah kerasnya kehidupan tapi dengan percaya diri dia selalu mengembangkan sayapnya saat terbang, bukan mengepak-ngepakkannya. Jadi dia selalu terbang dengan kekuatan angin. Bukan mengandalkan kekuatan tenaganya semata. Itu sebabnya burung rajawali tidak pernah takut pada badai. Dia bahkan menunggu dan menggunakan badai untuk melambung tinggi dan lebih tinggi lagi.

Jika burung lain selalu terbang kesana kemari beramai-ramai dalam kelompoknya, rajawali akan terbang sendiri menembus awan, melintasi angin dan menerjang badai. Bukan karena dia egois atau tidak bisa bersosialisasi. Tapi karena dia tahu, dia tidak bisa terlalu mengandalkan pertolongan, empati dan simpati dari orang lain.

Kala kekuatannya mulai melemah, dia akan segera mengambil waktu untuk sendiri dengan pergi ke atas bukit atau gunung. Tempat yang paling tinggi yang bisa dia capai dimana dia dapat menikmati sinar matahari langsung dengan leluasa. Di sana dia akan berdiam diri – sendiri dan dia tidak terbang.

Di saat itulah dia akan mulai membiarkan dirinya masuk dalam sebuah transformasi pembaruan. Dia tahu itu akan sangat menyakitkan, karena dia harus mematuk-matukkan paruh lamanya yang sudah melengkung panjang sampai tanggal, agar muncul paruh baru yang lebih tajam dan kuat. Paruh baru tersebut akan digunakan untuk mencabuti cakar tuanya satu persatu guna memberi ruang pada kuku-kuku baru yang memiliki daya cengkeram yang lebih kuat. Dengan cakar barunya rajawali akan membuat rontok semua bulu sayapnya yang tebal dan berat, yang menyulitkan dia untuk dapat terbang tinggi. Kembali dia harus menunggu sampai bulu-bulu baru tumbuh pada sayapnya. Dibutuhkan waktu sekitar 5 – 6 bulan (bukan waktu yang singkat) untuk seekor rajawali mendapatkan kekuatannya kembali dan melanjutkan hidupnya. Menjadi seekor rajawali dengan kekuatan dan semangat yang baru.

Melihat kegagahan, keperkasaan dan keberanian serta segala kelebihan yang dimiliki oleh rajawali, maka bisa saja dia menjadi seekor burung yang sombong dan merasa diri paling berkuasa, sebagai King of the Sky. Tapi melihat pengalaman hidupnya, burung rajawali adalah juga burung yang paling sering mengalami kegagalan. Dia tidak selalu berhasil memburu mangsanya dengan sekali tukik. Tapi rajawali termasuk burung yang sangat tenang dan sabar untuk mendapatkan makanannya. Sering dia harus berjam-jam melayang-layang di udara, menunggu saat yang tepat untuk menangkap mangsanya. Bila gagal, dia tidak pernah bahkan pantang untuk menyerah. Dia tetap tegar. Dia akan terus berusaha untuk mempertahankan hidupnya, tanpa harus kuatir.

Harusnya aku menyadari bahwa hidup adalah perjuangan. Bersama dengan Tuhan aku akan selalu mendapatkan kekuatan baru, bagaikan rajawali yang naik dan terbang dengan kekuatan sayapnya, aku akan berlari dan tidak menjadi lesu, aku akan berjalan dan tidak menjadi lelah. Segala perkara pasti dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Akan kulakukan apa yang menjadi bagian dan tanggung jawabku, selebihnya akan kutunggu waktunya Tuhan dengan penuh keyakinan. Aku tak akan pernah menyerah sesulit apapun keadaannya. Perubahan pasti akan terjadi, karena Tuhan adalah gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku dan Dialah yang menyelamatkanku. Aku pasti bisa jadi pemenang. Bersama Dia aku tidak takut lagi.

Iklan

EMANSIPASI versus AKTUALISASI

20 Apr

Rasanya semua pasti tahu kalau Hawa diciptakan bukan dari tulang kepala Adam, maksudnya supaya wanita tidak merasa lebih hebat dan lebih berkuasa tanpa arah. Dia juga tidak diciptakan dari tulang kaki Adam karena memang wanita ada bukan untuk ditindas atau dipandang rendah. Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, karena di mata Tuhan wanita adalah ciptaan yang sepadan dengan pria. Dan tatanan ini sudah dibuat sedemikian indahnya sebelum gaung emansipasi berkumandang di seluruh pelosok bumi ini

Terlepas dia seorang pria atau wanita, pada dasarnya manusia membutuhkan suatu aktualisasi diri untuk membuat hidupnya bermakna. Lewat apa yang dia lakukan, manusia berusaha untuk mencapai kepenuhan hidupnya ini. Karir, karya yang diciptakan, aktifitas ataupun ekspresi diri merupakan sarana supaya dia bisa diterima di lingkungannya.

Karena alasan emansipasi pula wanita jaman sekarang ingin menunjukkan aktualisasi dirinya, apalagi dengan makin terbukanya kesempatan yang sama antara pria dan wanita diperbagai bidang pekerjaan, tanpa mengindahkan gender lagi. Dengan bekerja dan profesi yang dimiliki, wanita mempunyai sense of self dan dia tidak lagi merasa menjadi “tiyang wingking” atau second man yang hanya tahu seputar dapur, halaman rumah dan merawat anak. Dia juga bisa menjadi penolong bagi suaminya secara financial.

Namun makin banyak wanita bekerja yang terbius dengan dunia profesionalisme-nya. Mereka merasa lebih nyaman berada di tempat kerjanya dibanding di rumahnya sendiri. Parahnya lagi tidak sedikit ibu bekerja karena dia ingin lari dari rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.

Dari semula, wanita diciptakan dalam kondisi yang berbeda dengan pria, baik dalam penampilan fisik, kejiwaan, parasaan serta karakter, sama sekali tidak ada yang sama. Ada banyak kelebihan yang dimiliki wanita dan tidak ditemukan pada pria. Ada beribu kekuatan yang terdapat dalam diri wanita yang kaum pria tidak akan sanggup menanggungnya. Karena hanya wanita yang sanggup melakukan Multi Tasking Job. Dan sekiranya dia mendapat kesempatan untuk memimpin sebuah pekerjaan, maka dia akan menjadi seorang pemimpin yang sangat bertanggung jawab dan “detail”. Naluri keibuannya akan dapat mengayomi dan mengarahkan anak buahnya untuk bekerja dengan baik.

Tapi ada berjuta kelemahan yang harus jujur diakui oleh wanita, karena memang pria memiliki “langkah” yang lebih panjang darinya. Sekalipun demikian, wanita tetap memiliki tempat yang khusus di hati Tuhan. Dia sangat berharga di mataNya. Keberadaannya selalu dibutuhkan oleh keluarga dan orang banyak di sekitarnya. Perjuangannya tak akan pernah dipandang rendah. Pengorbanannya tak akan pernah sia-sia. Dan semua ini memang demikian adanya karena dua makhluk ini diciptakan untuk saling melengkapi. Tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.

Emansipasi memang harus ada, aktualisasi diri memang diperlukan, tapi masing-masing pribadi tentunya tidak harus keluar apalagi cross border dari struktur kodrati Sang Pencipta. Pria dengan sifat superiornya membutuhkan orang yang dapat menghormati dan menghargainya, sementara wanita, sepandai dan sekuat apapun dia, akan selalu mencari tempat berlindung yang dapat memberinya rasa aman dan nyaman, agar dia bisa terus mengeksplor potensinya.

Masing-masing pribadi sudah mempunyai tempatnya sendiri..  Selamat hari Kartini!

WANITA (tetaplah) KUAT

6 Apr

Kisah dan cerita pengalaman tentang perjuangan seorang istri dalam meng-hadapi prahara rumah tangganya, seakan tak pernah mengenal kata tamat. Setiap hari selalu ada saja topik dan kejadian baru yang terdengar. Dari yang bikin merinding sampai yang bikin hati miris. Begitu banyak perempuan yang harus jatuh bangun mencari kekuatan untuk mempertahankan rumah tangganya. Apalagi bagi mereka yang sudah memiliki anak.

Ada yang mengeluh karena suaminya galak, garang dan gampang ‘turun tangan’. Ada pula yang tertekan dan bingung harus bagaimana mengatur semua kebutuhan rumah tangga, dari uang sekolah anak, bayar tagihan air dan listrik, sampai belanja dapur dengan anggaran yang terbatas karena suami sengaja memberikan ‘petty cash’ dengan catatan “Cukup ga cukup ya harus dibuat cukup”. Belum lagi kisah-kisah mengenaskan yang bernuansa per-selingkuhan, dimana seorang wanita terpaksa harus merelakan membagi cinta suaminya dengan pihak ketiga, tanpa berani mengungkapkan pada orang lain. Dengan alasan demi menjaga perasaan anak dan keluarga besarnya.

Haruskah wanita selalu menjadi obyek penderita yang tak pernah punya hak untuk mendapatkan jalan keluar?.

Tangis tertahan dibalik wajah yang terlihat tegar mengiringi cerita seorang ibu tentang sikap dan perlakuan suaminya yang tidak pernah peduli dan selalu berkata kasar. Tamparan dan pukulan dari suami seakan sudah menjadi sahabatnya sehari-hari, hanya untuk hal-hal sepele yang dia sendiri tidak mengerti apa kesalahannya. Baginya sakit di badan sudah tak dirasakan (mungkin sudah kebal ya?-red), tapi nyeri itu terasa sangat perih menikam perasaannya. Itu yang terus tersimpan dalam hatinya

Banyak cara yang ditawarkan dunia untuk mengatasi perilaku suami yang tidak pada tempatnya ini. Nasehat, anjuran dan kata-kata penghiburan serta tips-tips untuk tetap bertahan akan sangat mudah didapatkan apabila datang pada mereka yang tidak dan belum pernah mengalami badai dalam rumah tangganya. Malah ada anjuran yang paling menakutkan sering dilontarkan oleh orang yang cukup (maaf) di ‘tua’kan, “Ceraikan saja suami macam begitu”. Sementara kita semua tahu bahwa sebenarnya Tuhan telah menetapkan apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak dapat diceraikan oleh manusia, kecuali oleh kematian. Itu adalah kaidah awal yang Tuhan ciptakan dalam sebuah perkawinan. Perceraian tidak akan pernah menjadi solusi terbaik.

Menikah bagi seorang wanita memang merupakan sebuah pilihan dan sebuah keputusan. Namun rasanya tak ada seorang wanitapun di dunia ini yang ketika pertama kali menerima pinangan kekasihnya untuk menikah, telah mempersiapkan diri untuk menghadapi dera dan penderitaan dalam rumah tangga. Termasuk juga menikah untuk merencanakan sebuah perceraian.

Dibutuhkan waktu dan usaha yang berkesinambungan untuk mendapatkan kembali pemulihan hati seorang wanita yang terluka karena sikap suaminya, disebabkan karena :

  • Rasa sakit hati dan kepahitan yang membekas dalam
  • Hilangnya kepercayaan bahwa suaminya bisa berubah total
  • Kesulitan untuk menata ulang emosi terhadap perasaan negative

Tak dapat disalahkan bila akhirnya banyak tempat-tempat komunitas dari mereka-mereka, wanita yang merasa senasib dan memiliki pengalaman yang sama. Kalau kebetulan ketemu dengan wadah yang tepat, memang akan bisa saling menguatkan dan menopang, karena mempunyai teman berbagi untuk meringankan beban batin. Yang mengkhawatirkan adalah bila bertemu dengan komunitas yang makin memperkeruh keadaan, bukannya jalan keluar yang diperoleh, tapi malah masalah baru yang akan didapatkan

Pada umumnya pihak istrilah yang sering dijadikan limpahan sebagai penyebab timbulnya masalah rumah tangga. Tuntutan untuk berubah lebih ditujukan pada pihak wanita.

Kalau boleh, kali ini, aku ingin menghimbau para suami yang sedang dalam ‘zona nyaman keterlanjuran’ di atas (maaf…) untuk rehat sejenak. Tahukah Bapak? Ada istri yang sedang berdoa di rumah untuk suami tercintanya. Berdoa untuk keberhasilannya, untuk kesehatannya dan juga untuk keselamatannya. Ada 1001 pintu ampun yang selalu dia siap buka bila sewaktu-waktu sang suami ‘kembali’.

Dan lewat tulisan ini aku ingin menyemangati kaumku, para istri. Bukan mau bermaksud untuk merendahkan derajat kaumku sendiri para wanita dan istri, ataupun membiarkan sesamaku menjadi obyek penderita. Sama sekali tidak!. Aku cuma ingin kembali ke rencana awal dari penciptaan Tuhan. Sejak semula, Tuhan sudah menciptakan kita, wanita, sebagai penolong buat suami. Dan kalau bukan kita yang menolong keadaan suami kita, siapa lagi?

Jadi, tetaplah kuat di dalam Dia, apapun keadaannya, karena Tuhan tidak pernah memandang rendah hati yang remuk. Dia tidak akan mematahkan buluh yang terkulai. Ada Tuhan yang selalu peduli. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita sendiri. Di dalam Dia selalu ada pengharapan. Pemulihan pasti akan terjadi, dengan meyakini bahwa lewat sikap dan tindak laku kita, para istri yang hidup dalam kebenaran iman, akan dapat memenangkan hati suami untuk berbalik pada jalan yang benar. Amen!!

THANK GOD I’M A WOMAN

3 Apr

Mereka bilang dia lemah, tidak tegas dan sangat rapuh. Mereka selalu berpendapat bahwa dia tidak perlu tahu soal berita dunia, ekonomi, politik apalagi, tak ada guna, katanya. Toh dia juga tidak akan mengerti, pikir mereka. Dia sering disebut “tiyang wingking” (= orang yang selalu ada di belakang), yang bisanya hanya tut wuri handayani. Itulah beberapa prototype yang sering diidentikkan dengan seorang wanita.

I have a feeling that being a woman has a lot of her own limitations and seems women are conditioned in such circumstances. Tapi ketika aku melihat bagaimana Tuhan mencipta diriku untuk sebuah rencana mulia yang ingin Dia kerjakan lewat hidupku, baru kusadari bahwa sesungguhnya wanita adalah the most beautiful creation of God, yang secara khusus Dia perlengkapi dengan banyak kelebihan.  Dan akhirnya akupun bisa berkata;”I’m so proud to be a woman”

Wanita selalu memiliki tempat yang istimewa di hati Tuhan. Dibalik kelemahannya, Tuhan memberikan kekuatan yang mempesona. Dia masih mampu tersenyum saat hatinya terluka. Dia sanggup berdiri tegak menghadapi semua tantangan walau ketakutan sedang menggelayuti pikirannya. Tak ada kata lelah dan bosan dalam kamus hidupnya ketika dia harus berjuang demi orang-orang yang dicintai.

Selalu ada berjuta ampun yang bisa dia berikan kala suami dan anak-anaknya meminta maaf. Saat berbicara, tak pernah habis kata-kata manis yang menguatkan terucap dari bibirnya. She knows love, therefore she can give love. Kebahagiaannya hanyalah jika dia bisa berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. Dia akan tenang bila melihat anak-anaknya tumbuh dalam ajaran dan nasehat Tuhan yang telah ditanamkan sejak mereka kecil. Therefore… I strongly believe that a woman has a tremendous strength and potential the Lord has provided her.

Masih kuingat sebuah nasehat pernikahan yang disampaikan pada suamiku saat kita baru menikah,”Hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah dia sebagai teman yang sederajat dalam kehidupan, supaya doamu jangan terhalang, dengan memahami bahwa wanita adalah makhluk yang berharga di mata Tuhan”. — Tapi kondisi di atas tidak membuat aku harus selalu berada di atas angin dan menang sendiri, karena di sisi lain, Tuhan juga memberikan sebuah tanggung jawab yang hanya dapat dilakukan oleh seorang wanita.

Penolong yang sepadan   

Kita semua tahu bahwa wanita dicipta dari tulang rusuk pria (suaminya sendiri). Wow… Tuhan begitu luar biasa dengan karya penciptaanNya. Tulang rusuk adalah penyangga tubuh manusia. Jadi memang Tuhan ciptakan wanita untuk menopang, mendukung dan menguatkan suaminya. Thanks, Lord!. He has created me specially to be my husband’s companion, supaya aku bisa menjadi penolong yang sepadan dengannya dan menjadi tiang doa baginya. Melengkapi kekurangannya dan menghargai kelebihannya.

Ibu teladan

Adalah kewajibanku untuk membesarkan anak-anak. Seperti kata orang bijak,“Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu”. Yang pasti Tuhan mau aku juga bisa menjadi role model bagi anak-anakku. Tempat mengadu saat mereka sedih. Tempat berbagi tawa saat mereka bahagia. Ibu yang selalu siap menampung semua curahan hati mereka, serta menghantar mereka menuju pintu masa depan dalam naung kasih dan kebaikan Tuhan

Kekasih

Tidak mungkin seorang suami hidup bahagia tanpa didampingi oleh isteri yang setia yang bisa menjadi kekasih dan teman ngobrol untuk melepaskan lelah setelah sehari penuh bekerja. Gairah cinta bukan hanya ada selama masa pacaran, dan padam setelah masuk dalam pernikahan, tapi cinta bagaikan api yang harus selalu dipertahankan nyalanya melalui ungkapan kasih dengan selalu memberi secara utuh.

A woman is full of hope .  She has godly strength to make all her dreams come true. She will be happy if she can inspire others.
She knows her past, understands her present and forces toward the future. She is so amazing, talented, and courageous. She is a graceful nurturer and builder and so… many more — (anonymous quote)

Thank God I’m a woman

HAPE GUE INI…..!!!!

1 Apr

Hari gini, siapa sih yang ga punya ponsel alias mobile phone atau yang lebih awam disebut Hape? Bahkan Blackberry pun sudah bukan lagi termasuk barang mahal dan eksklusif. Dari orang dewasa sampai anak-anak, dari pengusaha sampai pengangguran, dari porfesional sampai ke Mbak-mbak yang bekerja di rumah tangga, semua pasti sudah mempunyai perangkat “sakti” dengan fitur-fitur yang memukau ini.

Tak jarang pula, satu orang bisa memiliki lebih dari satu nomer panggil. “Demi kemudahan!”, kilahnya. Oh… ok! Bisa dimengerti kok. Namun kenyataan yang terjadi tak sedikit orang (kalau tak mau dikatakan hampir semua) yang kemudian tenggelam berasyik masyuk dengan ponselnya. Senyam senyum sendiri baca messages atau tertawa cekikikan ga jelas dengan ponsel menempel di telinga, tanpa peduli keadaan sekelilingnya.

Bayangkan saja apakah kira-kira kita tidak merasa jengkel kalau lagi serius-seriusnya berbicara, tiba-tiba lawan bicara kita memberi isyarat dengan tangannya “excuse me!”, lalu jalan agak sedikit menjauh karena harus menerima telpun di HP nya. Dan kita seakan sudah terlupakan karena dia makin asyik ngobrol di sana. Sepertinya kita menjadi second grade person di hadapannya deh.

Mungkin tak ada salahnya kalau kita sedikit me-refresh diri sendiri dengan beberapa hal di bawah ini agar kita tetap menjadi pribadi yang menyenangkan

  • Silentkan HP saat memimpin/menghadiri rapat atau seminar. Jangan hiraukan beeper yang terus menyala. Bila perlu matikan Hp untuk sementara. Akan sangat mengganggu konsentrasi jika melihat orang sibuk dengan sms or bbm sementara kita lagi membicarakan masalah penting dan serius. Juga saat berada di perpustakaan dan ruang ibadah (apalagi), tentu kita wajib mengutamakan Tuhan di atas segalanya saat beribadah, dengan tidak membagi perhatian pada telpun/sms/bbm yang masuk.
  • Utamakan dan hargai orang yang sedang berbicara di depan kita. Betapa tidak sopannya kalau kita selalu menundukkan kepala, lebih fokus pada Hape dan hanya berkomentar, ha….hmm…ya… atau malah “Maaf, Apa yang tadi Anda katakan?”. Bagaimanapun juga orang yang ‘face to face’ dengan kita, saat itu lebih penting dari hanya sekedar membaca messages yang masuk.
  • Redam sedikit volume suara saat berbicara di Hand Phone. Hormati orang lain yang juga ingin menikmati suasana setempat, entah itu di restaurant, tempat belanja, tempat konser, gedung bisokop dan lainnya. Jangan membuat orang lain terganggu karena sikap kita. Kita toh tidak sedang bicara dengan orang yang (maaf) tuli.
  • Hindari berbicara masalah pribadi di tempat umum. Memang setiap orang memiliki kebebasan berbicara, di manapun dia berada, tapi kalau sampai masalah pribadi dibuka di tempat umum yang bisa di dengar oleh banyak orang, pasti bukanlah hal yang pantas untuk dilakukan. Tentu kita tidak mau kalau jadi tontonan banyak orang apalagi jadi bahan tertawaan karena ulah kita sendiri, melihat kita berantem sama pacar sambil nangis-nangis, misalnya.
  • Ring Tone yang terlalu keras. Kayaknya caper (cari perhatian) banget deh. Suasana hening karena lagi konsen, tahu-tahu berubah atmospherenya oleh dering ponsel yang gak kenal tempat dan waktu. Akhirnya semua mata dengan sorot kesal serta ekspresi wajah yang “uurrgghh..!” mengarah ke sumber suara tadi. Ke kita…maksudnya. Jadi jengah sendiri khan.

Memang kita mempunyai hak untuk bertindak dan menggunakan milik kita sendiri. Hape-hape gue, mulut-mulut gue sendiri, kenapa juga harus pusingin orang lain. Yupp…memang benar. Tapi perlu diingat bahwa Kebebasan yang kita punya akan selalu terkait dengan kebebasan dan hak asasi orang lain juga