Arsip | November, 2012

Surat untuk Bunda

19 Nov

Ibu…..

Saat kubuat tulisan ini, pikiranku melayang jauh membayangkan saat-saat manis masa kecilku dulu. Ada perasaan yang berkecamuk menyesakkan dada ini. Rasa haru dan bangga akan semua perjuanganmu membesarkanku. Rasa rindu dan kasih yang bergelora untuk selalu bisa berada di dekatmu.

Masih kuingat jelas ketika ibu membuat puding kesukaanku. Dalam sekejap aku melahapnya…habis.. Baru sadar ibu belum kebagian. Kau tersenyum…lega, walau tak sempat menikmatinya. Kau selalu memberikan yang terbaik untukku, tanpa mengingat dirimu sendiri.

Pernah aku gagal meraih kejuaraan matematika di sekolah. Aku kecewa berat. Ibu datang memelukku sembari berkata bahwa bagimu aku tetap sang juara. Di hatimu aku selalu menjadi pemenang.

Setiap malam kulihat kau selalu berdoa dengan khusuk. Seakan tak pernah kering lidahmu mendoakan suami dan anak-anakmu. Kau lakukan semua itu dengan tulus dan tanpa pamrih.Sering kau menangis lama, merasakan setiap kesedihan hatiku seakan kau sendiri yang terluka. Setiap aku melakukan kesalahan, kau selalu merasa bahwa itu adalah kelalaianmu juga. Kalau bisa rasanya kau mau tanggung semua bebanku. Kau ingin agar aku berjalan melenggang dengan ringan menyongsong hari depanku

Ibu….

Betapa aku harus bersyukur karena engkau. Kalau aku bisa menjadi seperti sekarang, bukan kau yang beruntung melahirkanku, tapi akulah manusia yang paling berbahagia memiliki engkau menjadi ibuku. Sosok yang tak pernah berhenti mengasihiku. Hati yang tak kunjung letih untuk menyiramkan kesejukan di tengah kegalauan jiwaku.

Kau balas kejengkelanku dengan senyuman. Kau redam amarahku dengan pelukanmu. Kau tempat aku bersandar saat kesesakan menghimpit dada. Kecupan hangatmu meneduhkan tetes gerimis kecil di mataku. Kau memiliki intuisi yang sangat tajam. Kau tahu persis kapan harus menegurku dengan keras dan kapan kau datang untuk menghiburku.

Tak akan pernah kulupakan didikanmu tentang arti nilai hidup dan tanggung jawab. Kau bimbing aku untuk berjalan dalam kebenaran iman yang teguh. Aku tahu, kadang kau juga lelah tapi kau tak pernah menyerah.

Ibu….

Guratan wajah yang paling jujur tetap terpancar dari kulitmu yang mulai keriput. Berjuta pengalaman hidup telah kau lewati dengan tegar, dan tetap saja kelembutan hatimu tampak melalui ketenangan raut wajahmu yang senantiasa membawa damai. Tangan yang dulu halus mulus saat membelaiku untuk meredakan tangisku, kini terlihat kasar dengan urat urat yang menonjol, pertanda tangan yang tak pernah berhenti bekerja.

Dengan apa dapat ku balas kasihmu, Ibu? Hanya sebuah doa, kiranya Tuhan memberikan umur panjang dan kesehatan selalu untukmu. Pengabdianku tak akan pernah tuntas untuk membalas apa yang telah kau berikan padaku.

Satu hal yang dapat kuyakinkan padamu, Ibu…. , kan kurawat cucu-cucumu sama seperti engkau telah membesarkan aku. Mereka pasti akan merasakan apa yang pernah aku nikmati bersama denganmu. Doamu tetap merupakan kekuatan bagiku.

Ibu…..

Aku sayang engkau. Terimalah persembahan cinta dari hatiku yang terdalam. Aku mengasihimu. Peluk cium selalu dari aku, anakmu….Ibu.

Iklan

ROMANTISME (seorang) SUAMI

19 Nov

Istri mana yang tak akan tersanjung kalau suaminya sering mengucapkan “I love you” dengan mesra dan penuh cinta. Atau, kalau sang suami selalu membawakan sekuntum bunga mawar pada hari-hari istimewa

=====================================================================

“Maafkan aku ya, aku belum bisa jadi suami yang berlaku mesra buat kamu, kasih kamu kado kecil, atau ngajak kamu candle light dinner. Aku bukan suami yang romantis ya?”. Itulah ungkapan dan pertanyaan jujur suamiku, ketika aku mencoba menyampaikan betapa inginnya aku kalau sesekali dia bisa memeluk aku dari belakang sambil berbisik “I love you, Darling!”, atau dia tinggalin surat cinta di meja makan yang bisa kubaca saat dia sudah berangkat kerja, whoa… romantisnya!!!

Sorot matanya membuatku merasa bersalah, apalagi waktu dia bilang,”Aku mau belajar…karena aku ingin kamu selalu bahagia”.  Oh Tuhan…kenapa aku jadi begitu egois? Apakah aku sedemikian piciknya sehingga tidak bisa mensyukuri kebaikan Tuhan yang sudah memberiku suami yang sangat baik dan mencintai aku sepenuh hati sesuai dengan karakter dan jiwanya sendiri.

Dia memang bukan type pria romantis (kata orang, yang sempat mempengaruhi pandanganku). Akupun mulai berpikir, apa sih sebenarnya difinisi dan yang jadi ukuran sebuah romantisme pernikahan? Apakah dilihat dari banyaknya kata-kata pujian mesra yang diucapkan setiap saat? Seberapa seringnya rangkaian bunga indah diletakkan di atas meja saat sang istri bangun tidur?, Atau lewat sebutan sayang, honey, manisku dan lain yang sejenisnya?.

Bukan karena suamiku yang sifat bawaannya menjurus “cool”, maka aku berusaha untuk membelokkan arti romantisme pada umumnya (hahaha…). Namun jawaban suamiku tadi membuatku sadar bahwa pada dasarnya setiap pria mempunyai cara dan gayanya sendiri untuk menunjukkan sayang dan perhatian pada istrinya.

Suamiku tidak pernah membiarkan aku berjalan di bagian jalan yang dekat dengan kendaraan lewat. Dia selalu membebaskan aku dari rutinitas rumah tangga saat si Mbak pulkam (=pulang kampung) “Kita makan di luar saja, jadi kamu gak capek”, ujarnya. Jangan sampai dia tahu kalau aku menginginkan sesuatu, pasti dia langsung membelinya buat aku. So sweet…!!. Apalagi ya yang manis tentang dia? Ow iya….dia juga bisa membaca saat hatiku sedang gundah dan galau. Segera dia memelukku (tanpa bicara apa-apa, yeah…as usual) dan membiarkan aku menangis dalam dekapannya. Hmm….sederhana sih, tapi aku pikir itulah refleksi romantisme dalam dirinya.

Jadi buat apalagi kupersoalkan. Bagiku dia adalah suami dengan banyak kelebihan. Sangat bertanggung jawab dan mencintai istri dan anak-anaknya, seperti yang selalu dia katakan bahwa kami ini seperti tubuhnya sendiri yang akan selalu dia jaga, dia rawat dan dia kasihi, meskipun terkadang sulit baginya untuk mengekspresikan suasana hatinya karena dia memang cenderung pendiam. He is a true family person. Kalaupun orang mengatakan suamiku tidak romantis, akankah itu menjadi kekurangan dalam pernikahan kami? Tentu saja tidak, pasti!

Sebuah perkawinan memang selalu membutuhkan suasana hangat, sekecil apapun kadarnya, dan banyak cara yang dapat ditempuh menuju keluarga harmonis. Aku sangat mencintai suamiku   karena dia adalah dia. Akupun tak akan mau berhenti untuk terus mengabdi, melayani dan menghormatinya seumur hidupku sebagai kepala dan imam dalam rumah tanggaku.

 

 

FROM MEN’S HEART

  • Hujan-hujan saya belain beli a bouquet of flowers karena hari itu adalah anniversary kami. Saya sudah membayangkan dia akan mencium dan memelukku mesra seraya berucap “Oh..cantik sekali, thank you my sweet heart”. Tahu gak komentar apa yang saya terima. “Buat apa kamu beli bunga begini, besok juga layu. Mending duitnya buat gantiin kran dapur yang sudah bocor”. — Aduh…capek deh!
  • Gue pernah bikin puisi cinta buat istri gue. Eh..pas gue bacain di depan dia, malah diketawain. “Norak ah!!”, katanya. Gue jadi malu khan
  • Ceritanya aku dan istri lagi nonton TV berdua yang menayangkan film drama rumah tangga. Tak sadar tanganku mengelus sayang rambutnya, yang dari harum baunya aku tahu dia baru creambath di salon. Tahu-tahu dia berdiri “Apaan sih kamu. Geli tahu!”. Loh….kok? – Apa dia ga suka ya aku sayang-sayang begitu.
  • Aku kasihan lihat istriku tiap hari sibuk mengurus anak-anak dan rumah. Di satu hari Minggu aku coba meringankan tugas dia. Aku pingin juga donk jadi suami yang gimana gitu ke istri. Aku ambillah sapu dan pel. Waduh…bukannya pujian yang aku dengar, tapi ocehan panjang lebar. “Kamu tuh makin bikin aku repot, lihat tambah berantakan khan. Air pel pada kececer kemana-mana. Kalau si Ade jatuh gimana?”
  • “Tunggu, jangan turun dulu”, aku cepat-cepat buka pintu mobil sambil bawa payung buat dia supaya tidak basah karena lagi gerimis. Baru juga muter, dia sudah keluar dan lari-lari kecil masuk rumah. “Ah cuma gerimis doank! Yang praktis ajalah”. Astaga istriku….! Kamu ga ngerti aku banget sih.

Ada suami yang tidak romantis dan sang istri mengeluh, menuntut suaminya bisa seperti yang dia inginkan. Tak sedikit pula istri yang tidak bisa mengerti usaha suami untuk bisa membahagiakannya.

Jangan pernah berkata bahwa kita sudah mengenal pasangan kita seutuhnya, karena akan ada banyak hal bakal kita ketahui yang tidak pernah kita alami sebelumya dalam perjalanan sebuah pernikahan.

Namun demikian, sebenarnya Tuhan sudah memberikan kita jodoh yang sepadan. Perbedaan-perbedaan yang berhasil dilebur dalam sebuah komitmen, itulah yang membuat keserasian dalam pernikahan, tanpa harus menghapus karakter seseorang, asalkan setiap pasangan mau sama-sama belajar dan berusaha, untuk selalu menemukan hal-hal baru yang dapat memperkokoh ikatan pernikahan sehingga terus bisa saling membahagiakan satu sama lain.

TUA?

19 Nov

TUA ?

siapaTakut ………

Berapakah usia untuk disebut tua? Apakah di atas 55 tahun atau 65 tahun?. Atau kalau sudah 80 tahun? Terus kalau sudah “merasa menjadi tua” mau ngapain? Apa yang akan dan bisa dilakukan? Mau tidur-tiduran di kursi malas? Duduk di depan TV nonton sinetron sambil baca koran? Atau menunggu….? Menunggu pagi berganti sore dan malam berganti siang….

Menjadi tua .. pasti akan dialami oleh setiap orang karena kondisi ini memang tidak dapat dihindari, juga tidak dapat ditolak. Tidak hanya kaum wanita yang takut tua sehingga wanita sering menjadi korban produk anti penuaan, sebenarnya kaum priapun sangat ‘gerah’ bila berbicara soal tua. Takut keriput, takut melihat flek-flek hitam yang menggurat wajah, takut menghadapi ketidak nyamanan pada kesehatan tubuh — sakit ini, nyeri itu, takut vitalitas tubuh menurun. Takut dan khawatir akan banyak hal selalu datang silih berganti ….

Ada yang belum genap berusia 55 tahun dan sudah seperti aki-aki/nini-nini yang kehilangan gairah hidup dan malas beraktivitas. Kemarin badannya lesu, hari ini kakinya pegal-pegal. Malam susah tidur, pagi kepala pusing. Dia sudah seperti apotik berjalan dengan setumpuk obat-obatan di dalam tasnya.

Tapi ada juga yang sudah berusia  di atas 65 tahun dan terlihat masih enerjik, kuat dan bugar. Masih disiplin berolah raga, memelihara pola hidup sehat juga mengaktifkan pikiran dengan mengurus berbagai macam kegiatan kemanusiaan dan tetap menjadi panutan bagi anak dan cucunya.

Tua bukanlah alasan untuk tidak berkontribusi lagi. Tua bukan berarti sudah tidak dapat memberikan manfaat pada lingkungan dan sesama. Tua bukan berarti jompo dan sakit-sakitan atau malah menjadi orang yang “ditinggal di belakang”. Bukan pula untuk menghitung jumlah umur yang semakin bertambah dalam hitungan angka tapi berkurang dalam hal waktu.

Banyak yang berpendapat bahwa orang tua bagaikan mobil kuno yang sebaiknya disimpan di garasi saja. Maaf!. Tapi ayahanda Raja Salomo pernah berkata walaupun sudah tua, orang benar akan tetap berguna dan senantiasa menjadi berkat bagi orang lain. “Pada masa tuapun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan bahwa Tuhan itu benar….”, tulisnya

Tergantung dari sisi mana masing-masing orang memandang dan mau mempersiapkan diri untuk menjalani masa tua itu. Tentunya boleh dengan sedikit perenungan bahwa

–          Tua adalah anugerah Tuhan untuk melihat kebesaran dan kemuliaanNya dengan keleluasaan waktu yang lebih bebas, misalnya dengan memperbanyak ibadah.

–          Tua adalah kesempatan untuk terus memperbaiki diri sehingga menjadi ‘mutiara’ yang dapat dipersembahkan kembali pada dunia dan sesama, sebagai rasa syukur.

–          Tua adalah waktu untuk melakukan kegiatan yang tidak pernah sempat dilakukan sebelumnya karena kesibukan masa muda. Bagi yang jarang bersosialisasi.

–          Tua adalah suka cita akan suatu pengharapan bahwa sebagian besar tugas hidup ini sudah diselesaikan. Melihat anak-anak sudah besar dan sukses.

–          Tua adalah saatnya untuk berbagi pengalaman hidup baik pada sesama usia dan juga bagi generasi penerus

–          Tua adalah masa bahagia untuk menikmati hidup dari hasil kerja selama lebih dari 30 atau 40 tahun yang telah berlalu. Bagi yang gemar menabung.

Menjadi tua…itu pasti, menjadi tua tapi sehat fisik, hati dan pikiran dan … menjadi bahagia itu pilihan. Yang jelas, bagi orang beriman, dia bisa meyakini bahwa Tuhan akan tetap menyertai sampai masa tuanya dan sampai masa putih rambutnya.

Are you ready…?