LEBIH DALAM LAGI….

5 Jul

Satu hal yang ku rindukan ya Tuhan
Selalu berada didekatMu
Dengan segenap hati
Dengan segenap jiwa
Kumenanti di hadiratMu

Lebih dalam lagi ku rindu Kau Tuhan
Lebih dari segala yang ada
Lebih dalam lagi ku cinta Kau Yesus
Ku mengasihiMu
…………………
Belum habis lagu itu kunyanyikan
Kerongkonganku terasa kering
Hanya bibir yang bergetar
Sementara air mata tak lagi bisa ku tahan

Lebih dalam lagi…..
Dalam ‘diam’ku
HadiratMu semakin nyata

Tanpa suara, hatiku berucap
“Engkau baik, Bapa…sungguh amat baik”
Dengan apa harus kubandingkan
Tak akan pernah ada
Karena Engkau sangat baik

Dalam lemahku, Kau datang menguatkanku
Dalam takutku, Kau hadir meneguhkanku
Dalam lelahku, Kau ada menopangku
Kau selalu ada di setiap denyut jantungku

Lebih dalam lagi….
Aku sudah terlanjur jatuh cinta
Aku tak bisa jauh dariMu, Tuhan
I need You, because I am so deeply in love with You

Jangan pernah jauh dariku ya Tuhan
Kehangatan kasihMu membuatku
Tenang…
Lebih dalam lagi

Maka hatikupun berbisik
O’ how I love You, Lord!!!

Dan…
Air mataku masih terus hangat membasahi pipi

Iklan

WANITA (part 7)

4 Jun

“Aku capek, Bu!”, katanya dengan suara lirih. “Sampai hari ini suamiku belum juga bekerja, setelah terkena PHK tahun lalu. Memang, untuk hidup kami masih bisa mengandalkan gajih dari saya,tapi kebutuhan hidup tiap tahun khan terus bertambah, belum lagi anak yang sebentar lagi sudah mau sekolah”.

“Tapi dia masih mau berusaha khan?, Dia bukan pria yang malas dan cuma mau bergantung pada istri khan?”, tanyaku ingin memastikan apa pendangannya terhadap suaminya yang sedang menganggur. Aku kenal betul dengan keluarga ini.

“Ya Bu, dia sebenarnya type pekerja keras, dia sering malu dan tidak enak pada saya, karena dia belum berhasil menjadi kepala keluarga sebagaimana mustinya. Saya sampai kasihan juga ke dia Bu. Tapi ya itu tadi, kayaknya jalan masih belum terbuka buat dia”.

Wanita….ya…wanita…sering kali ada peran tak terduga yang harus kita ‘mainkan’ dalam kehidupan keluarga.

  • Ada peran seperti seorang ratu di rumah, di kelilingi banyak asisten yang menyediakan semua kebutuhannya, mau pergi tinggal panggil driver, mobil mengkilat tersedia di garasi, mau belanja tinggal gesek, pelunasan tanggung jawab suami, hehehe….hidup tanpa beban.
  • Ada peran seorang putri yang fragile (rapuh) sehingga harus dilindungi dan diatur. Segala sesuatu tergantung suami, tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Ibaratnya seperti anak sekolah, pergi harus diantar, pulang harus dijemput
  • Ada peran bak guardian angel (pelindung). Semua keamanan dan kenyamanan dalam rumah berada di bawah kontrolnya. Semua kebutuhan keluarga sudah ada dalam listnya dan berjalan beres, selama ada dia
  • Ada peran sebagai panglima perang. Setiap ada masalah dalam keluarga, dia yang menghadapi karena selalu punya idea cemerlang untuk menyelesaikannya. Tak jarang dia juga terjun langsung ke ‘lapangan’ untuk segala macam urusan, dari RT, RW, Lurah, Camat dll
  • Ada peran pembantu, hahaha….semua pekerjaan rumah cuci gosok masak dia kerjai sendiri, boleh dibilang dari pagar depan sampai tembok belakang, dari genteng bocor sampai pipa merembes, dia bisa handle.
  • Ada peran pejuang, karena dialah yang berjuang demi kelangsungan hidup keluarganya. Dia harus bekerja mencari nafkah, sekaligus membereskan urusan rumah tangga. Seperti Ibu muda di atas tadi.

Masih banyak lagi sebenarnya peran-peran yang harus bisa dimainkan oleh wanita dalam kehidupan keluarganya. Tak heran timbul istilah bahwa wanita adalah mahkluk multitasking. Jadi sebenarnya, sadar atau tidak, benar atau tidak, mau atau tidak, setiap kita -wanita- sudah dan memang selalu, harus bisa memainkan semua peran di atas, sesuai keadaan dan kebutuhan.

Sampai ada satu ‘quote’ yang mengibaratkan bahwa “wanita itu serupa dengan kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya”. Wow…so amazing!!!. Coba, apa yang tidak dimiliki oleh seorang saudagar? — semua punya. Dia tidak akan pernah kekurangan makanan di dalam kapal-kapalnya

Dear sista, itulah kita para wanita, para istri dan para ibu – ibarat saudagar kaya yang punya segala sesuatu. Ya … segala sesuatu yang bisa kita berikan buat keluarga kita. Tidak perlu harus sekolah tinggi untuk menjadi istri yang handal me-manage rumah tangganya. Tidak perlu ibu yang lulusan S3 untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya sampai menjadi ‘orang’ berhasil.

Yang dibutuhkan hanya peran kita…ya peran kita, bagaimana kita memainkan peran itu di tengah keluarga. Ketika kita bermain apik dan benar, bahagialah keluarga kita, tapi ketika kita tidak memainkan peran sesuai arahan sutradara yaitu sang Khalik itu sendiri, maka berantakanlah seluruh kisah keluarga kita.

Haa…baru aku sadar, betapa pentingnya peran kita – wanita – ciptaan Tuhan yang sangat indah, terlihat lemah, rapuh dan tak berdaya, namun Tuhan sudah menjadikan dia sosok yang hebat, lengkap dengan perasaan yang halus tapi dengan intuisi yang kuat

What a blessing to be a woman. Semangat terus ya Sis….!!!

 

WANITA (part 6)

9 Mei

Aku kenal dia sebagai wanita yang tidak bisa diam. Ada saja yang ingin dia kerjakan. Aktifitas dia banyak sekali, kalau boleh kubilang. Usaha mini market yang dia kelola, praktis menyita waktunya dari pagi sampai malam, belum lagi kegiatan sosial yang sudah terjadwal penuh, tapi…dia masih bisa membagi waktu untuk keluarga. Urusan dapur dan meja makan selalu dia tangani sendiri. Semua keperluan suami, dia handle sendiri. Eh…masih sempat juga dia berkreasi dengan kain jarum dan benang, dari menjahit baju, membuat selimut perca, lap tangan lucu, atau apa saja deh. Memang aku tahu salah satu hobi dia, menjahit.

“Kamu ga capek?”, pernah aku tanya dia. “Hehehe…!”, dia geli dengan pertanyaanku. “Aku malah bingung kalau di suruh duduk diam, ga ngapa-ngapain”. — “Ya jujur, kadang aku capek juga”, sambungnya. Ya pastilah…usia sudah di atas kepala 5 gitu loh.., tapi aku bisa sangat-sangat mengerti dia. Sebagai wanita, selama kita masih diberi kesehatan dan bisa beraktifitas, kenapa kita harus diam dan merasa ‘tua’. Yang penting kita bisa mengatur diri sendiri, kapan harus beraktifitas dan kapan harus istirahat.

Jadi ingat cerita Raja Salomo. Salah satu kriteria seorang wanita yang cakap di jaman itu, adalah ‘ia (rajin) mencari bulu domba dan rami dan senang bekerja dengan tangannya’. Maka….pikiranku langsung mencari koneksitasnya dengan ‘ga bisa diamnya’ temanku ini, yang aku suka candain dia sebagai hiperaktif di usia senja. Hahaha….

Kalau orang mencari bulu domba (jaman itu), tentu untuk membuat mantel atau baju hangat, sementara rami, yang aku tahu bisa dipintal jadi kain atau tali. Dan wanita itu senang bekerja dengan tangannya (sendiri). Hmm…..mungkin aku boleh mengatakan (sekali lagi, tulisan ini untuk kita sama-sama belajar ya Sis), sepertinya memang sudah bawaan alami seorang wanita yang dengan senang hati kalau dia bisa menyiapkan sendiri semua kebutuhan keluarganya. Dia akan sangat bahagia dan bangga kalau bisa mencurahkan seluruh perhatian dan cintanya pada suami juga anak-anaknya, memberikan kehangatan kasih (bulu domba), dan menjadi pengikat antara anggota keluarga yang satu dengan yang lain (rami yang dipintal).

Dear sisters, kita adalah tiang doa dalam keluarga, kalau bukan kita yang mendukung mereka (Suami dan anak-anak), siapa lagi?. Masih banyak cerita klise, suami dan anak-anak merasa tidak diperhatikan dan tidak menerima kehangatan dari istri/ibu, sehingga harus mencarinya di luar rumah lewat pergaulan yang salah dan ‘obat’. Jaman now istilah ‘pelakor’ (perebut laki orang) sudah masuk dalam kosa kata baru.Waduh…saking sudah menjamurnya fenomena itu.

Memang tugas seorang istri/ibu tidaklah ringan, apalagi kalau dia juga harus bekerja di luar rumah, seakan-akan dia dituntut untuk berjaga selama 24 jam penuh demi keluarganya. Sampai temanku di atas pernah berkata,”Kalau saja aku punya 36 jam sehari….”. Hmmm….mimpi kali!!! ‘Urat lelah’ sepertinya tidak ada di fisik wanita….tapi—kita bisa capek juga khan? Nah, take time for “me time”. Boleh…tidak dosa kok hehehe….

Sebenarnya kunci utamanya hanya….bersama Dia, dengan selalu bersandar dan mohon kekuatan dariNya, kita, wanita, akan dimampukan untuk menjadi wanita cakap yang selalu menyalurkan kasih sayang serta perhatian dalam keluarga kita, sehingga suasana rumah atau saat berkumpul adalah moment yang selalu ditunggu oleh suami dan anak-anak.

Tetap semangat ya Sis, meskipun mungkin ada sedikit complaint, celaan, atau sedikit rewel-rewel yang kita terima, karena memang, sekuat apapun kita berjuang to be a super Mom, still we are not perfect in any way. Percayalah…Tuhan menilik hati kita. Tuhan memperhitungkan perjuangan kita, so…keep strong and be tough ya Sis. Tapi jangan minta tambah waktu 36 jam ya…gempor kita nanti hahahaha…..

 

IBUKU…..KARTINIKU

20 Apr

Bangku kuliah tak pernah dia rasakan, hanya sebatas lulus SMP. Itupun dia sudah bangga dan bersyukur. Keadaan ekonomi keluarga membuat dia tumbuh menjadi gadis yang tegar dan berani berjuang demi ‘hidup’. Apapun dia lakukan, asal halal, dan menghasilkan uang. Naluri business-nya terbentuk secara alami.

Setelah menikah, dia mencoba untuk berdagang kecil-kecilan. Dari beras, gula kopi dan lainnya yang merupakan kebutuhan rumah tangga. Lama-lama usahanya berkembang, menjadi toko sembako, dan berkembang lagi sebagai agen arang kayu sampai minyak tanah. Dia selalu bisa melihat peluang yang bisa dikerjakan…dan umumnya berhasil – sesuai dengan kapasitasnya.

Dia bukan orang yang bisa berbasa basi, mengatur kata sesuai dengan tata bahasa yang baik. Apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, langsung dia ucapkan tanpa di ‘olah’ dulu. Tak jarang kata-katanya membuat orang lain (yang belum kenal dekat) tersinggung. Tapi sebenarnya dia memiliki hati yang baik. Jiwa sosialnya tinggi. Tak segan-segan dia menolong orang lain, baik tenaga, waktu juga dana.

Dia mendidik anak-anaknya dengan keras, sangat keras kalau boleh ku bilang. “Jangan malas belajar, sekolah yang tinggi”, ujarnya dengan nada tinggi kalau melihat anak-anaknya rada ‘santai’. — “Ibu tidak bisa meninggali warisan harta, dengan sekolah tinggi, kalian akan hidup lebih baik”, kalimat itu selalu dia ucapkan buat anak-anaknya.

Dia tidak pernah memanjakan anak-anak-nya. Dia tidak pernah mendampingi anak-anaknya belajar. Ya bagaimana, lah wong pendidikan dia sendiri juga tidak menunjang. Maaf!. Tapi dia juga tidak (sanggup secara keuangan) membawa anak-anaknya ke tempat les untuk tambahan belajar. “Kalian harus berusaha sendiri, harus bisa, karena hidup adalah berjuang”.  Ya…dia memang sudah membuktikan bahwa dia berjuang untuk membesarkan anak-anaknya, terlebih setelah suami tercinta berpulang meninggalkan dia untuk selamanya.

Tak habis pikir aku meyaksikan itu. Teori pendidikan tak pernah dia kenal, ilmu dagang tak pernah dia pelajari, ilmu management apalagi, tapi dia bisa me-manage hidup keluarganya sedemikian rupa. Dia hanya berjalan dengan hati dan intuisinya sebagai seorang wanita, sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya. Perjuangannya tak kenal kata lelah, demi kebaikan dan kebahagiaan keluarga.

Dan benar…anak-anaknya semua berhasil menyelesaikan kuliahnya sampai tingkat sarjana. Semua dengan prestasi di atas rata-rata. Sekarang….mereka ada yang menjadi pengusaha dan ada juga yang bekerja sebagai professional sesuai bidangnya masing-masing. Dan yang membuatku kagum, dia juga berhasil mengarahkan anak-anaknya hidup dengan berpegang pada iman yang kuat.

Bagiku….emansipasi wanita seperti inilah yang waktu itu diperjuangkan oleh Ibu RA Kartini. Menjadi pribadi yang tidak hanya pasrah pada nasib, duduk diam sebagai tiyang wingking dan ‘berenang manja’ dalam kelemahan fisik seorang wanita.

Terlepas dari semua itu…..menurutku emansipasi bukan hanya sebatas kita sudah bebas berkarya dan berprofesi di luar rumah. Oleh perjuangan Ibu RA Kartini, kesempatan itu sudah makin lebih mudah dan terbuka lebar sekarang. Sampai-sampai tak jarang (maaf ya!) banyak kaumku yang lupa pada tanggung jawab dan kewajibannya sebagai istri dan ibu di keluarganya sendiri, saking asyiknya meniti karir. Emansipasi bukan pula berarti kita bebas menukar posisi dalam kehidupan nikah. Istri menjadi kepala keluarga dan suami selalu tut wuri handayani — ikut maunya istri saja.

Bagiku….emansipasi adalah bagaimana kita berperan sebagai wanita yang tahu menempatkan diri dalam keluarga dan masyarakat, dan mendedikasikan hidupnya sebagai sumber kekuatan yang dapat membawa generasi muda menjadi generasi penerus bangsa yang berintegritas. Menjadi seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dalam kebenaran, menurut jalan dan ketetapan yang sudah diberikan Tuhan.

Dialah Ibuku…Dialah Kartiniku

Selamat Hari Kartini!!!

WANITA (part 5)

11 Apr

“Gara-gara odol?—Kok bisa?”, awalnya aku heran dengan cerita seorang suami yang masih tergolong muda usia.

Setelah dia selesai bicara, baru aku paham. Ternyata dia dan istrinya mempunyai kebiasaan yang berbeda. Istrinya adalah seorang yang sangat detail dan melakukan segala sesuatu sesuai runutan dan aturan, sementara dia, adalah orang yang rada “slebor”, yang penting hasil akhirnya bener. Dan ini yang sering menjadi penyebab pertengkaran antara mereka berdua

Contohnya tadi itu…..odol!!! Sang istri selalu memencet odol dari bawah sehingga bentuk tube odol tetap rapi sampai habis, sementara suami, asal pencet, bisa dari atas, bawah, tengah, gimana dia suka saja. Alhasil bentuk tube bisa pleyat pleyot tak karuan. Ini yang bikin istri sewot. Hahaha…..lucu juga ya…bertengkar gara-gara beda cara mencet odol!!!!. Ya sih….kelihatannya lucu dan sepele…buat yang tidak mengalami…tapi ini bisa menjadi sumber cekcok yang akan merembet kemana-mana, untuk saling meng-high light kesalahan pasangan dan mem-point out keunggulan diri sendiri.

“Tapi sekarang semua sudah baik-baik khan?”, tanyaku ingin tahu, karena aku melihat pandangannya masih terlihat kosong begitu. “Itulah masalahnya…saya merasa semua yang saya lakukan akhir-akhir ini selalu salah di mata dia, dan sepertinya dia sudah tidak menghargai saya lagi”, suaranya makin terdengar pelan. “Apalagi income saya sekarang tidak sebagus dia”

Aku tahu kalau karir istrinya sedang naik daun. Sang istri baru saja dipromosikan sebagai Manager keuangan dengan fasilitas yang juga bertambah, sementara dia sendiri … usaha property-nya tidak lagi se ‘booming’ dulu. Jadi dia lebih banyak di rumah dan mengerjakan all “home task” yang tidak kepegang oleh istri, yang (bisa dimengerti) semakin sibuk sekarang.

Ah…aku tidak mau men – “jugde” si istri, karena mungkin aku akan mendengar versi yang lain kalau sang istri ada di sini dan bercerita apa yang dia rasakan. Aku juga seorang istri, yang masih aktif bekerja pula. Dan dari awal aku memang ingin mempersembahkan tulisanku ini buat diriku sendiri (Khan aku juga harus memotivasi diri sendiri toh!!); dan kaumku, para wanita bekerja, para istri termasuk juga Ibu rumah tangga, yang full time house wife, untuk kita sama-sama belajar menjalani hidup sebagai seorang wanita yang dapat menjadi berkat bagi keluarga kita sendiri, juga bagi banyak orang di luar sana.

Kalau seorang istri ditanya apakah dia baik kepada suaminya? Pasti kita akan dengar jawaban,”Tentu saja, buktinya aku menikah dengan dia dan sudah mendampingi dia sekian lama”. Tapi akankah kita tetap bisa menjaga ‘hati baik’ kita ketika sikap suami membuat kita kesal atau ketika suami sedang marah tanpa alasan yang jelas?. Bagaimana pula kalau uang belanja di’kurang’i atau suami sering pulang terlambat? Atau …. yang lebih parah lagi, kita mendengar gossip yang bukan-bukan tentang suami?. — Masih mampukah kita tersenyum manis dan menaikkan doa-doa berkat bagi suami?. Masih sanggupkah kita berbuat baik kepadanya dan tidak berbuat jahat (pada suami) seumur hidup kita? (Amsal 31 : 12).

Ah…praktek tidak seindah teori. Aku punya teman, dia sering melempar kunci pagar ke suami yang baru pulang, bukan karena sedang marah pada suami loh.., tapi hanya karena sedang asyik nonton Drakor (Drama Korea hehehe…) yang lagi seru. Dia hanya enggan membuka pintu pagar buat suami. Sementara ada teman lain lagi, yang dengan nada cuek bercerita kalau week end dia baru bangun pukul 11.00 dan membiarkan suami mengurus anak serta membereskan rumah. Alasannya dia capek sudah kerja selama week days, dan ingin istrihat. Loh…suami khan juga kerja, pikirku.

Lagi-lagi,.. ah….!! Cerita romantika rumah tangga memang unik dan tidak ada habisnya untuk dibicarakan. Menurut aku sih, pada dasarnya tidak ada istri yang berniat menjahati suaminya sendiri. Tapi ada satu “kejahatan” yang sering dilakukan istri, tanpa ia sendiri sadar…yaitu ketika dia menukar kedudukan/posisi suami istri dalam nikah yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Seorang Rasul Tuhan pernah berkata agar suami mengasihi istri seperti dirinya sendiri dan istri menghormati dan tunduk kepada suami dalam segala hal, seperti kepada Tuhan.

 Sekali lagi aku harus berkata; “Ah….!” Ini bukanlah hal mudah untuk dilakukan, apalagi kalau istri mempunyai penghasilan sendiri.Apalagi kalau income dia lebih tinggi dari suami. Apalagi (3 kali ‘apalagi’ hehehe…) istri adalah type wanita mandiri. Komplit!!! Ini bisa membuat istri merasa tidak perlu bergantung pada suami, dan bahkan cenderung meremehkan keberadaan suami. Dia akan menganggap dirinya berhak untuk mengambil segala keputusan tanpa harus berunding dengan suami. Hmm…maaf ya Sis, ini ibaratnya sebagai istri, dia sudah memenggal kepalanya sendiri.

Kita sama-sama belajar ya Sis, termasuk aku…. juga berjuang, untuk kita tahu memposisikan diri sebagai istri yang memperkenan hati Tuhan. God will help!!!

 

TERIMAKASIH GOLGOTA

29 Mar

Kemarin…

Di atas sana….aku melihat tiang itu, masih kosong

Ah…..siapa lagi penjahat dan pendosa yang akan tergantung di sana?

Tak adakah pengampunan yang dapat diberikan?

Masihkah ada kesempatan?

Hukuman itu terlalu berat…menurutku

 

Kemarin…

Di sebuah taman….jauh dari kebisingan dunia

Aku melihat Junjunganku berdoa dengan khusyuk

PeluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.

“Ya Bapa..jikalau mungkin..biarlah cawan ini lalu daripadaKu..

Tapi bukan kehendak-Ku..melainkan kehendak-Mulah yang jadi”

Terselip rasa takut di balik penundukan total pada kehendak Bapa

Beban itu memang berat

 

Kemarin…

Di antara murka, amarah dan kebencian yang tak terbendung

Aku menyaksikan Dia di sesah, dicerca, dihina dan sangat direndahkan

Belum lagi ujung cambuk dengan gerigi runcing nan tajam

Menghujam bertubi-tubi ke tubuhNya yang bergetar menahan sakit,

Membuat aku harus menutup mata dan mukaku

Tak tahan melihat tubuhNya terkoyak dan darah berceceran dimana-mana

Siksaan itu sangat dan sangat berat

 

Hari ini…

Ah…kulihat Junjunganku terpaku di atas salib itu

Hampir aku tak mengenaliNya — wajah dan tubuhNya hancur

Tak tampak rupa, dan semaraknyapun tak ada

Ia dihina dan dihindari orang

 

Salib itu seharusnya bukan untuk Dia

 

Seperti seorang pendosa… Dia tergantung di sana

Padahal, penyakit aku-lah yang ditanggungNya

Sengsara aku-lah yang dipikulNya

Dia dianiaya..ditindas…diremukkan karena kejahatanku

 

Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian…

Dia diam..dan tidak membuka mulutNya

Seperti induk domba yang kelu

Di depan orang-orang yang menggunting bulunya

Dia diam…dan tidak membuka mulutNya

 

Hari ini…

Kudengar sebuah doa pengampunan, tanpa rasa dendam dan sakit hati

“Ya Bapa..ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”

Ah…sedemikian berharganya-kah manusia di hati Dia??

Hingga raga dan perasaan Dia korbankan

Demi sebuah karya keselamatan

Untuk seorang yang bernama…diriku

 

Hari ini pula aku mengerti….

Mengampuni itu memang sangat teramat berat dan sakit

Dan…Pengampunan yang Kau sudah berikan buatku

Itu yang menjadi dasar untuk aku selalu belajar…mengampuni

 

Terimakasih Golgota

 

WANITA …… (part 4)

19 Feb

“Ibu sih enak, punya suami yang baik dan sabar. Jadi tidak ada masalah buat Ibu untuk menghormati dia”, kata seorang ibu muda yang sedang curhat tentang suaminya.
Aku hanya bisa diam sambil menatap matanya dalam-dalam. Kubiarkan dia bercerita, menumpahkan uneg-uneg hatinya, agar dia lega. Kasihan dia, karena she has nobody to talk to.

“Suami saya itu..”,lanjutnya….”galaknya ga ketulungan, kata-katanya juga sering kasar, semua keinginannya harus dituruti dan didahulukan. Lalai sedikit…, ah sudah Bu…ga enak ngomongnya. Kalau ikutin emosi, saya sudah pingin pergi saja dari rumah. Tapi kasihan anak-anak, masih kecil-kecil”. Matanya mulai memerah dan suaranya juga tersendat-sendat. “Ssstt…inget ya…cerai bukanlah cara untuk lepas dari masalah”, kataku perlahan.

Aku terdiam lagi…bukan untuk membiarkan dia melanjutkan ceritanya, tapi aku speechless, tidak tahu harus berkomentar apa. Kebayang banget apa yang dia rasakan. Sebenarnya cerita serupa di atas, sudah sering aku dengar dari beberapa teman yang lain.

Dan…sekali lagi aku harus jujur, aku tidak punya clue khusus untuk memberi mereka jalan keluar. Ah…ini yang sering membuatku merasa sangat bersalah dan sedih. Mereka datang meminta nasehat dan aku hanya bisa jadi pendengar. “Saya melawan, bisa pecah perang di rumah, tapi kalau saya lemah di depan dia, malah di injak-injak”, kata seorang teman lain, di kesempatan yang lain.

Setelah dia (Ibu muda tadi) agak ‘reda’, entah dapat ide dari mana, tiba-tiba aku nyeletuk, bagaimana kalau kita mencoba berkompromi dengan diri sendiri, berkompromi dengan hati dan pikiran kita dulu. Susah!!! Ya..pasti, itu aku tahu.

Coba ambil waktu sedikit lebih banyak untuk berdiam diri. Kalau aku bilang ambil waktu untuk berdoa, rasanya kok klasik dan standard banget. Semua juga tahu kalau lagi sedang ada masalah kita harus berdoa. Yang aku maksud di sini memang berdoa , ya…tetap berdoa, tapi.. bukan doa dengan emosi tinggi, yang minta Tuhan buka jalan, minta Tuhan menyadarkan suami, minta Tuhan membebaskan kita dari beban batin dan lain lainnya, yang semuanya intinya minta Tuhan mengabulkan apa yang kita mau.

Tapi kita mau coba untuk mulai belajar menguasai diri dan menjadi tenang, supaya kita dapat berdoa dengan hati penuh kasih, karena kasih menutup banyak sekali dosa, kata salah satu Rasul Tuhan. Instead of memohon Tuhan mengubah karakter dan sifat kasar suami, kenapa tidak mencoba mulai dari diri kita sendiri.

Aku jadi ingat kalimat “Telur sama ayam lebih dulu yang mana?”. Apakah kita mau baik pada suami kalau suami sudah lebih dulu baik pada kita? Atau … kalau kita lebih dulu baik pada suami, apakah kira-kira dia akan jadi baik pada kita?.

Aku jadi ingat lagi statement suamiku, saat kami ikut retreat pasutri, yang dia sampaikan pada salah seorang moderator,”… dari dulu sampai sekarang dia selalu menuruti kemauan saya dan selalu menganggap saya sebagai kepala keluarga, dalam situasi apapun. Hal ini membuat saya, tidak akan memperlakukan yang tidak baik, seperti marah dll, tapi saya juga akan menghormati dan memperlakukan dia sebagai pendamping untuk selamanya…”.— Aku tidak mengada-ada, tapi itu yang aku alami. Bukan untuk kesombongan, karena tidak ada yang bisa buat aku sombongkan. Masih banyak pergumulan yang harus kuperjuangkan dalam pernikahan kami. Dan aku masih harus terus belajar…..

I just want to tell you the truth, kalau kita, para wanita, mau selalu berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri lebih dahulu, maka ‘atmosphere’ damai itu juga akan bisa dirasakan oleh seluruh keluarga.

Jadi…jangan pernah berhenti berharap ya Sis…karena Tuhan memberkati orang yang mengandalkan Tuhan dan yang menaruh harapannya pada Tuhan, dan ketika dalam kesesakan kita berseru kepada Tuhan, maka Tuhan akan menjawab dengan memberi kelegaan.

Yuk…kita mulai dulu untuk menenangkan diri supaya kita dapat berdoa dengan hati penuh kasih. Selanjutnya let God do His very best kindness for us. Amen