DIA BERTANYA

30 Okt

Dia bertanya, apakah aku marah?

Mereka tidak peduli dengan keadaanku
Mereka biarkan aku berjalan sendiri
Di atas tanah berbatu penuh kerikil tajam
Mereka hanya melihat, tanpa berbuat atau bertindak

Dia bertanya, apakah aku tawar hati?

Semua yang baik yang sudah aku lakukan
Seperti tertiup angin, tertelan bumi
Tak berbekas, tak tampak oleh sebelah matapun
Tak ada ucap terimakasih singgah di telingaku

Dia bertanya, apakah aku kecewa?
Rencana yang sudah kususun rapi dan matang
Hancur berantakan, tanpa bisa ku ulang lagi
Mimpiku bak angan yang jauh tinggi di atas awan
Hanya kesia-siaan yang kudapat ketika aku mencoba untuk menggapainya
…………………………….
…………………………….
Jawabku
Sebagai manusia aku harus katakan
Ya… aku marah, aku tawar hati, aku kecewa
Dan ini sempat membuat hari-hariku seakan terpuruk
Sepertinya dunia tak adil terhadapku
…………….
Setelah ‘jedah’ sesaat
Aku mulai menemukan jawaban

Kenapa aku harus marah…
Bukan hak-ku untuk memaksa mereka
Melakukan apa yang aku ingin
Aku bertanggung jawab atas hidupku sendiri

Kenapa aku harus tawar hati…
Hanya Tuhan yang berhak menilai baik buruknya jalan hidupku
Karena pembalasan adalah milikNya
Dia akan menghakimiku menurut apa yang aku perbuat

Kenapa aku harus kecewa….
Kecewa itu timbul akibat ulahku sendiri
Aku mem’posisi’kan diriku jauh lebih tinggi dari ‘fakta’ dunia nyataku
Aku lupa bahwa Tuhan memiliki rancangan-rancangan indah buatku
Rancangan damai sejahtera, bukan kecelakaan
======================================
Tulisan ini aku persembahkan buat seorang sahabat
Jangan terlalu larut dalam kesedihanmu, kawan!!

Karena..
Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya
Sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya

Segala perkara dapat kita tanggung di dalam Dia
Karena Dia-lah yang memberi kekuatan
Amin

Iklan

GETTING OLDER…..SIAPA TAKUT!!!

28 Agu

“Saya sudah tua, sudah ga kuat ngapa-ngapain lagi”
“Ah kalau urusan tampil-tampil begitu biar yang muda-muda lah. Malu sudah tua….kita di belakang layar saja”
“Sudah…kalian pergi jalan-jalan sana, Papa/Mama di rumah saja. Repot ga bisa jalan cepet, sudah tua”
=========================================================
Tunggu…..kata tua — berpikir sudah tua, justru membuat seseorang menjadi merasa lemah, sudah tidak kuat lagi, sakit sini sakit sana, apalagi untuk orang-orang yang sudah memasuki usia senja.

Memang….kalau mau jujur, banyak kekuatiran yang dirasakan ketika usia terus beranjak ke angka yang lebih tinggi. Banyak orang kuatir membayangkan bagaimana nanti kalau sudah tua. Walaupun kita tahu bahwa menjadi tua adalah proses alam yang tidak bisa dihindari. Bertambah tua itu pasti,…jadi mengapa harus takut? Operasi plastik?.. hanya untuk merubah casing tapi dalamnya tetap. Tua ya tetap tua.

Hal-hal yang membuat orang kuatir menjadi tua :
• Fisik yang lemah.
Fisik, pasti tidak seprima saat muda dulu, betul!!! …. tapi jangan ini membuat kita mengasihani diri sendiri. Merasa menjadi orang yang tidak berguna. Atau sebaliknya menjadi manja, minta selalu diperhatikan. Jangan jadikan keadaan fisik kita itu penghalang untuk berbuat sesuatu yang berguna, bagi diri sendiri dan bagi orang lain.
Kalau kita bisa memposisikan diri sebagai orang tua yang bijaksana, maka keberadaan kita akan sangat dibutuhkan oleh anggota keluarga yang lain.

• Takut sendirian.
Anak-anak sudah besar, sudah punya kegiatan dan kesibukan sendiri. Bahkan ada juga yang sudah berumah tangga, sibuk dengan keluarganya masing-masing. Kita tidak bisa menuntut mereka untuk terus menerus menemani kita, sementara kita sebagai mahluk sosial akan selalu membutuhkan orang lain untuk berkomunikasi.
Lalu…..? Coba masuk dalam sebuah komunitas yang seusia dengan kita, komunitas keagamaan, komunitas sosial, komunitas dengan hobby yang sama. Apa saja yang bersifat positif. Bersama mereka kita bisa saling berbagi cerita, bercanda dan saling memberi semangat.

• Takut pikun
Kondisi ini memang sangat-sangat membuat para orang lansia, tidak nyaman. Stigma pikun dan pelupa, sering menyebabkan kita kehilangan kepercayaan diri, menjadi tidak yakin dengan apa yang kita kerjakan atau katakan.

Daripada kita duduk bengong, mikir yang mboten-mboten, kenapa tidak kita gunakan waktu untuk lebih memperdalam iman dengan memperbanyak membaca Kitab Suci kita masing-masing. Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya.
Tapi bagaimana kita bisa berhikmat (bijaksana) kalau tidak pernah belajar. Bagaimana kita bisa mengerti kalau tidak pernah membaca, ya … membaca kitab suci untuk bisa mengenal lebih dalam tentang Sang Khalik.
Ayub, seorang tokoh iman pernah berkata; “Biarlah yang sudah lanjut usianya berbicara, dan yang sudah banyak jumlah tahunnya memaparkan hikmat”.

So … what should we do now to make our golden age life happy?
– Selama kita masih bisa bernafas, jadikan keberadaan kita menyenangkan dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita, orang-orang yang mengasihi kita. Hidup adalah kesempatan,– kesempatan untuk berbuat kebajikan sebanyak mungkin selagi masih bisa.
– Selama kita masih bisa berbicara, mengapa tidak kita pakai untuk bercerita betapa besar kebaikan Tuhan, – pada generasi muda dan juga sesama lansia lainnya -. Sampaikan kata-kata positif yang menguatkan iman dan menginspirasi orang lain.
– Selama kita masih bisa berpikir, yuk kita pikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji; maka Tuhan sebagai sumber damai sejahtera akan menyertai kita.

My dear sahabat, setiap kita, berapapun umurnya, masih punya kesempatan dan potensi untuk berguna. Selama kita masih bisa berbuat sesuatu, just do it. Pandangan orang yang sering berkata bahwa di usia lanjut seseorang sudah seharusnya beristirahat, tanpa kegiatan, untuk menikmati hari tua, justru akan membuat kita drop dan malas bergerak. Nah ini bisa membuat kita depresi karena “nunggu waktu”

Akhirnya kita tahu bahwa usia lanjut bukanlah rintangan bagi kita untuk terus berbuat sesuatu bagi kemuliaan-Nya. Sendiri tidak membuat kita kesepian bila hati kita dipenuhi kasih-Nya. Banyak hal baik yang bisa kita lakukan bagi-Nya dan bagi sesama.
Amin.

NO TITLE

2 Agu

(curcol sore hari)

Sejak kami masih pacaran, dia (pacarku) tahu persis kalau aku pecinta kerja. Aku tidak bisa duduk diam, spend my time doing nothing. Aku enjoy banget ketika harus overtime untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Di rumahpun ada saja yang aku kerjakan. Aku selalu asyik bila ber”main” dengan hobiku yang tak jauh dari benang jarum dan kain. Hang out dengan teman-teman? Kurang membuatku antusias. Sekali-sekali boleh lah untuk menjaga komunitas social agar tidak dikatakan kuper (=kurang pergaulan).

Ketika hubungan kami semakin serius dan berencana untuk meneguhkan kasih kami dalam sebuah ikatan pernikahan, dia (status pacar berubah menjadi calon suami hehehe….) sempat bertanya bagaimana seandainya aku melepaskan profesiku di kantor dan menjadi 100% full time housewife. Wow….sebuah tantangan yang tidak mudah. Betapa tidak…karena waktu itu aku sedang menikmati “berenang” di karir yang cukup bagus, yang aku tahu akan terus meningkat dan meningkat ke posisi yang lebih tinggi.

Aku bimbang…..akan sanggupkah aku? Selama ini aku sudah biasa memegang uang sendiri dan mengatur serta menggunakannya sesuai dengan kebutuhanku, tanpa harus meminta persetujuan dari siapa-siapa. Uang uang aku sendiri. Betul khan? Dan…kalau aku harus melepaskan semua ini untuk menjadi seorang istri yang totally bergantung pada suami, terlebih soal keuangan dan pengambilan keputusan…akan sanggupkah aku? – pertanyaan ini berulang menggelitik hati dan pikiranku.

Gambaran seorang Ibu Rumah Tangga yang from dawn to sunset working at home mulai berseliweran di depan mataku. Daster dan rambut diikat ketika menunggu tukang sayur lewat sudah terbayang akan mengisi hari-hariku. Hahaha…..mungkin ini ya yang dikatakan takut sama bayangannya sendiri.

Lupa.. apa yang menjadi dasar keputusanku, hingga akhirnya aku berkata,”Yes, I do” saat janji nikah itu kami ucapkan. Dan… resmilah aku menjadi seorang istri, resmi pula menjadi a full time house wife, resmi meninggalkan karirku. Tapi… aku heran, aku bisa begitu legowo dan ikhlas. Dalam setiap doaku, aku hanya mohon agar aku bisa menjadi istri yang menghormati suami sebagai kepala rumah tangga yang juga imam dalam keluarga.

Aku juga tidak ingat lagi, bagaimana tiba-tiba (waktu itu) Bosku datang dan berbicara pada suamiku, meminta aku menjadi Plt (Pelaksana tugas) karena kantor cabang dia tidak ada yang pegang. Singkat cerita, aku kembali beraktifitas from 8 to 5 (balik ngantor maksudku). —- Beberapa bulan berlalu tapi kenapa status Plt-ku kok tak ada masa berakhirnya, dan aku asyik-asyik saja bekerja dengan passionately. Rupanya suamiku memperhatikan bagaimana antusiasnya aku menjalankan tugas Plt-ku tanpa melalaikan tugas, tanggung jawab dan kewajibanku sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga.

Maka….keterusanlah aku (dengan seijin suami) doing my job from 8 to 5. Jujur ada saatnya aku tinggalkan urusan kantor ketika suami dan anak-anak membutuhkan kehadiranku. Tak jarang pula aku tolak undangan business dinner atau overseas business trip ketika suami tidak memberi ijin. Sebaliknya ada beberapa moment kebersamaanku dengan anak-anak yang terlewatkan ketika ada pekerjaan yang tidak bisa aku pindah tangankan ke yang lain. Dilema? Pasti…!!! Dan sering!! Apalagi dengan makin bertambahnya tanggung jawab kantor yang aku emban.

Dengan berjalannya waktu, sekarang…, aku hanya bisa sujud bersyukur pada Tuhan yang sudah mengijinkan anak-anakku menyelesaikan study mereka hingga sarjana dan master, dengan predikat yang membuatku bangga terhadap usaha dan perjuangan mereka. Hatiku makin terharu bahagia ketika aku membaca statement suamiku yang dia buat saat kami retreat pasutri beberapa waktu yang lalu.

Aku tuliskan ya penggalan statement dia. Kalau aku tuliskan semua, takut kepalaku makin besar…saking bangganya. Hahaha……
“…..dari dulu sampai sekarang dia selalu menuruti kemauan saya dan selalu menganggap saya sebagai kepala keluarga, dalam situasi apapun. Hal ini membuat saya, tidak akan memperlakukan yang tidak baik, seperti marah dll, tapi saya juga akan menghormati dan memperlakukan dia sebagai pendamping untuk selamanya…” —- Bukan statement yang romantis khan? Memang!!

Tapi ini sudah membuat aku benar-benar speechless. Menjalankan ajaran Tuhan memang tidak gampang, tapi ketika kita mempunyai niat yang sungguh-sungguh, maka kekuatan dari Tuhan akan memampukan kita untuk melakukan perintahNya, tanpa kita sadari dan….Tuhan tidak pernah mengingkari janjiNya

Dia hanya minta kita, para istri, untuk tunduk, hormat dan taat kepada suami dalam segala sesuatu. Selebihnya Dia yang akan beracara dengan para suami. Dan itu saya alami, bukan? Kalau saya boleh berbangga (=segala kemuliaan hanya bagi Tuhan saja), selama lebih dari 25 tahun kami menikah, kami hampir tidak pernah bertengkar serius atau saling arguing. Dia memang suami yang baik, walau jauh dari sikap romantis yang banyak diimpikan oleh para wanita. Hiks hiks hiks …..Yet..for me, he is the best man ever.

So ladies, jangan pernah patah arang ya. Jangan pernah lelah berdoa. Tuhan pembela kita, Dia tempat kita mengadu, Dia tonggak kekuatan kita, karena Firman Tuhan itu ya dan amin. Trust me.

DALAM LEMAHKU…AKU KUAT

24 Mei

Haru biru perasaanku terus menggelayuti batinku. Masih terbayang, sesah dan dera yang ditimpahkan pada Junjunganku. Orang-orang itu seperti tak punya hati… Kejam…. tak ada rasa kemanusiaan. Hancur hatiku melihatNya dinista sedemikian kejinya.

Masih terekam jelas dalam benakku bagaimana cambuk dan pukulan itu menghancurkan seluruh tubuhNya dari kepala sampai ke ujung kaki. Tak ada lagi rupa yang bisa kupandang. SemarakNyapun tidak ada sehingga tak sanggup aku untuk memandang Dia. Ia begitu dihina dan dihindari, seorang yang penuh kesengsaraan, sehingga orang menutup muka terhadapNya.

Sementara aku tahu persis, seperti yang pernah Dia katakan padaku waktu itu, bahwa sesungguhnya, penyakitkulah yang ditanggungNya, kesengsaraankulah yang dipikulNya di atas sana. Dia tertikam karena pemberontakanku, Dia diremukkan karena kejahatanku, oleh bilur-bilurNya aku menjadi sembuh.

Enggan rasanya kaki ini beranjak meninggalkan tempat Dia dikuburkan. Aku ingin menjadi saksi pertama dari kebangkitanNya. Dia sudah berjanji tentang itu.

Pagi itu, tiba-tiba aku mendengar suara ramai, orang-orang berlarian ke sana kemari di depan kubur Junjunganku. “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan”, sayup aku mendengar ucapan tersebut. Haa…? Apa yang telah terjadi? Mengapa aku tak melihat? Aku yang terus menerus ada di sini kok sampai tidak tahu ada orang masuk ke kubur Junjunganku

Mataku segera tertuju pada seorang Ibu yang sedang menangis, sambil melihat ke dalam kubur dengan pandangan nanar. “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan”, aku dengar dia berucap seperti menjawab pertanyaan seseorang dari dalam kubur itu.

Dan….Oohhh …. Sosok itu… ya…. Dia…Duh Gusti…Dia itu Junjunganku. Benar!!! Aku tak salah lagi. Junjungankulah yang berdiri di belakang ibu itu. Sungguh…Dia telah bangkit seperti yang Dia janjikan. Benarlah yang dikatakan bahwa Dia harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga.

Belum puas rasanya aku menikmati bahagia karena Junjunganku telah hidup kembali…ehh…aku melihat kerumunan orang banyak dan semuanya sedang menengadah melihat ke langit. Ada apalagi ini?.

Aahh…seperti tercabik rasa hati ini. Junjunganku terangkat ke sorga meninggalkan aku. Aku tak bisa lagi melihat wajahNya karena awan yang menutupNya dari pandanganku. Sesak dadaku menahan tangis yang hampir pecah. “Tuhan..Tuhan, mengapa Engkau meninggalkan aku? Mengapa tak Kau bawa serta aku pergi bersamaMu? Aku lelah dengan segala pergumulan hidupku. Aku bosan dengan segala ketidak adilan manusia. Ingin aku segera meninggalkan dunia ini. Tak ada lagi bara semangat dalam diriku untuk melangkah lebih jauh. Berhenti…hanya itu yang ada dalam pikiranku dan yang ingin kulakukan”.

Tak kuat kaki ini menahan beban kesedihan hatiku, dan aku jatuh terduduk…lunglai, dengan air mata yang membasahi kedua pelupuk mataku. Hilang sudah seluruh peganganku bersama perginya Junjungan dan pujaan hatiku.

Sayup…aku seperti mendengar bisikan lembut, “Janganlah gelisah hatimu…Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”.

Bak gemuruh ombak yang reda perlahan… ketenangan mulai memasuki hati dan pikiranku. Seperti ada seseorang yang mengingatkan aku akan semua yang Junjunganku pernah katakan kepadaku. “Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersuka cita karena Aku pergi kepada BapaKu. Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu”. Ah…ini yang menghibur aku.

Perlahan ku angkat wajahku, ku tatap masa depanku. Ada banyak hal baru yang Tuhan sediakan bagiku…untuk kulakukan. Masih banyak!!!. Tak boleh aku berenang dan menikmati kesedihanku. Cukuplah kasih karuniaMu, Tuhan…bagiku, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaMu menjadi sempurna, dan aku akan selalu belajar untuk bermegah walapun dalam ke tak berdayaanku, supaya kuasaMu turun menaungi aku.

Lalu…aku berjalan meninggalkan masa laluku untuk menyelesaikan semua yang belum terselesaikan, sambil menunggu Junjunganku menjemput aku, nanti.

INDAH RENCANAMU, TUHAN.

17 Mei

“Sebenarnya aku ini anak siapa? Bagaimana ceritanya sehingga aku bisa terlahir di dunia ini? Apakah aku anak……. — Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba menggoda hatiku. Aku hanya mengenal “sejenak” laki-laki yang mereka bilang, itu ayahku. Sementara figure Bapak serta kasih sayang layaknya seorang ayah terhadap anaknya, tak pernah aku dapat darinya. Tak ada kenangan yang terekam dalam otakku, kapan dan dimana aku pernah bermain sepeda, liburan bersama atau duduk ngobrol dengan ayahku. Tidak pernah!!”. —– curahan hati anak muda ini membuat aku tercenung. Tak tahu aku harus menanggapi apa.

“Aku benci pada laki-laki yang sudah menghancurkan hidup ibuku”, lanjutnya…”Aku dendam pada orang, yang mereka bilang, dia ayahku. Aku kesal dengan saudara-saudara (tiri)ku, karena mereka mem-bully aku waktu aku masih kecil”. Ada nada sedih bercampur marah, ketika dia menceritakan kehidupannya.

Seperti sedang menonton film sinetron, aku mendengarkan cerita tentang keluarganya. Ah…aku tidak pernah menyangka itu benar-benar real dalam kehidupan nyata. Hampir aku tak percaya, ini benar-benar terjadi. Panjang dan tak sampai hati kalau aku harus menuliskannya di sini.
Kutatap matanya dalam-dalam, sembari berpikir keras, apa yang bisa aku sampaikan to appease and to soothe his mind and heart. Boleh saya bicara? Kataku lirih, agak ragu … karena tak tahu musti ngomong dari mana.

Kita memang tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi kita juga tidak boleh terus tenggelam dalam zona masa lalu. Masa lalu adalah materi yang bisa kita pelajari, untuk kita bangkit dari kegagalan, belajar tentang sebuah proses kehidupan. Jangan pernah mencoba menyalahkan siapapun juga. Pasrah…? Tidak juga. Kita harus melanjutkan perjalanan hidup, berjuang menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin dan esok lebih bermakna dari hari ini

“Tapi mengapa Tuhan menjadikan aku seperti ini?”, tanyanya. — Sebelum Tuhan membentuk kita dalam rahim ibu kita, Dia telah mengenal kita. Sebelum kita keluar dari kandungan ibu, Dia telah menguduskan kita. Dialah yang membentuk dan menenun kita dalam kandungan ibu kita. Dia mencipta kita dengan begitu detail, karena kita sangat berharga di mataNya

Itu sebabnya, jauhkan rasa menyesal ketika kita harus lahir di tengah keluarga yang (menurut kita) “tak jelas”, lahir dari ayah atau ibu yang tak berperan sebagaimana seharusnya orang tua. Siapa orang tua kita, bangsa, suku atau Negara dimana kita dilahirkan, itu adalah otoritas Tuhan. Mereka hanya mem-fasilitasi untuk kita terlahir di dunia ini, kalau boleh saya sampaikan. Yang pasti Dia selalu mempunyai rencana dan tujuan yang indah buat kita, tiap-tiap pribadi.

Tugas dan tanggung jawab kita adalah how to lead our lives in His way, menuruti dan menjalankan semua perintahNya, menjadi berguna bagi lingkungan sekitar lewat karya-karya terbaik kita, sekecil apapun itu. Jangan mudah menyerah dan putus asa. Jangan menunggu keadaan yang berubah untuk kita, tapi kitalah yang harus berubah untuk mengubah keadaan. Positive mind will go to positive action and positive action will give you positive reward.

“Akankah aku mengalami nasib yang sama seperti para pendahuluku? Rata-rata mereka mengalami kegagalan dalam pernikahan mereka” — Oh my dear… panas mataku merasakan luapan kesedihan anak muda ini. — Tidak….tidak, sekali lagi tidak!!!. Mereka adalah mereka, hidup kita adalah milik dan tanggung jawab kita sendiri. Memang banyak orang di luar sana yang mengatakan bahwa karma orang tua akan menimpa anak-anaknya, atau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, atau…apalagi lah … yang intinya kita akan mengalami hal serupa yang dialami oleh orang tua kita.

Saya pastikan, tidak…!!! Kalau kita menjadikan Tuhan sebagai tempat perlindungan, sebagai tempat perteduhan kita, maka malapetaka tidak akan menimpa kita, dan tulah atau kutuk tidak akan mendekati kita. Tuhan kita, Yesus Kristus, sudah mematahkan semua kutuk dosa masa lalu kita lewat pengorbananNya di atas Kayu Salib. Sangat wajar kalau kita mungkin (saat ini) tidak mengerti apa tujuan dan rencana Tuhan dalam hidup kita. Kita seakan terpuruk dalam ketidak berdayaan kita. Tak ada keberanian untuk membuka lembaran hari esok. Tapi kita harus yakin, kita juga punya hak untuk bahagia.

Come on my dear, lift up your face. Jangan pernah menyerah pada keadaan. You are not walking alone. God is by your side. You will have happy life and happy family of your own. Trust me!!
Tuhan sudah membuat rancangan tersendiri untuk kita, yaitu rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan. Dia memberikan kita hari depan yang penuh harapan.

Karena rencanaNya selalu indah bagi kita. Dan doaku menyertaimu.

HANYA KARENA………

11 Apr

Kuatir aku….
Telah berjalan terlalu jauh
Mengikuti apa yang aku pikir benar
Merasa mengerti apa yang sebenarnya tak pernah aku pahami
Pembenaran diri, untuk menyamarkan kekurangan sang batin

Kuatir aku….
Keimananku hanya sebatas identitas
Ibadahku hanya sebatas rutinitas
Dan itu sudah membuatku bangga
Sangat…

Kuatir aku….
Apa yang mereka pandang baik tentang aku
Hanya sebatas mata kasat memandang
Ku curi kemuliaanMu
Demi sekedar decak kagum dan pujian

“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Suara itu — menyeruak di tengah kegelapan
Ada getar sakit yang tertahan dan tak mungkin dilepas
Dan…Dia harus menanggungnya…sendiri

Tiba-tiba…aku melihat siapa diriku sebenarnya
Akulah yang telah membuatNya begitu menderita
Tanpa pernah aku menghargaiNya
Toh Dia lakukan itu juga untuk orang lain, bukan aku saja
Itu sangkaku…itu pikirku
Dan ….itu salah

SengsaraMu membuka mata hatiku
Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku
Sekarang ku anggap rugi, karena pengorbanan yang Kau lakukan
Untukku…

TubuhMu yang tercabik bercampur darah yang tertumpah
Telah menjadikanku ciptaanMu yang baru
Yang lama sudah berlalu
Sesungguhnya yang baru sudah datang

Hanya karena kasih karuniaMu
Aku ada sebagaimana aku ada sekarang

Terimakasih Bapa
Terimakasih Yesus
Terimakasih Roh Kudus
=============================
Paskah bukan sebatas pengampunan, dan selesai
Tapi hidup setelah itu…
Adakah dunia melihat
Kita tinggal di dalam Dia
Dan Dia ada di dalam kita?

HAPPY BLESSED PASSOVER!!!

SELALU…

20 Feb

Selalu….
Saat aku membuka mata
Sebelum ufuk timur membuka jendelanya buat sang surya
Ada rasa syukur terucap dari hati terdalam
Rasa terimakasih untuk kesempatan baru yang Dia masih berikan

Selalu…..
Ada kebaikan Tuhan yang baru memenuhi hidup ini
Kasih setiaNya tak pernah pupus
Dan tak pernah lekang karena waktu

Selalu…..
Semangat yang baru hadir
Mengawali semua rencana yang sudah terancang
Sirna sudah penat hari kemarin
Seakan hanyut bersama turunnya embun pagi

Ternyata……
Aku dapat merasakan semua itu
Ketika suasana hati yang seperti hati seorang anak — kesederhanaan—
Menemani hari-hari dan aktifitasku

Berharap dan menunggu
Apa yang akan Dia kerjakan bagiku sepanjang hari-hari mendatang
Membuatku bergairah dan melangkah maju
Untuk melakukan apa yang sudah menjadi bagianku

Sungguh..
Kebaikan Tuhan tak akan tergoyahkan
Oleh apa yang sedang bergejolak di sekitarku
Karena kasih setiaNya lebih baik dari hidup

Tak berkesudahan dan tak pernah habis rahmatNya
Selalu baru setiap pagi
Maka..biarlah bibir ini terus memegahkan namaNya
Selalu

Amin