WANITA (part 9)

28 Feb

“Gaji dia mah kecil Bu, kalau cuma segitu ngapain juga kerja, nyape-nyape’in badan aja!. Mending dia di rumah aja, toh income saya sudah bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga”, saya masih ingat dia pernah bercerita hal itu ke saya beberapa tahun lalu. Sejak itu, mereka tukar ‘peran’. Dan suaminya tak lagi menjadi sumber income bagi keluarga.

Selama bertahun-tahun, saya lihat (dari luar) kehidupan keluarga ini fine-fine saja. Anak-anak mereka tumbuh besar dan kuliah di perguruan tinggi yang cukup bagus. Istri mengatur seluruh keuangan keluarga, sementara suami menyelesaikan urusan rumah dari pagar depan sampai teras belakang rumah. Antar jemput anak dari sekolah sampai ke tempat les (waktu anak-anaknya masih kecil), juga menjadi tugas suami.

Kabar terbaru yang saya dengar, sang istri bersedia dan bertekad mengambil pensiun dini yang ditawarkan, sehubungan dengan kebijakan perusahaan tempat dia bekerja. Sang istri mencoba membuka usaha sendiri, tapi hasilnya tidak selancar yang dibayangkan. Saya bisa memahami, karena mengelola usaha sendiri tentu sangat berbeda dengan bekerja sebagai professional. Diapun mulai minta suaminya untuk ikut berusaha mencari income tambahan, tapi sepertinya cukup sulit, karena suami sudah “tidak terlatih” untuk berdagang, sementara mau melamar pekerjaan, juga kecil kemungkinannya, karena faktor usia.

Dan…ribut kecil-kecil mulai terjadi, saling menyalahkan, saling mengungkit peristiwa lama, siapa yang menyebabkan apa.

Mau menyalahkan suami? Kenapa sebagai kepala keluarga kok pasif banget. Harusnya dia donk yang bertanggung jawab untuk menafkahi keluarga. Rasanya we can not put the whole blame on him. Potensi dan kapasitas dia seperti terkebiri dari awal. Mungkin dia termasuk tipikal pria yang kurang memiliki fighting spirit untuk berargumentasi dengan istri. Daripada ribut. Kalau gitu salah si istri donk? Very difficult to say. Saya lihat sang istri tipikal wanita mandiri, cukup powerful, dan selalu berhitung untung rugi.

Lalu….haa.. (tarik nafas dalam)….Lagi sekali ya Sis, kita di sini sama-sama belajar sebagai sesama wanita. Agar kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kita lihat dan dengar. Bukan untuk mencari siapa salah siapa benar.

Memang tidak ada yang salah ketika seorang wanita atau istri bekerja dan berada di posisi yang cukup tinggi dengan income di atas rata-rata. Tidak salah juga ketika istri menjadi tulang punggung keluarga, kalau keadaannya memang demikian. Seperti yang dikatakan oleh seorang ibu pada putranya bahwa istri (bisa) membeli sebuah ladang…dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya – Amsal 31 : 16 —- Jadi…sah-sah saja wanita bekerja dan menghasilkan sebuah karya, mencari nafkah, meniti karir setinggi apapun yang dia bisa capai. Fine. Jangan feel guilty ya Sis, kalau kita berkarir di luar rumah. Hahaha …. Saya juga masih aktif bekerja di luar rumah kok, from 8 – 5 (working hours).

Nah….yang perlu dipikirkan, dan harus kita tanamkan dalam-dalam sampai alam bawah sadar kita ya..hahahaha, sampai segitunya deh!!! (becanda, sedikit lebay ya),  kita, wanita dari “sononya” Tuhan ciptakan sebagai penolong (ini sudah sering saya tulis). Jadi di mindset kita, jangan pernah terlintas bahwa kitalah (istri) Nakhoda kapal, yang menentukan kemana tujuan perjalanan rumah tangga kita.  Mentang-mentang kita sumber nafkah keluarga, maka semua harus ikuti aturan main kita.

Sama seperti sebuah perusahaan yang mempunyai struktur organisasi, dalam rumah tangga juga ada strukturnya. Dan…Suami adalah pucuk pimpinan tertinggi, decision maker. Tanggung jawab kita, istri, adalah pendamping, penolong, tiang doa dan pelaksana. Selebihnya tak perlulah saya jelaskan. Sudah sering saya tulis sebelumnya. Lalu apakah sedemikian rendahnyakah posisi kita? —- Tidak Sis, sama sekali tidak, karena dikatakan bahwa Istri yang cakap lebih berharga dari permata. See….begitu tinggi penghargaan Tuhan pada kita kaum wanita, para istri

Yuk…kita sama-sama belajar to be wise ya Sis.

 

Iklan

SPEND MORE TIME WITH HIM

31 Jan

Sampaikan padaNya…

Apa saja yang ada dalam hatimu

Suka cita, yang membuat kau tersenyum bahagia

Beban berat, yang membuat kau lelah untuk melangkah

Sakit hati, yang membuat kau kehilangan damai

Mimpi indah, yang membuat kau bergairah merancangkan sebuah rencana

Apa saja…..just tell Him in prayer

 

Tak perlu ada yang harus disembunyikan

Mungkin ada godaan yang mengintip di perjalanan kita

Sampaikan padaNya….Maka Dia akan melindungimu

Tunjukkan padaNya lembaran hatimu

Saat kau merasa terluka..Maka Dia akan membalut dan menyembuhkanNya

 

Jangan pernah ragu untuk mengakui

Kelemahanmu

Kebutuhanmu

Keresahanmu

Apa saja…just tell Him in prayer

 

TanganNya selalu terbuka….Menunggu

Karena Dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu

Bersamamu

 

So just spend more time with Him

Thank You, Lord

1 Jan

On this very first newborn day
Where we just start our first step
To go through the new open path
God has prepared before us

How great His mercy upon us
How deep His love is
How amazing what He has been doing for us
Nothing can be compared

Lord, we just want to thank You
For the air that we breathe
For the sunshine and the stars in the sky

Thank You Lord
For The New Year
For The new moment
For The new opportunity
Given to us

“Have a very blessed New Year!!!!”

GEMA SEBUAH KASIH

12 Des

Selalu kagum aku bila ingat kebaikanNya

Tak pernah cukup kata untuk aku mengagungkan namaNya

Bahkan langit menceritakan kemuliaanNya

Dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya

 

Maka hari meneruskan berita itu kepada hari

Dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam

Walau tanpa harus merangkai kata nan indah

Namun gema kasih itu terdengar ke seluruh dunia,

……..sampai ke ujung bumi

 

Dia yang begitu sempurna, tanpa cela, noda dan dosa

Rela merendahkan diri setara dengan manusia biasa

Tak pernah Dia pandang hina kesengsaraan orang yang tertindas

Dia tidak menyembunyikan wajahNya dari orang yang mencariNya

Dia mendengar jerit orang yang minta tolong kepadaNYa

 

Kandang hina….bukti  nyata

Akan arti sebuah kasih yang sesungguhnya

Itulah Natal bagi kita

 

Have a blessed coming Christmas 2018

 

 

NGOBROL SAMA TUHAN

21 Sep

Tuhan, kalau boleh hari ini aku ga berdoa dulu ya

Aku sedang capek…hatiku yang capek

Aku kalut, pingin marah, pingin menjerit, pingin nangis

Tapi itu tak mungkin aku lakukan, bukan?

 

Nah …. dalam keadaan begini, mana mungkin aku bisa berdoa?

Kalau lagi gunda, aku juga ga bisa menyanyi memuji Engkau

 

Jadi aku ijin dulu ya…ga berdoa !!!

============================================

Itu cerita seorang teman, yang katanya habis ngomong ke Tuhan, minta ijin untuk tidak berdoa dulu. “Aku sedang lelah batin”, katanya lebih lanjut

Sebenarnya aku prihatin terhadap urusan batin dia, tapi jujur, aku juga jadi pingin ngakak habis. Lucu banget teman aku yang satu ini. Tapi ya ga mungkin toh aku menertawakan dia.

Dibalik penampilannya yang lembut, sebenarnya dia adalah seorang wanita yang tangguh. Dia mandiri dan pekerja keras. Dia juga pribadi yang taat beribadah dan selalu berusaha menjalankan setiap kebenaran ajaran Tuhan. Tapi kali ini dia benar-benar terlihat beda. Dia seperti sedang gamang dan mencari-cari ‘pegangan’ agar dia tetap bisa ‘berdiri’. “Aku ga mau anak-anak melihat kesedihanku. Dan aku harus perang dengan batinku sendiri supaya aku tetap ceria di depan anak-anak”, katanya perlahan sambil terisak.

Akhirnya aku pegang tangan dia, aku tatap matanya yang terlihat kosong, seakan takut menghadapi hari esok. Sebagai sahabat, aku tahu persis apa yang membuat dia begitu gunda gulana. Kubiarkan dia menangis, untuk melepaskan rasa sesak di dadanya. “Boleh aku ngomong sekarang”, ujarku setelah kulihat dia mulai reda dan tenang

Sebenarnya waktu kamu ngomong ke Tuhan, minta ijin untuk tidak berdoa, itu kamu juga sedang berdoa. Dan saat itu, Tuhan sedang dekat sekali sama kamu, mendengarkan semua kata batin kamu yang menyebabkan kamu ‘lelah’. Dia adalah Tuhan yang peduli, sekecil apapun masalah kita, tidak akan pernah lepas dari pantauanNya, bahkan setiap helai rambut di kepala kita, masuk dalam hitunganNya, karena kita sangat berharga di mataNya

Doa bukan berarti kita harus menggunakan kata-kata indah dan bahasa baku dengan ejaan yang sangat sempurna. Doa adalah komunikasi yang kita jalin bersama Tuhan, seperti kita sedang berhadapan dengan seorang sahabat yang bisa kita andalkan. Sahabat yang bisa mendengarkan semua curahan hati, memberikan ketenangan jiwa sampai jalan keluar untuk setiap masalah yang kita hadapi

  • Ketika kita lagi senang, bilang aja,”Tuhan, aku senang banget loh hari ini dapat hadiah ulang tahun yang sudah lama aku rindukan, Makasih ya Tuhan” — Ini adalah doa syukur
  • Ketika kita lagi sakit, bilang aja,”Tuhan, badanku terasa sakit semua, kayak mau flu, tapi aku musti kerja, ya sudah aku kerja dulu ya Tuhan, nanti sore aku akan tidur lebih awal” — Ini adalah doa bersemangat, bukan mengeluh
  • Ketika sedang marah, bilang aja,”Tuhan, hari ini aku kesel banget, teman kantorku sudah nyakiti hati. Keterlaluan dia. Aku pingin banget bales, tapi Tuhan ga suka khan kalau aku balas kejahatan dengan yang jahat? Ah…aku harap besok sudah bisa baikan dan aku ga dendam sama dia” — Ini doa yang jujur
  • Ketika sedang sedih, bilang aja,”Tuhan, aku kok pingin nangis ya…”. Ini juga doa loh…nangis aja, maka kamu akan merasa lega
  • Ketika sedang lelah, bilang aja, “Lord, I need a break dari rutinitas ini…” Hehe…ini pamitan ke Tuhan kalau kita butuh me time. Ga masalah, Tuhan juga beristirahat di hari ke tujuh saat penciptaan dunia dan isinya
  • Ketika sedang……banyak lagi yang lainnya ketika suasana hati kita sedang……just name it dan bawa semua rasa hati itu untuk diobrolkan sama Tuhan. Bukan dengan para gossiper ya.

Jadi Sis, jangan ragu untuk selalu ngobrol (doa) dengan Tuhan ya, apapun keadaan kita, dan dimanapun kita berada. He is a good friend indeed.

Benar kata Mazmur Daud,”Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau!. Tidak selama-lamanya dibiarkanNya orang benar itu goyah”

“Ya..aku ga akan bosan ngobrol sama Tuhan”, kata sahabatku

Segala puji hanya bagi Dia saja. Amin!!!

 

KALAU….

14 Sep

Kalau ku hidup sampai hari ini

Itu hanya karena kemurahanMu

Kau jadikan aku sangat berharga di hadapanMu

Kebaikan dan penyertaanMu

Itulah yang menjadi kekuatanku

 

Kalau ku hidup sampai hari ini

Itu adalah kesempatan yang Kau berikan buatku

Untuk aku bisa melihat dan menikmati mujizat-mujizatMu yang baru

Lewat hembusan nafas yang aku rasakan setiap pagi

Kala aku membuka mata dan melihat terangnya matahari

 

Kalau ku hidup sampai hari ini

Itu hanyalah perpanjangan waktu yang Kau ijinkan untuk aku lalui

Agar aku bisa menggunakan sisa hidup ini

Dengan menceritakan tentang semua kebaikanMu

Pada siapa aku bisa bercerita

 

Kalau ku hidup sampai hari

Itu karena Kau ingin aku selalu belajar mensyukuri

Setiap perkara yang Kau taruh dalam genggaman tanganku

Belajar menjaga hati dan menahan kata

Ketika masalah menghadang disetiap pergantian musim hidupku

 

Dan….kalau nanti tiba waktuku

Untuk aku kembali menghadap Engkau, Sang Khalik

Ingin aku membawa serta bersamaku

Hal-hal yang Kau pandang baik, yang berkenan dan menyukakan hatiMu

 

Dan aku bisa berkata;

“Hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan”

 

 

WANITA (part 8)

20 Agu

Sejak anak bungsunya masuk TK, dia harus bangun pagi-pagi benar untuk menyiapkan sarapan juga bekal sekolah si bungsu. 2 anak sebelumnya (dulu) semua dia serahkan ke baby sitter yang mengurus, tapi anak bungsunya ini beda, dia selalu minta Mummy yang siapin, tidak mau yang lain. Dan si Mummy tidak punya alasan untuk menolak, hehehe…mungkin karena anak bungsu ya?

Sebenarnya teman saya ini bukan type wanita rumah. Dia seorang wanita karir murni. Dia membantu usaha suaminya dan sudah biasa mengatur banyak karyawan juga buruh pabrik yang tidak sedikit jumlahnya. Tapi dengan tuntutan anaknya tadi, mau tidak mau dia harus belajar. Dia mulai browsing internet cara membuat sarapan pagi dan juga bekal anak sekolah yang praktis tapi sehat. Tanpa dia sadari, lama-lama dia mulai menikmati “tugas” barunya itu dan akhirnya dia menjadi mahir mengolah berbagai makanan (masakan). Bisa karena biasa, kata orang tua dulu. Benar juga ya…!!!

Hari gini gitu loh…, khususnya bagi ibu-ibu yang secara materi boleh dibilang ada, maka sudah dipastikan mereka mempunyai beberapa asisten rumah tangga, yang membantu semua urusan rumah tangga. Kebanyakan, keluarga muda pun, pada umumnya mempunyai seorang ‘Personal Assistant’ untuk meringankan pekerjaan di rumah, karena mereka (suami istri) harus sama-sama bekerja di luar. Jadi semua sudah serba enak. Beruntung para Ibu yang tinggal di Indonesia yang masih bisa meng-hire ‘personal assistant’, sesuai kebutuhan. Bahkan ada yang sampai 4 atau 5 orang dalam 1 keluarga. Tidak seperti mereka yang tinggal di luar negeri yang harus mengerjakan segala sesuatunya sendiri.

Teman saya di atas, sebenarnya termasuk Ibu dengan banyak PA (Persoanl Assistant), di rumahnya. Bagaimana tidak? 3 anaknya masing-masing mempunyai 1 orang PA untuk mendampingi, belum lagi yang bertugas untuk bagian umum rumah serta juru masak.  Temasuk juga sopir-sopir yang standby di rumah untuk mengantar anak-anak sekolah, les serta kegiatan lainnya.

Saya harus angkat topi buat teman yang satu ini. Dia pintar, dia cekatan. Ada banyak perubahan yang saya lihat sekarang di banding waktu kita masih sama-sama di bangku kuliah. Dari awal menikah sampai anak ke 2 lahir, dia tidak pernah menyentuh hal-hal yang berbau urusan rumah. Semua dia serahkan ke para “PA” nya tadi. Tapi makin ke sini, setelah anak bungsunya “memaksa” dia, …. dia benar-benar berubah!! Dia bangun sebelum ufuk pagi menampakkan senyumnya di batas cakrawala. Dia menyediakan makanan buat anak-anak dan suaminya. Lalu dia membagi-bagikan tugas kepada para “PA”nya

“Aku sangat menikmati hidupku sekarang”, ungkapnya tidak lama ini saat kita curi waktu untuk makan siang bersama. “Aku baru merasakan, inilah peranku yang sesungguhnya buat suami dan anak-anak, tanpa harus meninggalkan tugas awalku, membantu suami di kantor. Anak-anak sekarang makin dekat ke aku”, lanjutnya. Ya..tidak dapat dipungkiri bahwa ada banyak ibu yang sudah melupakan bahwa tugas Mbak/suster/asisten Rumah tangga adalah membantu, bukan mengambil alih fungsi Nyonya Rumah.

“Ah…you really inspired me a lot Sis”, kataku sambil memeluk dia ketika kami akan berpisah. Lain kali cerita lagi ya, bagaimana caranya membagi waktu, agar tugas di rumah dan di kantor bisa berjalan seimbang, dan masih punya waktu ‘me time’ pula, kayak hari ini!!. Buktinya dia selalu tampil rapi dan segar, walaupun tidak dengan make up yang tebal

Sekali lagi thank you so much untuk sharingnya yang cuma bisa saya tulis singkat di sini. Tidak ada kata terlambat untuk kita mau belajar dan berubah untuk menjalankan tugas serta tanggung jawab kita sebagai wanita, ibu dan istri.

I can do all things with God who strengthen me.