DALAM LEMAHKU…AKU KUAT

24 Mei

Haru biru perasaanku terus menggelayuti batinku. Masih terbayang, sesah dan dera yang ditimpahkan pada Junjunganku. Orang-orang itu seperti tak punya hati… Kejam…. tak ada rasa kemanusiaan. Hancur hatiku melihatNya dinista sedemikian kejinya.

Masih terekam jelas dalam benakku bagaimana cambuk dan pukulan itu menghancurkan seluruh tubuhNya dari kepala sampai ke ujung kaki. Tak ada lagi rupa yang bisa kupandang. SemarakNyapun tidak ada sehingga tak sanggup aku untuk memandang Dia. Ia begitu dihina dan dihindari, seorang yang penuh kesengsaraan, sehingga orang menutup muka terhadapNya.

Sementara aku tahu persis, seperti yang pernah Dia katakan padaku waktu itu, bahwa sesungguhnya, penyakitkulah yang ditanggungNya, kesengsaraankulah yang dipikulNya di atas sana. Dia tertikam karena pemberontakanku, Dia diremukkan karena kejahatanku, oleh bilur-bilurNya aku menjadi sembuh.

Enggan rasanya kaki ini beranjak meninggalkan tempat Dia dikuburkan. Aku ingin menjadi saksi pertama dari kebangkitanNya. Dia sudah berjanji tentang itu.

Pagi itu, tiba-tiba aku mendengar suara ramai, orang-orang berlarian ke sana kemari di depan kubur Junjunganku. “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan”, sayup aku mendengar ucapan tersebut. Haa…? Apa yang telah terjadi? Mengapa aku tak melihat? Aku yang terus menerus ada di sini kok sampai tidak tahu ada orang masuk ke kubur Junjunganku

Mataku segera tertuju pada seorang Ibu yang sedang menangis, sambil melihat ke dalam kubur dengan pandangan nanar. “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan”, aku dengar dia berucap seperti menjawab pertanyaan seseorang dari dalam kubur itu.

Dan….Oohhh …. Sosok itu… ya…. Dia…Duh Gusti…Dia itu Junjunganku. Benar!!! Aku tak salah lagi. Junjungankulah yang berdiri di belakang ibu itu. Sungguh…Dia telah bangkit seperti yang Dia janjikan. Benarlah yang dikatakan bahwa Dia harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga.

Belum puas rasanya aku menikmati bahagia karena Junjunganku telah hidup kembali…ehh…aku melihat kerumunan orang banyak dan semuanya sedang menengadah melihat ke langit. Ada apalagi ini?.

Aahh…seperti tercabik rasa hati ini. Junjunganku terangkat ke sorga meninggalkan aku. Aku tak bisa lagi melihat wajahNya karena awan yang menutupNya dari pandanganku. Sesak dadaku menahan tangis yang hampir pecah. “Tuhan..Tuhan, mengapa Engkau meninggalkan aku? Mengapa tak Kau bawa serta aku pergi bersamaMu? Aku lelah dengan segala pergumulan hidupku. Aku bosan dengan segala ketidak adilan manusia. Ingin aku segera meninggalkan dunia ini. Tak ada lagi bara semangat dalam diriku untuk melangkah lebih jauh. Berhenti…hanya itu yang ada dalam pikiranku dan yang ingin kulakukan”.

Tak kuat kaki ini menahan beban kesedihan hatiku, dan aku jatuh terduduk…lunglai, dengan air mata yang membasahi kedua pelupuk mataku. Hilang sudah seluruh peganganku bersama perginya Junjungan dan pujaan hatiku.

Sayup…aku seperti mendengar bisikan lembut, “Janganlah gelisah hatimu…Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”.

Bak gemuruh ombak yang reda perlahan… ketenangan mulai memasuki hati dan pikiranku. Seperti ada seseorang yang mengingatkan aku akan semua yang Junjunganku pernah katakan kepadaku. “Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersuka cita karena Aku pergi kepada BapaKu. Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu”. Ah…ini yang menghibur aku.

Perlahan ku angkat wajahku, ku tatap masa depanku. Ada banyak hal baru yang Tuhan sediakan bagiku…untuk kulakukan. Masih banyak!!!. Tak boleh aku berenang dan menikmati kesedihanku. Cukuplah kasih karuniaMu, Tuhan…bagiku, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaMu menjadi sempurna, dan aku akan selalu belajar untuk bermegah walapun dalam ke tak berdayaanku, supaya kuasaMu turun menaungi aku.

Lalu…aku berjalan meninggalkan masa laluku untuk menyelesaikan semua yang belum terselesaikan, sambil menunggu Junjunganku menjemput aku, nanti.

INDAH RENCANAMU, TUHAN.

17 Mei

“Sebenarnya aku ini anak siapa? Bagaimana ceritanya sehingga aku bisa terlahir di dunia ini? Apakah aku anak……. — Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba menggoda hatiku. Aku hanya mengenal “sejenak” laki-laki yang mereka bilang, itu ayahku. Sementara figure Bapak serta kasih sayang layaknya seorang ayah terhadap anaknya, tak pernah aku dapat darinya. Tak ada kenangan yang terekam dalam otakku, kapan dan dimana aku pernah bermain sepeda, liburan bersama atau duduk ngobrol dengan ayahku. Tidak pernah!!”. —– curahan hati anak muda ini membuat aku tercenung. Tak tahu aku harus menanggapi apa.

“Aku benci pada laki-laki yang sudah menghancurkan hidup ibuku”, lanjutnya…”Aku dendam pada orang, yang mereka bilang, dia ayahku. Aku kesal dengan saudara-saudara (tiri)ku, karena mereka mem-bully aku waktu aku masih kecil”. Ada nada sedih bercampur marah, ketika dia menceritakan kehidupannya.

Seperti sedang menonton film sinetron, aku mendengarkan cerita tentang keluarganya. Ah…aku tidak pernah menyangka itu benar-benar real dalam kehidupan nyata. Hampir aku tak percaya, ini benar-benar terjadi. Panjang dan tak sampai hati kalau aku harus menuliskannya di sini.
Kutatap matanya dalam-dalam, sembari berpikir keras, apa yang bisa aku sampaikan to appease and to soothe his mind and heart. Boleh saya bicara? Kataku lirih, agak ragu … karena tak tahu musti ngomong dari mana.

Kita memang tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi kita juga tidak boleh terus tenggelam dalam zona masa lalu. Masa lalu adalah materi yang bisa kita pelajari, untuk kita bangkit dari kegagalan, belajar tentang sebuah proses kehidupan. Jangan pernah mencoba menyalahkan siapapun juga. Pasrah…? Tidak juga. Kita harus melanjutkan perjalanan hidup, berjuang menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin dan esok lebih bermakna dari hari ini

“Tapi mengapa Tuhan menjadikan aku seperti ini?”, tanyanya. — Sebelum Tuhan membentuk kita dalam rahim ibu kita, Dia telah mengenal kita. Sebelum kita keluar dari kandungan ibu, Dia telah menguduskan kita. Dialah yang membentuk dan menenun kita dalam kandungan ibu kita. Dia mencipta kita dengan begitu detail, karena kita sangat berharga di mataNya

Itu sebabnya, jauhkan rasa menyesal ketika kita harus lahir di tengah keluarga yang (menurut kita) “tak jelas”, lahir dari ayah atau ibu yang tak berperan sebagaimana seharusnya orang tua. Siapa orang tua kita, bangsa, suku atau Negara dimana kita dilahirkan, itu adalah otoritas Tuhan. Mereka hanya mem-fasilitasi untuk kita terlahir di dunia ini, kalau boleh saya sampaikan. Yang pasti Dia selalu mempunyai rencana dan tujuan yang indah buat kita, tiap-tiap pribadi.

Tugas dan tanggung jawab kita adalah how to lead our lives in His way, menuruti dan menjalankan semua perintahNya, menjadi berguna bagi lingkungan sekitar lewat karya-karya terbaik kita, sekecil apapun itu. Jangan mudah menyerah dan putus asa. Jangan menunggu keadaan yang berubah untuk kita, tapi kitalah yang harus berubah untuk mengubah keadaan. Positive mind will go to positive action and positive action will give you positive reward.

“Akankah aku mengalami nasib yang sama seperti para pendahuluku? Rata-rata mereka mengalami kegagalan dalam pernikahan mereka” — Oh my dear… panas mataku merasakan luapan kesedihan anak muda ini. — Tidak….tidak, sekali lagi tidak!!!. Mereka adalah mereka, hidup kita adalah milik dan tanggung jawab kita sendiri. Memang banyak orang di luar sana yang mengatakan bahwa karma orang tua akan menimpa anak-anaknya, atau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, atau…apalagi lah … yang intinya kita akan mengalami hal serupa yang dialami oleh orang tua kita.

Saya pastikan, tidak…!!! Kalau kita menjadikan Tuhan sebagai tempat perlindungan, sebagai tempat perteduhan kita, maka malapetaka tidak akan menimpa kita, dan tulah atau kutuk tidak akan mendekati kita. Tuhan kita, Yesus Kristus, sudah mematahkan semua kutuk dosa masa lalu kita lewat pengorbananNya di atas Kayu Salib. Sangat wajar kalau kita mungkin (saat ini) tidak mengerti apa tujuan dan rencana Tuhan dalam hidup kita. Kita seakan terpuruk dalam ketidak berdayaan kita. Tak ada keberanian untuk membuka lembaran hari esok. Tapi kita harus yakin, kita juga punya hak untuk bahagia.

Come on my dear, lift up your face. Jangan pernah menyerah pada keadaan. You are not walking alone. God is by your side. You will have happy life and happy family of your own. Trust me!!
Tuhan sudah membuat rancangan tersendiri untuk kita, yaitu rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan. Dia memberikan kita hari depan yang penuh harapan.

Karena rencanaNya selalu indah bagi kita. Dan doaku menyertaimu.

HANYA KARENA………

11 Apr

Kuatir aku….
Telah berjalan terlalu jauh
Mengikuti apa yang aku pikir benar
Merasa mengerti apa yang sebenarnya tak pernah aku pahami
Pembenaran diri, untuk menyamarkan kekurangan sang batin

Kuatir aku….
Keimananku hanya sebatas identitas
Ibadahku hanya sebatas rutinitas
Dan itu sudah membuatku bangga
Sangat…

Kuatir aku….
Apa yang mereka pandang baik tentang aku
Hanya sebatas mata kasat memandang
Ku curi kemuliaanMu
Demi sekedar decak kagum dan pujian

“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Suara itu — menyeruak di tengah kegelapan
Ada getar sakit yang tertahan dan tak mungkin dilepas
Dan…Dia harus menanggungnya…sendiri

Tiba-tiba…aku melihat siapa diriku sebenarnya
Akulah yang telah membuatNya begitu menderita
Tanpa pernah aku menghargaiNya
Toh Dia lakukan itu juga untuk orang lain, bukan aku saja
Itu sangkaku…itu pikirku
Dan ….itu salah

SengsaraMu membuka mata hatiku
Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku
Sekarang ku anggap rugi, karena pengorbanan yang Kau lakukan
Untukku…

TubuhMu yang tercabik bercampur darah yang tertumpah
Telah menjadikanku ciptaanMu yang baru
Yang lama sudah berlalu
Sesungguhnya yang baru sudah datang

Hanya karena kasih karuniaMu
Aku ada sebagaimana aku ada sekarang

Terimakasih Bapa
Terimakasih Yesus
Terimakasih Roh Kudus
=============================
Paskah bukan sebatas pengampunan, dan selesai
Tapi hidup setelah itu…
Adakah dunia melihat
Kita tinggal di dalam Dia
Dan Dia ada di dalam kita?

HAPPY BLESSED PASSOVER!!!

SELALU…

20 Feb

Selalu….
Saat aku membuka mata
Sebelum ufuk timur membuka jendelanya buat sang surya
Ada rasa syukur terucap dari hati terdalam
Rasa terimakasih untuk kesempatan baru yang Dia masih berikan

Selalu…..
Ada kebaikan Tuhan yang baru memenuhi hidup ini
Kasih setiaNya tak pernah pupus
Dan tak pernah lekang karena waktu

Selalu…..
Semangat yang baru hadir
Mengawali semua rencana yang sudah terancang
Sirna sudah penat hari kemarin
Seakan hanyut bersama turunnya embun pagi

Ternyata……
Aku dapat merasakan semua itu
Ketika suasana hati yang seperti hati seorang anak — kesederhanaan—
Menemani hari-hari dan aktifitasku

Berharap dan menunggu
Apa yang akan Dia kerjakan bagiku sepanjang hari-hari mendatang
Membuatku bergairah dan melangkah maju
Untuk melakukan apa yang sudah menjadi bagianku

Sungguh..
Kebaikan Tuhan tak akan tergoyahkan
Oleh apa yang sedang bergejolak di sekitarku
Karena kasih setiaNya lebih baik dari hidup

Tak berkesudahan dan tak pernah habis rahmatNya
Selalu baru setiap pagi
Maka..biarlah bibir ini terus memegahkan namaNya
Selalu

Amin

TERIMAKASIH AYAH…..

12 Jan

Buru-buru aku turun dari mobil dan lari ke bagian kedatangan, mencari di antara orang-orang yang menunggu jemputan. Aku memang sedikit terlambat datang ke bandara untuk menjemput ayah yang beberapa bulan ini harus tugas di luar kota.

Dari jauh aku melihat lambaian tangan memanggil ke arahku. Ayah….aahhh…3 months away from home, dia kelihatan agak kurus dan sedikit lebih keling (hitam). Ada garis-garis ‘lelah’ tampak di wajahnya, tanpa mengurangi semangat yang selalu memancar lewat sorot matanya. Helai helai uban yang menyembul di sela-sela hitam rambutnya, membuat dia tampak semakin lebih sepuh (di mataku).

Sering sudah kukatakan pada ayah untuk tidak terlalu “ngoyo” bekerja, dan untuk selalu menjaga kesehatan. Dia bilang, “Yang harus jaga kesehatan itu kamu. Kata Ibumu, kau sering makan tidak teratur ketika sibuk buat assignment atau saat jadwal kerja kamu lagi padat. Instant food lebih sering kau komsumsi”. — Hahaha….Ayah-ayah…tak mau kalah dia!! Kalau begitu buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Ayah pekerja keras, aku juga. Ayah suka makan seadanya kalau lagi sibuk, aku juga. Kesukaan Ayah makan mie ayam, aku juga. Oke..oke, tak kulanjutkan lagi perbantahanku dengan Ayah. Kami sama!!!

Dari sudut mata aku lihat Ayah sedang memasang seatbelt sembari membetulkan posisi duduknya. Dia memang lelah. Ayahku…dia sudah memasukki usia senja. Waktu cepat sekali berlalu. Sebuah perjalanan masa yang tak mungkin dapat kita hindari. Rasanya baru kemarin aku belajar naik sepeda bersama ayah. Baru kemarin ayah menjemputku dari tempat les musik. Dan sekarang aku sudah hampir menyelesaikan tesisku. Badankupun sudah lebih tinggi dan lebih besar dari ayah. Sering Ibu berkata, “Dad is very proud of you, son”.

Dari kecil aku selalu menganggap my Dad is my super hero, my teacher and my very best friend. I admired him so much. Aku suka meniru cara dia berjalan, cara dia menelpun, dan lainnya. Aku ingin seperti Ayah

Tapi jujur… pernah juga aku kesal sekali pada Ayah, saat aku menginjak remaja. Dia begitu protective, apa saja yang aku lakukan terlihat salah dimatanya. Sifat kholericnya sering membatasi ruang gerakku. Dia susah sekali diajak kompromi. Dan aku marah. Kok Ayah tidak seperti ayah teman-temanku (Sangkaku!!). Apa seperti itu arti sayang seorang Ayah pada anaknya? Aku kurang paham, waktu itu

Dan sekarang…kembali rasa kagum itu melekat bersama dengan rasa hormatku pada Ayah. Semua yang dia lakukan hanya untuk kepentingan keluarga. Baginya, keluarga adalah prioritas dalam perjuangannya. Saat aku katakan bahwa aku sudah bisa memenuhi kebutuhan hidupku sendiri, karena aku sudah bekerja, sambil kuliah, Ayah tampak tersinggung. Mungkin dia merasa aku tidak membutuhkan Ayah lagi.

“Ayah….sampai kapanpun, aku akan sangat membutuhkanmu, kehadiranmu, semangatmu, pengalaman hidupmu, itu yang akan menjadi kekuatan dan landasan hidupku”, ucapku dalam hati. Mungkin kerasnya karakter Ayah menurun dalam jiwaku, yang tidak mau menunjukkan “emosi cengeng nan sentimental”. Hahaha….aku berusaha menahan genangan air mata yang hampir jatuh. Aku khan anak laki-laki Ayah, …. Kuat – kayak Ayah!!!

Malam itu, perlahan aku masuk ke kamar Ayah. Dengkur Ayah yang tidur pulas di samping Ibu seakan menyuarakan kelegaan dan ketenangan jiwa. Hilang sudah letih yang tadi sangat menggelayuti tubuhnya karena jauh dari keluarga. Ibupun seakan tak terusik dengan dengkur Ayah, yang menurut aku cukup keras juga. Sudah biasa dia.

Mereka tidak sadar kalau aku berdiri lama di pinggir tempat tidur …. memandangi wajah Ayah. Aku memang sangat kangen pada Ayah. Tiba-tiba ingin aku menciumnya, mengganggu tidurnya, meloncat ke tubuhnya sambil menarik selimut untuk membangunkannya seperti waktu aku kecil dulu. Uupppss….tunggu…I am no longer a kid

Dan…perlahan aku berucap,
“Terimakasih Ayah untuk semua perjuanganmu
Terimakasih untuk semua kerja kerasmu
Terimakasih untuk didikanmu
Terimakasih untuk ketulusanmu
Terimakasih untuk kasih sayangmu

Terimakasih Ayah…..

Sampai kapanpun, Ayah akan tetap ada dalam hatiku
Aku akan menjagamu, seperti engkau menjagaiku, selalu
I will make you proud..because of me

Doaku kiranya Tuhan memberikan kesehatan, suka cita dan kebahagiaan serta umur panjang buat Ayah.
Love you, Dad!!!

LAMUNAN

21 Des

Suasana hening dan syahdu sudah mulai terasa saat aku memasuki ruangan. Acara baru akan di mulai sekitar 15 menit lagi, tapi rupanya orang-orang tidak mau ambil resiko tidak mendapat tempat duduk yang nyaman, dan bangku-bangku boleh dikatakan sudah almost fully seated.

Aku berusaha mencari tempat yang berhadapan langsung dengan mimbar, dan untung masih ada 4 seat kosong di baris ke 5 dari depan untuk aku, suami dan anak-anakku. Ah….untung banget, jadi aku bisa melihat jelas semua yang ada di atas panggung, dan aku bakal bisa menikmati semua acaranya. Dari tempat aku duduk, aku juga bisa melihat ada 2 baris bangku yang masih kosong. Di pinggir lorong terpampang tulisan “VIP Guests”

Lagu pembuka sudah mulai diperdengarkan dan Worship Leader mengajak kami, jemaat, untuk menyanyi bersama. Cukup meriah tanpa mengurangi kekhusukan suasana sebuah ibadah Natal. Perhatianku tiba-tiba beralih sebentar pada rombongan yang baru memasuki ruangan. Dari busana yang dikenakan, sepatu, tas, dasi dan tatanan rambut, sampai cara mereka berjalan, sudah tidak diragukan lagi, mereka adalah tamu VIP yang ditunggu untuk duduk di bangku “VIP Guests” di depan.

Ibadah malam itu benar-benar luar biasa, puji-pujian sampai pada Firman Tuhan yang disampaikan sungguh membuat hati ini penuh dengan kedamaian Natal, membuat aku kembali me-refleksi diri tentang arti kelahiran Yesus yang sesungguhnya dalam hidupku. Saat candle light service, sempat aku meihat tamu-tamu VIP tadi memegang lilin-lilin cantik yang sudah dipersiapkan secara khusus, lebih besar – ada hiasan pita dan bunga-bunga dipegangannya. Beda dengan lilin yang jemaat pegang, lilin kecil pada umumnya dengan tatakan karton bulat atau bentuk bintang

Singkat cerita, ibadahpun selesai. Aku sangat diberkati. Bapak Pendeta dan Ibu segera sibuk menerima ucapan “Selamat Natal”, dari jemaat, khususnya (lebih dahulu) dari deret terdepan tamu VIP tadi, ya..karena mereka duduk paling dekat dengan Bapak Pendeta dan Ibu. Tiba-tiba dari kerumunan Jemaat yang berdesakan tadi, datang seorang ibu, yang dari cara berpakaian dan body gesturenya, kelihatan bahwa dia adalah orang VOP (=very ordinary person), not VIP. “Selamat Natal Pak Pendeta, terimakasih untuk berkat Firman Natal malam ini”, ucapannya terlihat sangat grogi, sepertinya dia mengumpulkan seluruh kekuatan dan keberaniannya untuk menemui Pak Pendeta di depan orang banyak tadi. “Anak saya ingin sekali bersalaman dengan Bapak”, lanjutnya rada bergetar. “Tapi maaf anak saya sakit, tidak dapat maju ke depan sini” — “Dimana anak Ibu?”, Tanya Pak Pendeta. “Ada Pak, di sudut sana, di atas kursi rodanya”

Pak Pendeta segera beranjak ingin menemui anak ibu tadi, ketika tiba-tiba salah seorang dari tamu VIP tadi menahan langkah Pak Pendeta. “Pak, kita sudah ditunggu keluarga….(menyebut sebuah nama), dia sudah menyiapkan ruang VIP di hotel….(menyebut sebuah nama hotel bintang 5). Bukankah kita ada acara X’mas dinner dengan mereka. Ini sudah terlalu telat Pak, tidak enak kalau mereka menunggu kita terlalu lama”. — Segera Ibu VIP tersebut berucap pada Ibu VOP tadi, “Ibu, maaf ya..Pak Pendeta sedang ditunggu oleh tamu lain, dia sudah harus segera berangkat sekarang. Besok saja ya Pak Pendeta menemui anak Ibu – di rumah Ibu”. “Baik Ibu…tidak apa-apa, maaf sudah mengganggu dan merepotkan, selamat malam”. Aku yang dari tadi melihat dan mengikuti percakapan mereka, dapat menangkap sorot kecewa di mata si Ibu VOP.

Keesokan harinya Pak Pendeta menerima kabar bahwa anak Ibu VOP itu telah berpulang ke rumah Bapa. Rupanya anak itu sudah di vonis sejak 4 – 5 tahun yang lalu bahwa dia tidak akan berumur panjang karena sakit yang dia derita. Tapi dalam masa-masa hidupnya yang singkat, anak ini selalu setia beribadah dan tidak sedikitpun ada nada keluhan dari bbirnya mengapa Tuhan ijinkan dia menderita penyakit tersebut. Menurut cerita sang Ibu (VOP), anaknya mendapat berkat dan kekuatan yang luar biasa lewat Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pak Pendeta, sehingga dia ingin sekali didoakan sebelum dia ‘berangkat’.

Aku tak akan melanjutkan cerita ini……jangan dibahas lebih lanjut ya…and never judge people!!!

Yang ingin aku lanjutkan adalah…Yesus lahir, termasuk semua yang Dia lakukan selama di dunia, sampai Dia mati di atas bukit Golgota..adalah untuk menyelamatkan manusia. Orang kaya butuh keselamatan, orang miskin butuh keselamatan, apapun statusnya, manusia butuh keselamatan. Di mata Tuhan, kita semua sama dan sangat berharga. Dia tidak pernah memperhitungkan untung ruginya ketika Dia melakukan karya keselamatan bagi umat manusia.

Aku teringat cerita tentang orang gila di Gerasa. Tanpa pikir panjang Tuhan sudah mentransfer roh jahat dari orang gila tersebut ke kawanan babi yang jumlahnya kira-kira 2,000 ekor. Aku mencoba menghitung berapa besar harga yang harus dibayar untuk menyelamatkan orang gila tadi? Yang mungkin saja dia juga sudah dibuang dan tidak diperhitungkan oleh keluarganya sendiri. Woa…bunyi milyaran deh!!

Tiba-tiba aku tersadar…buah pohon Natal yang terakhir sudah terpasang … Aku tinggal mencoba menyalakan lampu-lampunya untuk melihat apakah terangnya sudah menyebar rata di seluruh pohon Natalku?

Aahh….rupanya aku sudah melamun terlalu lama sambil memasang pohon Natal untuk menyambut acara Natal keluarga minggu depan. Aku tersenyum sendiri melihat hasil kerjaku. Puas… Pohon Natal itu begitu indah, cantik dan kedap kedip lampu kecilnya membuat aku bahagia.

“Selamat hari Natal”, gumamku pada diri sendiri

WANITA ….KUAT

9 Des

Judul di atas membawa pikiranku membayangkan sosok seorang wanita yang gagah, kuat, tegas, bahkan (mungkin) galak,  tidak membutuhkan pertolongan orang lain, karena dia mampu melakukan segala sesuatunya…sendiri. Hmm….

Seorang teman pernah curhat-curhat ringan gitu deh. Katanya, “ah andai saja aku dilahirkan sebagai laki-laki, mungkin lebih enak ya. Tugasnya hanya cari nafkah, ga perlu mikirin tetek bengek urusan rumah dan anak yang ga pernah ada habisnya”. Haha… khayalan anak kecil nih kayaknya!!

Tidak ada yang kebetulan Tuhan menjadikan kita sebagai seorang wanita. Dia sendirilah yang sudah menenun kita sejak dalam kandungan ibu. Dan kalau orang menenun, pasti punya tujuan donk, mau bikin apa nih!! Demikian juga dengan kodrat kita sebagai wanita. Tuhan telah menjadikan kita untuk sebuah tujuan yang mulia. Itu pasti!!!

Di sini saya ingin belajar bersama dengan kaumku, sesama wanita, bagaimana agar kita menjadi wanita kuat berdasarkan ajaranNya, supaya kita bisa menjadi anak, istri, orang tua dan oma yang memperkenan hati Tuhan

Wanita kuat tidak perlu harus maco, tidak perlu harus nekat, sangar serta bergaya seperti seorang pria dll. Kuat di sini artinya kita punya prinsip iman yang teguh, tidak gampang ikut arus…terlebih arus yang negative. Ada tetangga ngejelekin temannya, kita ikutan benci orang itu. Ada tetangga yang kerjaannya ngegosip, ikutan ngegosip. Sahabat beli tas branded, ikutan harus punya, biarpun harus gesek kartu kredit, nyicil pula. Ini namanya tidak punya prinsip

Jadi…prinsip-prinsip apa saja yang harus kita miliki sebagai wanita agar rencana Tuhan jadi dalam hidup kita :

  1. Tahu menjaga kata. Kapan harus diam dan kapan harus berbicara. Wanita yang bisa menjaga lidah bibirnya, juga dikatakan sebagai wanita yang cerdas karena mampu menahan emosi. —   (ingat….setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggung jawabkannya pada hari penghakiman). Dengan demikian kehadiran kita akan membuat suasana yang nyaman bagi orang di sekitar kita.
  2. Iman yang teguh. Saat suami dan anak-anak lemah imannya, kita harus tetap kuat untuk menopang mereka. Bukankah dari awal tujuan Tuhan mencipta wanita adalah sebagai penolong bagi suaminya?. Disarankan seorang ibu memiliki jam doa lebih banyak buat keluarganya. Tapi, jaga….jangan sampai kita menjadi istri yang menggurui suami, merasa lebih rohani.
  3. Percaya diri dan tetap rendah hati. Kepandaian, ketrampilan serta pengetahuan, akan membuat wanita tampil percaya diri. Blessed to be a blessing – statement indah yang sering kita dengar. Pertanyaannya, dapatkah kita menjadi berkat; rela berbagi apa yang kita punya (Kepandaian/ketrampilan dan pengetahuan) kalau kita tidak memiliki kerendahan hati?.Yuk…kita sama-sama belajar untuk selalu rendah hati dan lemah lembut, dan sabar. Belajar mempraktekkan kasih dalam hal saling membantu dan berbagi. Lemah lembut, itulah kekuatan terbesar seorang wanita.
  4. Taat pada ajaran Tuhan. Ini sudah tidak perlu dibantah dan dibahas. Wajib !!! Inilah dasar yang paling mendasar bagi kita untuk menjadi seorang wanita yang kuat. Dengan dasar ini pula maka kita akan dapat menjadi wanita yang berjiwa peduli ….serta dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus.

Begitu indah dan agung rancangan Tuhan atas hidup kita…wanita. Jadi patutlah kita bersyukur dan bangga menjadi seorang wanita. Memang bukan kita yang menentukan untuk kita terlahir sebagai wanita, tetapi Dia…ya Tuhanlah yang telah memilih kita, Dia telah menetapkan kita sebagai kepanjangan tanganNya.

So tetap kuat ya Sis….jangan lagi mengeluh ya, jangan pernah patah arang dan kehilangan semangat karena ‘kepercayaan’ (=saya tidak mau mengatakan beban) yang kita emban begitu banyak. Jalani dengan happy, maka kita bisa menikmati hari hari kita dengan indah bersama dengan orang-orang tercinta. Kita kuat kok!!!